Translate

Senin, 20 Oktober 2014

MIKROBIOLOGI RUMEN

TUGAS TERSTRUKTUR
PAKAN DAN NUTRISI RUMINANSIA


MIKROBIOLOGI RUMEN




Oleh
Nama   : Rina Aprilia
NIM    : D1E012054
Kelas   : A





KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PETERNAKAN
PURWOKERTO
2014



ABSTRAK

            Lambung ruminansia terdiri atas empat bagian, yaitu rumen, retikulum, omasum dan abomasum. Di dalam rumen ruminansia terdapat mikroorganisme yang membantu ternak untuk mencerna pakan. Jenis mikroorganisme dalam rumen terdiri atas tiga macam yakni bakteri, protozoa dan fungi. Bakteri yang ada dalam rumen kurang lebih 1010 -1011 sel pergram isi rumen. Klasifikasi bakteri rumen antara lain bakeri selulolitik untuk mencernak selulosa, bakteri amilolitik untuk mencerna amilum atau pati, bakteri proteolitik untuk mencerna protein, bakteri methanogenik untuk menghasilkan gas metan, bakteri yang memfermentasi gula untuk memfermentasikan gula sederhana, bakteri lipolitik untuk menghirolisis lipid atau lemak, bakteri hemiselulolitik untuk mencerna hemiselulosa pada pakan, dan bakteri pemanfaat asam yaitu memfermentasi produk akhir yang dihasilkan bakteri lain di dalam rumen. Protozoa rumen terbagi kedalam kelompok flagellata dan ciliata, tapi hampir semua protozoa rumen adalah protozoa ciliata. Protozoa entodinium berpengaruh positif terhadap pencernaan pakan berserat. Holotrichia dan oligotrichia secara aktif memakan bakteri di dalam rumen. Spesies protozoa di dalam rumen berubah tergantung pada makanan rumiansia, musim dan lokasi geografis. Fungsi fungi dalam rumen kurang diketahui secara pasti beberapa contihnya antara lain Oscillospira guillermondii. Ragi (yeast) terlibat dalam fermentasi gula dan pencernaan selulosa, spesiesnya yaitu Candida, Trichosporon, Rhodtoirula dan Saccharomyces. Fungsi kapang (Mould) dalam rumen sampai saat ini belum diketahui. Kapang juga jarang ditemukan di dalam rumen. Kapang yang telah diidentifikasi ada di dalam rumen adalah spesies dari Mucor dan Aspergillus.



PENDAHULUAN

Ternak ruminansia termasuk dalam ordo Artiodactyla (hewan mamalia berkuku genap) dan sub ordo Ruminantia. Menurut asal katanya, ruminansia berasal dari bahasa latin yaitu ruminae yang artinya mengunyah kembali, sehingga ruminansia juga sering disebut hewan memamahbiak atau mengunyah kembali.
Peran ternak ruminansia dalam kehidupan manusia sangat penting karena sebagai penghasil daging dan susu yang memiliki kandungan gizi lengkap bermanfaat bagi pertumbuhan, sebagai system imun dan memperbaiki sel yang rusak. Ternak juga dapat  menghasilkan produk ikutan seperti bulu, kulit, lemak, tepung darah, tepung tulang dll, selain itu juga sebagai ternak kerja tarik dan ternak kerja perah. Dibeberapa daerah, ternak ruminansia juga digunakan sebagai hiburan seperti karapan sapi dan adu domba. Peran ruminansia yang tidak kalah pentingnya adalah pemanfaatan lahan atau tanah yang tidak terpakai bagi pertanian atau perkebunan yaitu sebagai ladang penggembalaan dan fesesnya dapat digunakan sebagai pupuk atau biogas.
Ternak ruminansia merupakan ternak yang berbeda dengan ternak non ruminansia atau ternak lainnya. Hal yang membedakan yaitu ternak ruminansia mempunyai lambung jamak sedangkan ternak non ruminansia mempunyai lambung tunggal. Lambung ruminansia terdiri atas empat bagian, yaitu rumen, retikulum, omasum dan abomasum.  Selain itu, ternak ruminansia memiliki mikroorganisme di dalam rumen. Mikroorganisme inilah yang membantu pencernaan ternak ruminansia dalam memecah pakan agar dapat diserap dan digunakan oleh tubuh. Ternak ruminansia dapat mencerna serat kasar karena adanya simbiosis antara inang (ruminansia) dengan mikroorganisme rumen.
Kecernaan ruminansia tergantung populasi dan jenis mikroorganisme didalam rumen. Jenis mikroorganisme dalam rumen terdiri atas tiga macam yakni bakteri, protozoa dan fungi. Ketiga mikroba tersebut mempunyai peranan berbeda – beda dalam rumen. Namun, secara keseluruhan kehidupan ketiga macam mikroba tersebut dipengaruhi oleh nutrient yang terkandung dalam pakan. Jika ternak diberi pakan nutrient tinggi maka kehidupan populasi mikroba terjaga dengan baik, keadaan ini akan meningkatkan pertumbuhan dan produksi ternak.


PEMBAHASAN

Perkembangan rumen pada ternak ruminasia yang baru lahir tidak langsung terdapat mikroba, akan tetapi melalui beberapa tahapan. Rahmadi (2003), menjelaskan bahwa pada saat lahir ternak ruminansia merupakan hewan omnivora, dimana sebagian perutnya adalah perut sejati (abomasum). Pada saat lahir ukuran rumennya sangat kecil, kemudian berkembang dengan pesat. Proses pencernaan pada saat lahir seperti pada hewan monogastrik, kemudian rumen berkembang sehingga akhirnya mencapai kapasitas 4 – 6 kali lebih besar dari kapasitas abomasum.
Pada ternak ruminansia lahir, rumen merupakan suatu bagian yang sangat kecil dan hampir kosong. Penghisapan dan penelanan cairan (susu) menyebabkan tertutupnya eoshopagheal groove, sehingga susu tidak melewati rumen tetapi langsung ke abomasum. Rumen berkembang cepat pada ternak ruminansia yang masa pertumbuhannya dipelihara secara pastura. Pakan ternak ruminansia yang masa pertumbuhannya hanya diberi susu saja maka perkembangan rumen berjalan dengan lambat. Ternak ruminansia muda mulai memamahbiak pada umur 2 minggu apabila disediakan hijauan. Rumen berkembang paling cepat diikuti oleh reticulum, omasum dan abomasum. Kompartemen perut ini mencapai proporsi ukuran dewasa setelah ternak berumur 56 hari.
Rumen merupakan tabung besar dengan berbagai kantong yang menyimpan dan mencampur ingesta bagi fermentasi mikroba. Isi rumen pada ternak ruminansia berkisar antara 10-15% dari berat badan ternak tersebut. Kondisi dalam rumen adalah anaerobik dan mikroorganisme yang paling sesuai dan dapat hidup serta ditemukan di dalamnya. Tekanan osmosis pada rumen mirip dengan tekanan aliran darah. Temperatur dalam rumen adalah 32-42°C, pH dalam rumen kurang lebih tetap yaitu sekitar 6,8 dan adanya absorbsi asam lemak dan amonia berfungsi untuk mempertahankan pH (Aurora, 1989). Proses pencernaan dalam rumen ini sangat bergantung pada species-species bakteri dan protozoa yang berbeda dan saling berinteraksi melalui hubungan simbiosis.
            Populasi mikroba rumen tergantung dari pakan yang dikonsumsi oleh ternak. Populasi mikrobia rumen pertama kali pada ternak yang sangat muda pada dasarnya hampir sama dengan mikrobia yang ada dalam abomasum yang mengandung sejumlah besar bakteri asam laktat, streptococcus dan koliform. Nuswantara (2002), menambahkan bahwa mikroorganisme rumen tinggal didalam rumen menggunakan fasilitas yang ada didalam rumen. Dengan demikian populasi mikroorganisme rumen bergantung pada :
1)      Makanan, baik jumlah dan jenis maupun mutu dari pakan
2)      Pencampuran dan proporsi pakan
3)      Sekresi saliva
4)      Penyingkiran dan suplai zat – zat dari dinding rumen
            Karena kondisi rumen adalah anerobik maka mikroorganisme yang tinggal didalamnya adalah mikroorganisme anaerobic dan anaerob fakultatif, dengan demikian mikroorganisme yang khas untuk tinggal dirumen adalah :   harus mampu hidup dalam kondisi anerob, harus memproduksi senyawa hasil akhir seperti senyawa yang ada di rumen, dan rumen harus berisi tidak kurang dari 1 juta mikroorganisme per gram cairan rumen.
A.  BAKTERI DALAM RUMEN
            Menurut Nuswantara (2002), bakteri yang ada dalam rumen kurang lebih 1010 -1011 sel pergram isi rumen. Sebagian besar bersifat anerobik, tetapi ada juga yang ditemukan bersifat anaerob fakultatif sejumlah 107-108 sel pergram isi rumen pada beberapa ternak ruminansia. Yoyokama dan Johnson (1988) dalam Suwando (1997), mengklasifikasikan bakteri menjadi delapan kelompo berdasarkan jenis bahan yang digunakan dan hasil akhir fermentasi. Berikut contoh – contoh bakterinya :
Bakteri Selulolitik
Bakteri yang mempunyai kemampuan untuk memecah selulosa dan mampu bertahan pada kondisi yang buruk pada saat makanan yang mengandung serat kasar yang tinggi. Nuswantara (2002) menambahkan bahwa populasi bakteri selulolitik kurang lebih 5 % dari total populasi mikroorganisme dalam rumen. Jumlah populasi bakteri selulolitik akan tinggi jika ransum mengandung hijaun kasar, dan populasi bakteri selolitik akan bertambah sangat tinggi jika dalam ramsum tersebut juga ditambahkan biji - bijian. Contoh bakteri selulolitik : Bacteroides sussinogenes (bentuk batang), Ruminococcus albus (bentuk bulat), Butyrivibrio fibrisolvens, clostridium locheadii, Clostridium longisporm, Cillobacterium cellulosolvens dan Cellulomonas fimi.
Bakteri Proteolitik
Mempunyai kemampuan untuk memecah protein, asam amino dan peptida lain menjadi amonia (Orskov, 1982) . bakteri ini tidak banyak jumlahnya karena sebagian besar di dalam rumen adalah : Saccharoclastic yang memecah sakarida. Namun diketahui bahwa sejumlah bakteri didalam rumen dapat menggunakan asam amino sebagai sumber utama energinya. Mula – mula proses proteolitik dilaksanakan oleh bakteri pemakai sakarida. Tetapi 20 – 24 jam setelah di beri makan mulai terlihat bakteri proteolitik.Contoh bakterinya adalah : Bacteroides ruminocola, Selenomonas ruminantium.
Bakteri Methanogenik
Merupakan bakteri yang dapat mengkatabolisasi alkohol dan asam organik menjadi methan dan karbondioksida. Rahmadi (2003), menambahkan bakteri dalam kelompok ini menyerang asetat, propionate dan butirat, namun kegiatan ini tidak terjadi di rumen. Keberadaan bakteri ini hanya dalam jumlah yang kecil. Bakteri ini tumbuh dengan hydrogen dan CO2 sebagai sumber energy dan mengkonversikannya menjadi gas nethan dan air. Contoh: Methanobacterium formicium, Methanobrevibacter ruminantium.
Bakteri Amilolitik
Merupakan bakteri yang dapat memfermentasikan amilum. Bakteri jenis ini relatif lebih tahan terhadap perubahan pH dibandingkan dengan bakteri selulolitik, dapat bekerja pada pH 5,7-7,0 (Orskov, 1982). Bakteri ini menghidrolisis pati karena adanya enzim amilolitik yang ditemukan dalam rumen (dalam bentuk a-amilase) yang disekresikan secara ekstraseluler oleh mkrobia tertentu. Amylase yang dihasilkan tersebut merupakan metalo enzim 9ion Ca). Metalo enzim yang lain adalah P, yaitu fosforilase yang dihasilkan oleh Streptococcus bovis sehingga degradasi maltose menjadi glukosa-1-fosfat dapat menghemat energy dalam bentuk ATP. Beberapa bakteri selulolitik secara alami juga merupakan bakteri amilolitik. Produk fermentasi bakteri amilolitik adalah laktat, format, asetat, suksinat, propionate dan butirat. Contoh : Clostridium lochheaddii, Streptococcus bovis, Bacteroides amylophilus (Rahmadi, 2003).
Bakteri yang memfermentasikan gula
Bakteri yang memfermentasikan amilum, sebagian besar mampu memfermentasikan gula sederhana . Nuswantara (2002), mengungkapkan sebagian besar bakteri yang dapat menggunakan selulosa dan polisakarida lain dapat menggunakan gula (disakarida atau monosakarida). Material dari tumbuh – tumbuhan, terutama yang maish muda berisi banyak karbohidrat yang larut dalam air yang akan segera dipergunakanoleh bakteri. Sellubiosa merupakan sumber energy yang baik untuk jenis bakteri ini. Contohnya : Eurobacterium ruminantium, Lactobacillus ruminus.
Bakteri Lipolitik
Merupakan bakteri rumen yang dapat menghidrolisis lemak menjadi gliserol dan asam lemak. Hal ini dapat berlangsung karena adanya enzim lipase yang dapat memecah lemak (Tamminga dan Doreau, 1991). Produk fermentasi bakteri dalam kelompok ini adalah asam asetat, propionate, butirat dan suksinat serta gas hydrogen sulfide. Bakteri ini juga memfermentasikan gula, gliserol, ribose dan fruktosa (Rahmadi, 2003). Contohnya : Anaerovibrio livolytica, Veillonella alcalescens .
Bakteri pemanfaat Asam
Bakteri ini akan memfermentasikan produk akhir yang dihasilkan oleh bakteri lain dalam rumen. Asam – asam dalam rumen yang difermentasi antara lain asam laktat, suksinat dan format. Asam laktat akan difermentasi juga menjadi asetat, propionate atau asam lemak lain oleh bakteri. Contohnya bakterinya adalah : Selenomonas ruminantium, Megasphaera elsdenii dan Veillonella alcalescens .
Bakteri Hemiselulotitik
Karbohidrat tak terlarut dari material tanaman adalah hemiselulosa. Hemiselulosa adalah karbohidrat yang terdapat dalam tanaman yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam asam dan alkali. Hemiselulosa dicerna dalam rumen dan dihidrolisis menjadi silan (Xylan). Hemiselulosa ini terdapat dalam tanaman yang menjadi pakan ternak dalam jumlah besar. Contohnya : Ruminococcus sp, Butyrivibrio fibriosolvens. Serta ditambah beberapa contoh spesies protozoa dan jamur diantaranya :
• lsotricha intestinalis (memfermentasi gula, pati dan pektin)
• Dasytricha ruminantium (pencerna pati, maltosa, dan glukosa)
• Entodinium caudatum dan Diplodinium sp.

B.  PROTOZOA DALAM RUMEN
            Protozoa rumen telah lama diketahui, karena protozoa lebih besar dan dapat dilihat dengan mikroskop biasa (Nuswantara, 2002). Rahmadi (2003), menambahkan bahwa didalam rumen secara makroskopis dapat diidentifikasi melalui beberapa kriteria, yaitu :
a.       Menurut bentuknya, ada beberapa protozoa bertipe spherical, ovoid, ellipsoidal, elongate atau asymmetrical.
b.      Berdasarkan lokasi silia maka ada
- letak silia ada diseluruh permukaan sel
- letak silia hampir diseluruh tubuh
- silia terletak pada bagian anterior dan posterior atau silia hanya terletak di ujung anterior
c.       Ada yang mempunyai vakuola dan pula yang tidak mempunyai. Ada beberapa protozoa yang mempunyai vakuola lebih dari satu.
d.      Ada yang mempunyai operkulom da nada yang tidak.
e.       Ada yang mempunyai skeletal plate da nada yang tidak. Bentuk skeletal plate ada yang lebar, ada yang sempit.
f.       Makronukleus, ada yang berbentuk spherical, ellipsoidal, rod shape dan more complicated.
g.      Lokasi mikronukleus ada yang terketak dekat makronukleus, ada yang terletak di bagian anterior, tengah atau posterior makro nucleus.
Protozoa rumen terbagi kedalam kelompok flagellata dan ciliata, tapi hampir semua protozoa rumen adalah protozoa ciliata (Ogimoto dan Imai, 1981) dalam Thalib (2000). Didukung oleh pernyataan Rahmadi (2003), bahwa protozoa rumen utamanya terdiri dari sliliata (ciliates) dan sejumlah kecil falgelata (flagillates). Spesies utama flagelata rumen adalah Callismatix frontalis, dan Monocercomonas ruminatium. Spesies yang lain adalah Tetratrichomonas sp, Pentatrichomomnas hominis dan Monocercomonas bovis.
            Siliata termasuk dalam subkelas Euciliata dan dua ordo Holotricha dan Entodinomorph, terdapat dalam jumlah yang melimpah dalam rumen. Siliata adalah bakteri yang asimetris karena mempunyai permukaan yang berbeda. Siliata rumen tidak terdapat di alam, kecuali pada rumen dan intestine ternak herbivora.
            Tidak semua jenis protozoa mempunyai aktivitas selulolitik atau berpengaruh positif terhadap kecernaan serat, bahkan ada protozoa yang berpengaruh negatif dalam sistem pencernaan rumen. Protozoa dari sub-kelas holotrich dan Isotricha spp .menyebabkan penurunan pH rumen dan mengganggu pencernaan pakan berserat (Widyastuti, 1994). Protozoa entodinium berpengaruh positif terhadap pencernaan pakan berserat. Namun beberapa entodinium berukuran kecil dilakukan pengaruhnya terhadap pencernaan serat. Protozoa rumen berukuran besar dapat berperan sebagai predator bagi bakteri baik secara langsung maupun tidak langsung (Thalib, 2000). Didukung oleh pernyataan Rahmadi (2003), bahwa banyak bukti menunjukkan bahwa banyak Holotrichia dan oligotrichia secara aktif memakan bakteri di dalam rumen. Spesies protozoa di dalam rumen berubah tergantung pada makanan rumiansia, musim dan lokasi geografis.
            Masruroh (2013), berpendapat bahwa keberadaan protozoa dalam rumen sering mengganggu ekosistem bakteri, karena mempunyai sifat memangsa bakteri dan secara negatif mempengaruhi proses pencernaan serat pakan, oleh karena itu perlu dilakukan defaunasi protozoa. Salah satu agen defaunasi yang dapat digunakan untuk menekan populasi protozoa adalah saponin yang merupakan hasil metabolisme sekunder tanaman. Saponin dapat mengganggu perkembangan populasi protozoa karena saponin mampu membuat suatu ikatan dengan sterol pada permukaan membran sel protozoa. Hal tersebut menyebabkan membran sel protozoa pecah, sel mengalami lisis dan akhirnya mengakibatkan kematian pada protozoa.

C.  FUNGI DALAM RUMEN
            Ukuran oscillospora lebih besar daripada bakteri. Struktur selnya memperlihatkan adanya filament – filament yang membagi sel. Mikrobia jenis ini tidak dapat dikulturkan di luar rumen. Sampai saat ini sekarang ini masih diduga sebagai ragi (yeast), tetapi struktur dinding sel dan komposisinya mirip bakteri gram negatif. Organisme ini dinamakan sebagai Oscillospira guillermondii dan hanya terdapat dalam rumen.
            Ragi (yeast) peranannya sampai saat ini belum jelas, tetapi organisme ini terlibat dalam fermentasi gula dan pencernaan selulosa. Sembilan spesies berasal dari empat genera yang pernah diamati di dalam rumen, yaitu Candida, Trichosporon, Rhodtoirula dan Saccharomyces. Fungsi kapang (Mould) dalam rumen sampai saat ini belum diketahui. Kapang juga jarang ditemukan di dalam rumen. Kapang yang telah diidentifikasi ada di dalam rumen adalah spesies dari Mucor dan Aspergillus.
            Fungsi utama mikrobia rumen adalah 1) mencerna selulosa, pati, pectin, silan, pentosa dan karbohidrat terlarut dalam ransum; 2) mencerna protein dan senyawa nitrogen dalm ransum; 3) mensintesis protein dan asam amino yang berasal dari ammonia dan 4) mensintesis vitamin yang dibutuhkan oleh induk semang (host) dan spesies mikrobia.


KESIMPULAN

Proses pencernaan pada saat lahir pada hewan ruminansia seperti pada hewan nonruminasia, kemudian rumen berkembang sehingga akhirnya mencapai kapasitas 4 – 6 kali lebih besar dari kapasitas abomasum. Rumen berkembang cepat pada ternak ruminansia yang masa pertumbuhannya dipelihara secara pastura. Pakan ternak ruminansia yang masa pertumbuhannya hanya diberi susu saja maka perkembangan rumen berjalan dengan lambat. Ternak ruminansia muda mulai memamahbiak pada umur 2 minggu apabila disediakan hijauan. Rumen berkembang paling cepat diikuti oleh retikulum, omasum dan abomasum.
Mikroorganisme didalam rumen terdapat tiga masam yaitu bakteri, protozoa dan fungi. Fungsi bakteri adalah mencerna pakan, sesuai dengan jenis bakteri pakan yang dicerna berbeda – beda. Fungsi utama mikrobia rumen adalah mencerna selulosa (bakteri selulolitik, pati (bakteri amilolitik), pectin, silan, pentosa dan karbohidrat terlarut dalam ransum; mencerna protein (bakteri proteolitik) dan senyawa nitrogen dalm ransum, mensintesis protein dan asam amino yang berasal dari ammonia dan mensintesis vitamin yang dibutuhkan oleh induk semang (host) dan spesies mikrobia.
 
DAFTAR PUSTAKA

Masruroh, Siti, Caribu dan Suwarno. 2013.”Populasi Protozoa Dan Produksi Gas Total dari Rumen Kambing Perah Yang Pakannya Disuplementasi Ekstrak Herbal Secara In Vitro”. Jurnal Ilmiah Peternakan 1(2): 420- 429.

Nuswantara, Limbang Kurniawan.2002.Ilmu Makanan Ternak Ruminansia (Sapi Perah).Jurusan Nutrisi dan Makanan ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, Semarang.

Orskov, O .R . 1982 . Protein Nutrition In Rument. Academic Press London.

Rahmadi, Didiek.2003. Ruminologi Dasar.Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan, universitas Diponegoro, semarang.

Suwandi.1997. “Peranan Mikroba Rumen Pada Ternak Ruminansia”. Lokakarya Fungsional Non Penelitian. Balai Penelitian Ternak Ciawi, P .O. Box 221, Bogor.

Thalib, Amlius.2000.”Identifikasi Morfologis dan Uji Aktivitas Mikroba Rumen dari Hewan – hewan Ruminansia yang telah Teradaptasi pada Substrat Selulosa dan Hemiselulosa”.Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner.Balai Penelitian Ternak, Bogor.

Widyastuti, Y.1994.”Pengaruh adaptasi dan transfer terhadap aktivitas kecernaan Ruminococcus flave faciens 17”. Pros. Seminar Hasil Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi II . Cibinong. pp. 313-319.


 Terima kasih sudah berkunjung semoga bermanfaat ^_^




1 komentar:

januar syakbani mengatakan...

syukron mbak. izin copas :)