:: looking for hope, wisdom, prosperity and glory :: Sebuah tulisan, sebuah makna, pertemuan antara inspirasi, pengetahuan dan ungkapan hati.
Translate
Jumat, 27 Desember 2013
Taylor Swift - Back To December
Song Title: Back to December
Artist: Taylor Swift
I’m so glad you made time to see me
How’s life, tell me how’s your family
I haven’t seen them in a while
You’ve been good, busier then ever
We small talk, work and the weather
Your guard is up and I know why
‘Cause the last time you saw me
Is still burned in the back of your mind
You gave me roses and I left them there to die
(Chorus)
So this is me swallowing my pride standing in front of you saying I’m sorry for that night
And I’d go back to December all the time
It turns out freedom ain’t nothing but missing you Wishing I’d realized what I had when you were mine
I’d go back to December turn around and make it all right
I go back to December all the time
These days I haven’t been sleeping
Staying up playing back myself leaving
When your birthday passed and I didn’t call
And I think about summer, all the beautiful times
I watched you laughing from the passenger side and realized I loved you in the fall
And then the cold came, the dark days when fear crept into my mind
You gave me all your love and all I gave you was goodbye
(Chorus)
So this is me swallowing my pride standing in front of you saying I’m sorry for that night
And I’d go back to December all the time
It turns out freedom ain’t nothing but missing you Wishing I’d realized what I had when you were mine
I’d go back to December turn around and make it all right
I go back to December all the time
I miss your tan skin, your sweet smile, so good to me, so right
And how you held me in your arms that September night,
The first time you ever saw me cry
Maybe this is wishful thinking
Probably mindless dreaming
If we loved again I swear I’d love you right
I’d go back in time and change it but I can’t
So if the chain is on your door, I understand
(Chorus)
But this is me swallowing my pride standing in front of you saying I’m sorry for that night
And I’d go back to December all the time
It turns out freedom ain’t nothing but missing you Wishing I’d realized what I had when you were mine
I’d go back to December turn around and make it all right
I go back to December all the time
Taylor Swift - Love Story
"Love Story"
We were both young when I first saw you.
I close my eyes and the flashback starts:
I'm standing there on a balcony in summer air.
See the lights, see the party, the ball gowns.
See you make your way through the crowd
And say, "Hello,"
Little did I know...
That you were Romeo, you were throwing pebbles,
And my daddy said, "Stay away from Juliet"
And I was crying on the staircase
Begging you, "Please don't go"
And I said...
Romeo, take me somewhere we can be alone.
I'll be waiting; all that's left to do is run.
You'll be the prince and I'll be the princess,
It's a love story, baby, just say, "Yes."
So I sneak out to the garden to see you.
We keep quiet 'cause we're dead if they knew
So close your eyes... escape this town for a little while.
Oh, oh.
'Cause you were Romeo – I was a scarlet letter,
And my daddy said, "Stay away from Juliet."
But you were everything to me,
I was begging you, "Please don't go."
And I said...
Romeo, take me somewhere we can be alone.
I'll be waiting; all that's left to do is run.
You'll be the prince and I'll be the princess.
It's a love story, baby, just say, "Yes."
Romeo, save me, they're trying to tell me how to feel.
This love is difficult but it's real.
Don't be afraid, we'll make it out of this mess.
It's a love story, baby, just say, "Yes."
Oh, oh.
I got tired of waiting
Wondering if you were ever coming around.
My faith in you was fading
When I met you on the outskirts of town.
And I said...
"Romeo, save me, I've been feeling so alone.
I keep waiting for you but you never come.
Is this in my head? I don't know what to think."
He knelt to the ground and pulled out a ring and said...
"Marry me, Juliet, you'll never have to be alone.
I love you, and that's all I really know.
I talked to your dad – go pick out a white dress
It's a love story, baby, just say, "Yes."
Oh, oh, oh, oh, oh.
'Cause we were both young when I first saw you.
We were both young when I first saw you.
I close my eyes and the flashback starts:
I'm standing there on a balcony in summer air.
See the lights, see the party, the ball gowns.
See you make your way through the crowd
And say, "Hello,"
Little did I know...
That you were Romeo, you were throwing pebbles,
And my daddy said, "Stay away from Juliet"
And I was crying on the staircase
Begging you, "Please don't go"
And I said...
Romeo, take me somewhere we can be alone.
I'll be waiting; all that's left to do is run.
You'll be the prince and I'll be the princess,
It's a love story, baby, just say, "Yes."
So I sneak out to the garden to see you.
We keep quiet 'cause we're dead if they knew
So close your eyes... escape this town for a little while.
Oh, oh.
'Cause you were Romeo – I was a scarlet letter,
And my daddy said, "Stay away from Juliet."
But you were everything to me,
I was begging you, "Please don't go."
And I said...
Romeo, take me somewhere we can be alone.
I'll be waiting; all that's left to do is run.
You'll be the prince and I'll be the princess.
It's a love story, baby, just say, "Yes."
Romeo, save me, they're trying to tell me how to feel.
This love is difficult but it's real.
Don't be afraid, we'll make it out of this mess.
It's a love story, baby, just say, "Yes."
Oh, oh.
I got tired of waiting
Wondering if you were ever coming around.
My faith in you was fading
When I met you on the outskirts of town.
And I said...
"Romeo, save me, I've been feeling so alone.
I keep waiting for you but you never come.
Is this in my head? I don't know what to think."
He knelt to the ground and pulled out a ring and said...
"Marry me, Juliet, you'll never have to be alone.
I love you, and that's all I really know.
I talked to your dad – go pick out a white dress
It's a love story, baby, just say, "Yes."
Oh, oh, oh, oh, oh.
'Cause we were both young when I first saw you.
Sabtu, 14 Desember 2013
LAPORAN ILMU BAHAN PAKAN
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
ILMU BAHAN PAKAN
Oleh:
RINA APRILIA
D1E012054
KELOMPOK 50
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PETERNAKAN
LABORATORIUM ILMU BAHAN MAKANAN TERNAK
PURWOKERTO
2013
I. PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Alam
telah menyediakan berbagai jenis tanaman yang melimpah dan berpotensi untuk
dijadikan sebagai bahan pakan ternak. Hijauan adalah seluruh macam tanaman yang
dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan. Terdapat beberapa hijauan yakni
gramineae, leguminosa, browse kelompok ramban dan limbah pertanian. Bahan pakan
selain dari hijauan juga berasal dari konsentrat. Seiring perkembangan zaman
yang semakin modern banyak produk sampingan dari bahan makanan manusia dapat
digunakan untuk bahan pakan ternak. Sehingga apabila tidak diberikan pedoman
dalam pemberian nama bahan pakan, maka dapat menimbulkan keraguan.
Nomenklatur
atau pemberian nama bahan pakan mempunyai maksud untuk mengoreksi
ketidaktepatan dalam pemberian nama bahan pakan, selain itu juga untuk
menyatukan nama bahan pakan secara internasional karena diduga setiap daerah
atau Negara mempunyai beragam sebutan untuk suatu bahan pakan yang sama.
Nomenklatur juga perlu diketahui untuk mengidentifikasi suatu bahan pakan.
Mengidentifikasi berarti dapat mengetahui secara rinci dari bahan pakan
tersebut.
Mengidentifikasi
bahan pakan sebelumnya bahan pakan tersebut harus dianalisis terlebih dahulu.
Dalam menganalisis tentu membutuhkan alat yang menunjang. Oleh karena itu
sebelum praktikum perlu dilakukan pengenalan alat yang ada di laboratorium,
agar nantinya praktikan dapat mengetahui fungsi dari alat yang digunakan.
Dengan mengetahui bentuk fisik dn fungsi dari masing – masing alat diharapkan
dapat mengefisienkan acara praktikum.
Bahan
pakan dikatakan mempunyai kualitas yang bagus apabila komponen yang terkandung
didalamnya terdiri atas berbagai macam zat nutrisi lengkap. Nutrisi yang
lengkap pada bahan pakan mempunyai kolerasi terhadap produktifitas ternak itu
sendiri. Sebagai contoh bahan pakan yang bagus mempunyai kadar lemak, kadar
protein, kadar serat kasar, mineral, vitamin, yang dibutuhkan oleh tubuh,
terutama pada ternak untuk pertumbuhan, pertambahan bobot, produksi susu pada
sapi perah, dan lain sebagainya.
Bahan
pakan harus dianalisis secara kimia, hal ini diperlukan untuk mengetahui
nutrisi penyusun bahan pakan. Menganalisis berarti mengurai dari satu kesatuan
bahan pakan menjadi komponen – komponen penyusunnya. Oleh karena komponen
penyusunnya adalah komponen kimia maka analisisnya disebut analisis kimia.
Komponen yang dimaksud adalah nutria yang terdapat dalam bahan pakan. Apabila
telah diketahui komponen penyusunnya, maka kita dapat menduga kualitas bahan
pakan yang dimaksud.
Pengujian
bahan pakan dapat dilakukan beberapa cara, dua diantaranya adalah analisis
proksimat dan analisis Van_Soest. Analisis proksimat dilakukan untuk mengetahui
kandungan bahan pakan, seperti kadar air, kadar abu, protein kasar, serat
kasar, lemak kasar, kadar bahan organic dan BETN. Sedangkan analisis Van_Soest
dilakukan untuk hijauan yaitu untuk mengetahui sejauh mana hijaun tersebut
dapat dicerna oleh ternak karena analisis ini menganalisis karbohidrat
dan protein yang mudah dicerna. Analisis proksimat memiliki manfaat sebagai
penilaian terhadap kualitas bahan pakan. Selain itu, sebagai analisis formula
ransum yang baik. Kemudian kita bisa menyusun formula ransum baru dengan
menambahkan zat pakan yang diperlukan.
Sifat
fisik merupakan hal penting dalam industri pakan atau usaha ternak. Efisiensi
proses penanganan, pengolahan dan penyimpanan dalam usaha atau industri pakan
tidak hanya membutuhkan informasi tentang komposisi kimia bahan dan nutrisi
saja tetapi juga meliputi sifat fisik sehingga kerugian selama pengolahan pakan
dapat dihindari. Karakteristik fisik bahan dapat mencakup aspek yang sangat
luas mulai dari sifat – sifat fisik itu sendiri seperti ukuran, bentuk,
struktur, tekstur dan warna.
Pengetahuan
sifat fisik dan termal butiran penting dalam masalah panas dan pemindahan massa
bahan, termasuk penyimpanan butiran, pengeringan, aerasi, pendinginan dan
pengolahan. Proses penggilingan dan pembakaran akan berpengaruh terhadap
karakteristik produk, seperti ukuran dan bentuk partikel, berat jenis dan
lainnya. Dengan menguji fisik dari bahan pakan dapat memberikan kemudahan yakni
dapat memperkirakan waktu pencampuran ransum, mempermudah pengemasan, efisiensi
tempat dan waktu maupun dalam penggudangan.
Asam
lemak bebas bebas ditentukan sebagai kandungan asam lemak yang terdapat paling
banyak dalan miyak tertentu. Asam lemak bebas atau free fatty acid terdapat
dalam plasma. Asam lemak bebas mengandung gugus karboksil dan rantai tidak
bercabang. Asam lemak terdiri atas lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Asam
lemak bebas termasuk asam lemak tidak jenuh, karena memiliki rantai rangkap.
Mengetahui
besarnya FFA pada suatu bahan pakan sangat penting untuk diketaui. Dengan
mengetahui kadar asam lemak bebas bahan pakan, maka dapat diketahui waktu lamanya
penyimpanan yang efektif. Karena kadar asam lemak bebas (FFA) yang tinggi untuk
bahan pakan makan kualitasnya jelek, yakni mudah tengik. Mudah tengiknya
disebabkan rantai rangkap dari asam lemak bebas mudah untuk berikatan dengan
oksigen (O2).
Ternak
tiap harinya memerlukan energi untuk beraktivitas setiap hari. Energi tersebut
diperoleh dari pakan yang dimakannya. Energi yang dihasilkan dari sutau bahan
pakan berasal dari tiga nutrient pakan, yaitu protein, lemak dan karbohidrat.
Dari ketiga nutrient tersebut lemak mempunyai nutrient paling tinggi dalam
menyumbang sumber energi. Pada hewan non ruminansia ternak kurang lebih
memerlukan 2.800-3.200 kkal untuk memenuhi kebutuhan merombak lemak dijaringan
adipose untuk dijadika energi.
Bila
suatu nutrient organic dibakar semua hinga menghasilkan oksidasi (CO2,
H2, gas dan oksidasi lain) maka panas yang dihasilkan disebut energi
bruto. Untuk menentukan besarnya energi bruto atau gross energy dari suatu
nutrient atau bahan pakan dapat digunakan bom kalorimeter. Besarnya nilai
energi bruto dari bahan pakan tidaklah sama, tergantung komposisi yang
terkandung dalam bahan pakan tersebut. Energi bruto digunakan untuk menghitung
besarnya energi yang terpakai.
1.2.
Waktu dan Tempat
Praktikum Ilmu Bahan Pakan dilaksanakan
pada hari Kamis - Sabtu, 21-23 November 2013 pukul 15.30 WIB s.d. selesai, di
Laboratorium Ilmu Bahan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas
Jenderal Soedirman, Purwokerto.
II. TUJUAN DAN MANFAAT
2.1. Tujuan
1.
Mahasiswa dapat
mengetahui jenis bahan pakan maupun hijauan dan konsentrat serta tata nama atau
nomenklatur bahan pakan.
2.
Mahasiswa
mengetahui bentuk alat dan fungsinya yang digunakan dalam analisis bahan pakan.
3.
Mahasiswa dapat
mengetahui kandungan zat dalam bahan pakan yang akan diuji menggunakan analisis
proksimat.
4.
Mahasiswa dapat
mengetahui fungsi analisis fisik bahan pakan yang meliputi sudut tumpukan, daya
ambang, berat jenis dan luas permukaan spesifik bahan pakan.
5.
Mahasiswa dapat
mengetahui kandungan asam lemak bebas pada suatu bahan dan prosedur uji FFA.
6.
Mahasiswa dapat
mengetahui besarnya energi bruto dari suatu bahan dan prosedur pengukuran
Gross Energy.
2.2. Manfaat
1.
Mengetahui
nomenklatur bahan pakan akan lebih mudah dalam mengidentifikasi komposisi yang
terkandung dalam bahan pakan.
2.
Menambah
pengetahuan tentang alat-alat laboratorium dan mengetahui fungsi alat yang
digunakan dalam analisis bahan pakan
3.
Mengetahui
kandungan zat yang terdapat dalam bahan pakan sehingga dapat mengetahui
kualitas bahan pakan yang dianalisis.
4.
Memberikan
kemudahan dalam pengetahuan karakteristik fisik bahan pakan yang dapat
digunakan sebagai indikator dalam pengelolaan pakan.
5.
Menambah
pengetahuan kandungan lemak bebas pada suatu bahan dan mengetahui prosedur FFA
6.
Menambah
pengetahuan tentang Gross Energy dan
prosedur pengukurannya.
III.
TINJAUAN PUSTAKA
3.1.
Nomenklatur Bahan Pakan dan Pengenalan Alat
Pakan
adalah bahan yang dimakan dan dicerna oleh seekor hewan yang mampu menyajikan
hara atau nutrien yang penting untuk perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan,
reproduksi (birahi, konsepsi, kebuntingan) serta laktasi (produksi susu). Bahan
makanan ternak adalah suatu bahan
yang dapat dimakan oleh hewan yang mengandung energi dan zat gizi (atau
keduanya) didalam makan tersebut (Hartadi, 1990). Sedangkan menurut
Rahardjo (2002), bahan pakan yaitu
segala sesuatu yang dapat dimakan hewan (ternak) yang mengandung unsur gizi dan
atau energi, yang tercerna sebagian atau seluruhnya dengan tanpa mengganggu
kesehatan hewan yang bersangkutan.
Bahan
pakan dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu konsentrat dan bahan berserat.
Konsentrat (produk bijian atau butiran) serta bahan berserat (jerami atau
rumput) merupakan komponen atau penyusun ransum. Suatu kombinasi bahan pakan
seperti yang tertera dalam mengandung unsur-unsur esensial (nutrien) untuk
kebutuhan seekor hewan (Srigandono, 1985).
Hijauan adalah bahan makanan yang
mengandung serat kasar 18% atau lebih. Angka batasan ini hanya sekedar patokan
penolong, karena didalam praktek sering didapatkan hal-hal yang berada diluar
batasan ini kualitas hijauan sangat bervariasi yang disebabkan oleh beberapa
perbedaan dalam spesies, umur, kesuburan tanah, sumber-sumber air dan lain
sebagainya (Parakkasi, 1983).
Seiring
perkembangan zaman yang semakin modern banyak produk sampingan dari bahan
makanan manusia dapat digunakan untuk bahan pakan ternak. Sehingga apabila
tidak diberikan pedoman dalam pemberian nama bahan pakan, maka dapat
menimbulkan keraguan. Nomenklatur berisi
tentang peraturan untuk pencirian atau tatanama bahan pakan. Setiap
ciri atau nama internasional dari suatu bahan pakan ditentukan dengan
menggunakan pedoman pencirian dari satu atau lenih dari enam faset (Sutardi,
2012).
Pedoman
perincian dari satu atau lebih dari enam faset dengan urutan sebagai berikut:
1. Asal
mula, yakni menjelaskan asal mula bahan pakan tersebut.
2. Bagian
yang dimakan ternak, menjelaskan bagian mananya dari bahan asal yang dimakan
ternak.
3. Proses,
menjelaskan proses yang dialami bagian pakan sebelum diberikan pada ternak.
4. Tingkat
kedewasaan, menjelaskan tingkat umur bahan pakan yang diberikan kepada ternak.
5. Defoliasi,
hanya digunakan untuk bahan pakan hijauan dan biasanya berkaitan dengan
perkiraan kandungan nutrient dari bahan pakan tersebut.
6. Grade,
yaitu tanggungan nutrient yang baik pada bahan pakan (Sutardi, 2012).
Alat laboratorium kimia merupakan
benda yang dapat dipergunakan dalam kegiatan di laboratorium kimia yang dapat
dipergunakan berulang-ulang. Contoh alat laboratorium kimia : pembakar spirtus,
thermometer, tabung reaksi, gelas ukur dan lain sebagainya. Alat yang digunakan
secara tidak langsung didalam praktikum merupakan alat bantu laboratorium,
seperti pemadam kebakaran dan kotak
pertolongan pertama.
Pengenalan alat bertujuan untuk menentukan tetapan hasil
analisis kimia yang akurat. Pengunaan alat-alat laboratorium antara lain untuk
penimbangan, penyaringan, pengukuran volume cairan, pemijaran dan pengabuan,
dan pengeringan (Sudarmadji, 1997). Sedangkan menurut Hartati (2002), penggunaan alat-alat laboratorium antara lain sebagai
alat penimbangan, pengukuran volume cairan, melarutkan zat padat, penyaringan, pemijaran dan pengabuan serta penyaringan. Penimbangan
menggunakan timbangan, penyaringan menggunakan kertas saring, dan corong buncher, pengaturan volume cairan menggunakan gelas ukur, pipet
ukur, pipet volume, labu ukur dan buret. Pemijaran menggunakan tanur dan cara sederhana pengeringan menggunakan oven.
Alat
yang terbuat dari gelas salah satunya adalah labu erlenmeyer, digunakan untuk
menganalisis bahan. Labu ini hendaknya berkapasitas 50, 100 dan 250 ml, dan
yang mempunyai bentuk griffin sangatlah berguna dalam analisis kuantitatif. Bom kalorimeter merupakan alat untuk
mengukur besarnya energi yang terdapat dalam bahan pakan, bom kalorimeter
memiliki bagian-bagian
seperti bom, statif, adigator, bucket, jucket dan lubang oksigen.
3.2.
Analisis Proksimat
Analisis proksimat kali pertama dikembangkan di Weende Experiment Station Jerman oleh
Hennerberg dan Stokman, oleh karenanya analisis ini sering juga dikenal dengan Analisis Weende. Analisis proksimat
menggolongkan komponen yang ada pada bahan pakan berdasarkan komposisi kimia
dan fungsinya, yaitu: air (moisture),
abu (ash), protein kasar (crude protein), lemak kasar (ether extract), serat kasar (crude fiber) dan bahan ekstrak tanpa
nitrogen (nitrogen free extract).
Analisis proksimat menggolongkan vitamin berdasarkan kelarutannya. Vitamin yang
larut di dalam air dimasukkan ke dalam fraksi air, sedang yang larut dalam
lemak dimasukan ke dalam lemak kasar (Soejono, 2004).
Air
yang dimaksud dalam analisis proksimat adalah semua cairan yang menguap pada
pemanasan selama beberapa waktu pada suhu 1050 C dengan tekanan
udara bebas sampai sisanya yang tidak menguap mempunyai bobot tetap. Kadar
dalam bahan makanan terdapat dalam bentuk air terikat dan air bebas. Air
terikat sangat sukar dihilangkan dngan cara penguapan atau pengeringan
(Yuliastanti, 2001). Penghitungan kadar air yakni banyaknya air yang terkandung pada suatu bahan makanan
dapat diketahui jika bahan tersebut dipanaskan atau dikeringkan pada temperatur
tertentu. Ukuran berat sebelum dan setelah dipanaskan dicari selisihnya maka
akan sama dengan berat air (Lubis, 1993).
Anggorodi (1991), menyatakan bahwa zat-zat mineral
sebagai suatu golongan dalam pakan atau jaringan hewan ditentukan dengan
membakar zat organik dan kemudian menimbang ini disebut kadar abu. Abu hasil
pembakaran dapat digunakan sebagai titik tolak untuk determinasi presentase zat
tertentu yang terdapat pada bahan pakan. Kadar abu bahan pakan menunjukan
kualitas dari bahan pakan tersebut karena semakin tinggi bahan organik pada
pakan berarti bahan pakan tersebut banyak mengandung karbon. Sedangkan menurut
Soejono (2004), meskipun abu terdiri dari komponen mineral, namun bervariasinya
unsur mineral dalam pakan asal tanaman menyebabkan abu tidak dapat dipakai
sebagai indeks untuk menentukan jumlah unsur mineral tertentu.
Istilah lemak kasar menggambarkan bahwa zat dimaksud
bukan hanya mengandung senyawa yang tergolong ke dalam lemak tetapi termasuk
senyawa lain. Lemak mempunyai konsentrasi energi paling tinggi dibanding
nutrien pakan lainnyakarena mempunyai struktur intra molekuler karbon dan
hidrogen yang lebih banyak sehingga lemak merupakan sumber kalori yang penting
disamping berperan sebagai pelarut vitamin. Defisiensi lemak pada ransum akan
mengakibatkan gangguan pencernaan, penurunan efisiensi pakan, gangguan
reproduksi dan laktasi, kulit bersisik, bulu rontok, pertumbuhan suboptimal,
dan kematian. Kelebihan lemak pada ransum akan mengakibatkan lemak tubuh
menjadi lunak dan kualitas karkas menurun (Tillman, 1989).
Protein merupakan salah satu zat makanan yang berperan
dalam penentuan produktivitas ternak. Jumlah protein dalam pakan ditentukan
dengan kandungan nitrogen bahan pakan melalui metode kjeldahl yang kemudian
dikali dengan faktor protein : 6,25. Angka 6,25 diperoleh dengan asumsi bahwa
protein mengandung 16% nitrogen. Kelemahan analisis proksimat untuk protein
kasar itu sendiri terletak pada asumsi dasar yang digunakan. Pertama,
diasumsikan bahwa semua nitrogen bahan pakan merupakan protein padahal
kenyataannya tidak semua nitrogen berasal dari protein dan kedua, bahwa kadar
nitrogen protein 16%, tetapi kenyataannya kadar nitrogen protein tidak selalu
16% (Soejono, 2004).
Penentuan kadar protein melalui metode kjeldahl dilakukan
melalui tahap sebagai berikut :
1. Proses destruksi (oksidasi), perubahan N protein
menjadi amonium sulfat ((NH4)2 SO4). Sampel
dipanaskan dengan asam sulfat (H2SO4) pekat dan
katalisator yang akan memecah semua ikatan N dalam bahan pakan menjadi amonium
sulfat kecuali ikatan N=N, NO, dan N2. CO dan H2O terus
menguap. SO2 yang terbentuk sebagai hasil reduksi dari sebagian asam
sulfat juga menguap. Dalam reaksi ini digunakan katalisator selenium (Hg/Cu).
Destruksi dihentikan jika larutan barwarna hijau jernih. Zat organik + H2SO4
CO2 + H2O + (NH4)2 SO4 +
SO2
2. Proses
Destilasi (Penyulingan). Setelah larutan menjadi hijau jernih, labu destruksi
didinginkan kemudian larutan dipindahkan ke labu destilasi dan diencerkan
dengan aquades. Pengenceran dilakukan untuk mengurangi reaksi yang hebat jika
larutan ditambah alkali. Penambahan alkali (NaOH) menyebabkan (NH4)2SO4
akan melepaskan amoniak (NH3). Hasil sulingan uap NH3
dan air ditangkap oleh larutan H2SO4 yang terdapat dalam
labu erlenmeyer dan membentuk senyawa (NH4)2SO4 kembali.
Penyulingan dihentikan bila semua N sudah tertangkap oleh asam
sulfat dalam labu erlenmeyer. NH3 + H2SO4
(NH4)2SO4
+ H2SO4
3. Proses titrasi, kelebihan H2SO4
yang tidak digunakan untuk menangkap N dititrasi dengan NaOH. Titrasi
dihentikan jika larutan berubah dari biru ke hijau.Hasil praktikum kadar protein kasar didapat sebesar
3,053%.
Serat
berisi selulosa, hemiselulosa dan lignin. Ini adalah komponen dalam dinding sel
tanaman dan dapat dicerna oleh hewan-hewan. Sampel yamg sudah bebas lemak dan
telah disaring dipakai untuk mendapatkan serat kasar. Sampel bila ditambah
1,25% larutan asam sulfat dan dipanaskan ± 30 menit, kemudian residu disaring.
Endapan yang didapat ditambah 1,25% larutan NaOH dan dipanaskan 30 menit,
disaring dan kemudian endapan yang dicuci, dikeringkan dan ditimbang, lalu
dibakar dan abunya ditimbang. Perbedaan antara berat endapan sebelum dibakar
dan berat abu disebut serat kasar (Musfiroh, 1999).
Kelemahan
analisis proksimat adalah karena bersifat perkiraan, jadi tidak terlalu akurat.
Analisis proksimat disempurnakan oleh analisis Van Soest mampu membedakan
karbohidrat yang bermanfaat dari yang kurang bermanfaat. Mampu membedakan
protein yang larut dalam pepsin (makin banyak kadar ADEK, semakin banyak
protein bahan makanan yang tidak dapat dicerna oleh pepsin (Tillman, 1989).
3.3.
Uji Fisik Bahan Pakan
Sifat
fisik merupakan hal penting dalam industri pakan atau usaha ternak. Efisiensi
proses penanganan, pengolahan dan penyimpanan dalam usaha atau industri pakan
tidak hanya membutuhkan informasi tentang komposisi kimia bahan dan nutrisi
saja tetapi juga meliputi sifat fisik sehingga kerugian selama pengolahan pakan
dapat dihindari (Yuliastanti, 2001). Contohnya seperti efisien dalam
penggudangan pengemasan dalam suatu badan usaha, khususnya usaha dalam bidang
pakan ternak.
Sifat fisik pakan adalah salah satu
faktor yang sangat penting untuk diketahui. Karakteristik fisik bahan dapat
mencakup aspek yang sangat luas mulai dari sifat-siat fisik itu sendiri seperti
ukuran, bentuk, struktur, tekstur, warna, sifat-sifat optik dan penampakan.
Kemudian sifat-sifat yang menyangkut dengan panas, seperti panas jenis, panas
laten, konduktifitas dan difusi panas. Selain itu masih terdapat sifat-sifat
yang berhubungan dengan kelistrikan seperti konduktifitas listrik, konstanta
dielektrik dan sebagainya.
Karakteristik atau sifat bahan
makanan ternak sangat berpengaruh dalam proses pengolahan bahan pakan. Banyak
jenis pakan lokal yang ketersediaannya cukup potensial dan telah
direkomendasikan oleh ahli nutrisi dalam bentuk formula ransum yang lebih
ekonomis daripada formula yang menggunakan bahan baku impor, akan tetapi
penggunaan bahan baku lokal ini sering menimbulkan kesulitan bagi pengelola
pabrik pakan yang menangani dan memprosesnya karena adanya perbedaan fisik
(Mujanisa, 2007).
Sifat fisik pakan adalah salah satu
faktor yang sangat penting untuk diketahui. Keefisienan suatu proses
penanganan, pengolahan dan penyimpanan dalam industri pakan tidak hanya
membutuhkan informasi tentang komposisi kimia dan nilai nutrisi saja, tetapi
juga menyangkut sifat fisik, sehingga ketinggian akibat kesalahan penanganan
bahan pakan (Jaelani, 2007).
Keberhasilan teknologi pakan,
homogenitas pengadukan ransum, laju aliran pakan dalam organ pencernaan, proses
absorbsi dan deteksi kadar nutrien semuannya terkait dengan sifat fisik pakan.
Sifat fisik dan tekstur menentukan parameter yang penting untuk merancang alat
proses (pengolahan), memenuhi syarat pengemasan, serta kondisi penyimpanan
(Ali, 2006).
Menurut Chuang dan Lee (1985) dalam
Jaelani (2007) bahwa sifat fisik psksn adalah salah satu faktor yang sangat
penting untuk diketahui. Pengetahuan sifat fisik dan thermal butiran penting
dalam masalah panas dan pemindahan masa bahan, termasuk penyimpanan butiran,
pengeringan, aerasi, pendinginan dan pengolahan. Proses penggilingan dan
pembakaran akan berpengaruh terhadap karakteristik produk, seperti ukuran dan
bentuk partikel, berat jenis dan lainnya.
3.4.
Free Fatty Acid (FFA)
Kandungan asam lemak bebas dalam biji-bijian berminyak atau
dalam minyak yang dihasilkan dapat bervariasi. Oleh karena itu, pengukuran
besarnya asam lemak bebas total maupun asam lemak bebas individual perlu
dikerjakan untuk dapat menerangkan penyebab bervariasinya kandungan asm lemak
tersebut (Adnan, 1989).
Asam lemak digolongkan sebagai asam lemak jenuh dan asam
lemak tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh mempunyai dua atau lebih molekul yang
hilang. Molekul-molekul hidrogen yang hilang tersebut dapat diisi melalui suatu
proses yang disebut hidrogenisa. Asam lemak tidak jenuh mempunyai titik didih
yang rendah dan lebih relatif dari pada asam lemak jenuh (Anggorodi, 1979).
Asam lemak jenuh mempunyai formula
umum CnH2nO2 dan titik didihnya meninggi
sesuai dengan atom karbon yang meninggi. Diantara asam-asam lemak, asam asetat
mempunyai peranan penting sebagai zat antara dari cyclus dimana karbohidrat,
lemak dan protein dapat saling diubah atau digunakan sebagai sumber energy dan
akhirnya dirombak menjadi karbon dioksida (CO2 dan air). Sifat
daripada asam lemak ditentukan oleh susunan asam lemaknya.
Asam lemak bebas menunjukkan
sejumlah lemak bebas yang dikandung oleh minyak yang rusak, terutama karena
peristiwa oksidasi dan hidrolisis. Reaksi hidrolisis disebabkan oleh kandungan
air dalam bahan pangan yang digoreng. Disamping itu terdapat enzim lipase pada
ternak atau minyak mampu menghidrolisis trigliserida, akan tetapi pengaruh
hidrolisis enzim ini tidak efektif karena ada pemasakan. Reaksi lain yang
menghasilkan asam lemak bebas adalah oksidasi yang dihasilkan dari pemecahan
dan oksidasi ikatan rangkap.
3.5.
Gross Energy (GE)
Energi
membuat hewan sanggup untuk melakukan suatu pekerjaan dan proses-proses
produksi lainnya. Semua bentuk energi diubah ke dalam panas. Jadi, energi yang
ada hubungannya dengan proses-proses tubuh dinyatakan dalam unit panas
(kalori). Kilokalori ( Kkal) adalah jumlah panas yang dibutuhkan untuk
menaikkan suhu satu kilogram air derajat celcius dan sama dengan 100 kalori
kecil (Anggorodi, 1979).
Bila
hewan diberi makan protein dan energi yang dihasilkan melebihi kebutuhan hidup
pokoknya, maka hewan tersebut untuk pertumbuhan dan produksi – produksi. Hewan
muda menyimpan energi terutama untuk protein, sedangkan hewan dewasa dalam
bentuk lemak (Tillman, 1989).
Energi yang dibutuhkan hampir dalam
semua proses kehidupan terutama dalam proses metabolisme, misalnya untuk
mengelola darah dan tenunan urat daging, denyut jantung. Pemindahan impuls,
impuls syaraf, protein dan lemak, pembentukan air susu an lain sebagainya.
Dalam praktek dapat terlihat bahwa komponen terbanyak dari suatu ransum normal
adalah energy pada ternak babi sekitar 70% sedangkan pada ternak unggas sekitar
50% (Parrakkasi, 1983).
Energi
bruto adalah sisa energi dari suatu pembakaran senyawa kimia berupa pembakaran
senyawa organik yang dapat diketahui banyaknya dengan analisis proksimat
mengandung energi kimia. Energi bisa dibebaskan untuk menghasilkan energi dalam
berbagai bentuk jika dioksidasi. Energi bahan pakan ditentukan dengan membakar
jumlah bahan sehingga diperoleh hasil oksidasi yang berupa monodioksida air dan
gas lainnya.
Energi
pakan yang dikonsumsi ternak dapat digunakan dalam 3 cara; antara lain:
1.
Menyediakan energi untuk antivirus.
2.
Dapat dikonversi menjadi panas.
3.
Dapat disimpan sehingga jaringan tubuh untuk kebutuhan normal dan metabolisme
biasanya disimpan sebagai lemak kelebihan energi tersebut dapat dibuat
(diekskresikan) oleh tubuh ternak (Parakkasi, 1983).
Energi
bruto suatu bahan makanan dapat ditentukan dengan membakar sejumlah bahan tersebut
sehingga diperoleh hasil-hasil oksidasi yang berupa karbondioksida, air dan
gas-gas lainnya. Untuk tujuan ini digunakan suatu bom kalorimeter guna mengukur
panas yang ditimbulkan oleh pembakaran tersebut. Bom kalorimeter terdiri dari
suatu bejana yang tertutup dimana bahan makanan tersebut dibakar (Anggorodi,
1979).
IV.
MATERI DAN CARA KERJA
4.1.
Materi
4.1.1. Nomenklatur Hijauan Bahan Pakan dan
Pengenalan Alat
4.1.1.1. Nomenklatur
Bahan Pakan Hijauan
|
1.
Rumput Raja
2.
Rumput Benggala
3.
Rumput Gajah
4.
Setaria Lampung
5.
Setaria Ancep
6.
Daun
Pisang
7.
Jagung
8.
Daun pepaya
9.
Gamal
10. Daun Nangka
|
11. Daun
Waru
12. Daun Murbey
13. Jerami
Padi
14. Daun
Rami
15. Daun Kaliandra
16. Daun
Lamtoro
17. Daun
Dadap
|
4.1.1.2. Nomenklatur
Bahan Pakan Konsentrat
|
1.
|
Jagung
Pipilan
|
10.
|
Kapur
|
|
2.
|
Onggok
|
11.
|
CuSO4
|
|
3.
|
Tepung
Limbah Soun
|
12.
|
Phospat alam
|
|
4.
|
Millet
|
13.
|
Bekatul
|
|
5.
|
Dedak
|
14.
|
Tepung
Udang
|
|
6.
|
Molases
|
14.
|
Bungkil
Kedelai
|
|
7.
|
Tepung
Ikan
|
15.
|
Tepung
Kerabang Telur
|
|
8.
|
Tepung
Kerang
|
16.
|
Feed Addictive
|
|
9.
|
Tepung
Cangkang Keong
|
4.1.1.3. Pengenalan Alat
1.
Soxhlet
16. Tabung
reaksi
2.
Corong
Buncher
17. Filler
3.
Labu
didih
18. Pipet
tetes
4.
Cawan
porselin
19. Pipet
Seukuran
5.
Labu
Kjedhal
20. Pipet
Ukur
6.
Gelas
ukur
21. Becker
Glass
7.
Corong
22.
Erlenmeyer
8.
Spatula
23. Tang
Penjepit
9.
Pompa
Vacum
24. Tanur
10.
Oven
25.
Destruktor
11.
Seperangkat
Alat
Titrasi
26.
kondensor
12.
Kompor
Listrik
27. Neraca
Ohaus
13.
Timbangan
Analitik
28.
Desikator
14.
Bom
Kalorimeter
29. Water
Bath
15.
Desilator
30. Seker
Water Bath
4.1.2. Analisis Proksimat
4.1.2.1. Kadar Air
1. Bahan : Corn Gluten Meal
(CGM) 2 gram
2. Alat :
a. Cawan Porselin
b. Oven
c. Desikator
d. Timbangan Analitik
e. Tang Penjepit
4.1.2.2. Kadar Abu
1. Bahan : Corn Gluten Meal
(CGM) 2 gram
2. Alat : a. Cawan
Porselin
b.
Tanur
c. Desikator
d. Timbangan Analitik
e. Pembakar Bunsen
4.1.2.3. Lemak Kasar
1. Bahan
: a. Corn Gluten Meal (CGM) 1 gram
b. Protelium Benzene
2. Alat
: a. Labu Penampung
b. Waterbath
c. Kertas Saring
d.
Oven
e.
Desikator
f. Timbangan Analitik
g. Alat ekstraksi soxhlet dan
selongsongnya
4.1.2.4. Serat Kasar
1. Bahan : a. Corn
Gluten Meal (CGM) 1 gram
b.
NaOH 1,5 N
c.
H2O
d. H2SO4
0,3 N
e. Aseton
2. Alat
: a. Erlenmeyer 250 ml
b. Kertas Saring Wathman
c. Corong Tegak
d. Cawan Porselin
e. Oven
f. Desikator
g. Timbangan Analitik
h. Tanur
i.
Pendingin Tegak
j.
Kompor Listrik
4.1.2.5. Protein Kasar
1. Bahan : a. Corn
Gluten Meal (CGM) 0,1 gram
b.
NaOH 40%
c.
Aquades
d.
Asam Borat
e.
Methyl Red
f.
HCl 0,1 N
g. H2SO4 pekat
2. Alat :
a. Timbangan Analitik
b. Labu Kjeldahl
c. Katalisator
d. Alat Penyuling
e. Alat Destilasi
f.
Kompor Listrik
g.
Erlenmeyer 125 ml
h.
Alat Titrasi
4.1.3. Uji
Fisik Bahan Pakan
4.1.3.1. Sudut Tumpukan
1. Bahan : Dedak 200 gram
2.
Alat : a. mistar siku – siku
b. corong
c. besi penyangga
d. timbangan analitik
4.1.3.2.
Berat Jenis/BJ (Density)
1. Bahan : Dedak 100 ml
2. Alat :
a. Gelas ukur 100 ml
b. Neraca Ohaus
4.1.3.3. Daya Ambang
1. Bahan : Dedak 1 gram
2. Alat
: a. Stopwatch
b. Nampan
c. Timbangan Analitik
4.1.3.4. Luas Permukaan Spesifik
1. Bahan : Dedak 1 gram
2. Alat :
a. Ketas milimeter blok
b. Spidol/bollpoint
c. Timbangan Analitik
4.1.4. Free Fatty Acid (FFA)
1. Bahan
: a. Corn Gluten Meal (CGM) 7,05 gram
b. Alkohol 96%
c. Indikator PP
d. NaOH 0,1 N
2. Alat :
a. Erlenmeyer
b. Timbangan Analitik
c. Buret
d. Pipet Tetes
e. Alat Titrasi
4.1.5. Gross Energy (GE)
1. Bahan :
a. Corn Gluten Meal 0.5
gram c. Na2CO3
0,0725
b. Aquadest
d. Indikator
methyl orange
2. Alat
: a. Bom Kalorimeter
b. Ignition Wire
c. Tabung Berisi Gas Oksigen
d. Tangki Air
e. Kawat Energi
f. Tabung Gas
g. Gelas Ukur
4.2.
Cara Kerja
4.2.1. Nomenklatur Bahan
Pakan dan Pengenalan Alat
4.2.1.1. Nomenklatur Bahan
Pakan
|
Hijauan dan Konsentrat
digambar, ditulis keterangan
dibuat tabel
|
4.2.1.2. Pengenalan Alat
|
Alat
digambar, ditulis keterangan
dibuat tabel
|
4.2.2.
Analisis Proksimat
4.2.2.1. Analisis Kadar Air
Cawan porselin (X)
ditimbang sampel 2 gr (Y)
dioven (1050C)
didesikator (1 jam)
ditimbang (Z)
4.2.2.2. Analisis Kadar Abu
Cawan porselin berisi BK
ditanur 6000C (4-12 jam)
didinginkan
didesikator
sampel ditimbang (Z)
4.2.2.3. Lemak Kasar
Kertas saring whatman
dioven dan didesikator
sampel ditimbang 1 gr (X)
dibungkus kertas dan ditali
dimasukan kedalam alat ekstraksi
diisi petrolium benzen
diekstraksi (4-16 jam)
diangin-anginkan
dioven 1050 c (± 14 jam)
didesikator
ditimbang
4.2.2.4. Serat Kasar
Sampel
ditimbang 1 gr
dimasukan ke
erlemeyer
ditambahkan 50
ml H2SO4 0,3 N
didihkan (30
menit)
ditambahkan 25 ml NaOH 1,5 N
didihkan (30 menit)
disaring dengan
kertas whatman
dilakukan pencucian : 50 ml H20
panas, 50 ml H2SO4 0,3N, 50 ml H20 panas, 25 ml aceton
saring + isinya masuk cawan oven 1050C
didesikator
timbang (Y)
ditanur 6000C
dioven
didesikator
ditimbang (Z)
4.2.3. Uji Fisik Bahan
Pakan
4.2.3.1. Sudut Tumpukan
disiapkan alat dan bahan
dipasang corong
bahan ditimbang 200 gr
bahan dituang
diukur diameter
diukur tinggi bahan
4.2.3.2. Berat Jenis
Ditimbang gelas ukur 100 ml
sampel dimasukan
ditimbang
4.2.3.3. Daya Ambang
1 gram sampel
dijatuhkan dari jarak 1 m
waktu dicatat
4.2.3.4. Luas Permukaan Spesifik
(LPS)
1 gram sampel
diratakan pada milimeter blok
diukur luasnya
4.2.4. Free Fatty Acid (FFA)
timbang sampel 7,05 gr
ditambahkan 25 ml alkohol netral
dan 2 ml indikator PP
dititrasi dengan larutan 0.1 N NaOH
dicapai warna merah
jambu dan tidak hilang
4.2.5.
Gross Energy (GE)
ketas saring
di oven 1 jam
didesikator, ditimbang
ditambahkan sampel (0,5 gr)
dibungkus
diikat dengan kawat energi
dimasukkan bomb
ditutup, diisi O2
dimasukkan ke bucket
pasang kabel anoda dan katoda
bucket dimasukkan ke dalam bom kalorimeter
dilihat suhunya, dicombustion dan dibongkar
dihitung panjang sisa kawat
dicuci dengan akuades
air cucian diambil 10ml
dimasukkan dalam Erlenmeyer
ditetesi indikator methyl orange
orange tidak perlu dititrasi
bila warna pink harus dititrasi
V.
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1.
Hasil
5.1.1. Nomenklatur
Bahan Pakan dan Pengenalan Alat
5.1.1.1. Nomenklatur Bahan Pakan Hijauan
Tabel 1.
Nomenklatur Bahan Pakan Hijauan
|
No
|
Nama Hijauan
|
Bagian
|
Proses
|
T.Kedewa-saan
|
Defoliasi
|
Sumber
|
Grade
|
|
1.
|
Rumput raja
(Pennisetum purpureum)
|
Aerial
|
Segar
|
dewasa
|
40 -70 hari
|
energi
|
SK10-11%
PK7-9 %
|
|
2.
|
Rumput gajah (Pennisetum
purpuroides)
|
Aerial
|
Segar
|
dewasa
|
40-70 hari
|
energi
|
PK11-14%
PK9-10%
|
|
3.
|
Setaria ancep
(Setaria spacelata)
|
Aerial
|
Segar
|
dewasa
|
-
|
energi
|
SK 14-19%
PK 10%
|
|
4.
|
Setaria lampung
(Setaria splendid)
|
Aerial
|
Segar
|
dewasa
|
-
|
energi
|
SK>18%
PK<18%
|
|
5.
|
Rumput benggala
(Penicium maximum)
|
Aerial
|
Segar
|
dewasa
|
40-60 hari
|
energi
|
SK 10-12%
|
|
6.
|
Jagung
(Zea mays)
|
Aerial
|
Segar
|
3 minggu
|
-
|
energi
|
SK>18%
PK<18%
|
|
7.
|
Jerami padi (Oryza sativa)
|
Aerial
|
Segar
|
tua
|
Diatas 100 hari
|
energi
|
SK 35,8%
PK3-5%
|
|
8.
|
Daun pepaya
(Carica papaya)
|
Daun
|
Dilayukan
|
dewasa
|
-
|
energi
|
SK 9-12%
PK 3-44%
|
|
9.
|
Daun rami
(Boehmeria nivea)
|
Daun dan batang muda
|
segar
|
dewasa
|
-
|
energi
|
SK>18%
PK<18%
|
|
10.
|
Daun pisang (Musa parasite)
|
Daun
|
Dilayukan
|
dewasa
|
-
|
energi
|
SK 9-12%
PK3-4%
|
|
11.
|
Daun nangka (Arthocarpus integra)
|
Daun, ranting
|
Dilayukan
|
dewasa
|
-
|
energi
|
SK 16-17%
PK 5%
|
|
12.
|
Daun waru
(Hibiscus ciliaceus)
|
Daun, ranting
|
Segar
|
dewasa
|
-
|
Energi
|
SK 16-17%
PK 5%
|
|
13.
|
Daun Murbei
(Morus indica l)
|
Daun, ranting
|
Segar
|
dewasa
|
-
|
Energi
|
SK 10-13%
|
|
14.
|
Lamtoro
(Leucaena glauca)
|
Daun, ranting
|
Segar
|
muda
|
-
|
Protein
|
SK 4,4%
PK 18 %
|
|
15.
|
Kaliandra
(Caliandra calotyrsus)
|
Daun, ranting
|
Segar
|
muda
|
-
|
Protein
|
SK13%
PK 22.4%
|
|
16.
|
Daun dadap
(Eritrina litospermae)
|
Daun, ranting
|
Segar
|
dewasa
|
-
|
Energi
|
SK 8-9%
PK 3-4%
|
|
17.
|
Daun Gamal
(Glirisida Maculata)
|
Daun dan batang muda
|
Segar
|
dewasa
|
-
|
Protein
|
SK 8-10 %
PK>20%
|
5.1.1.2. Nomenklatur Bahan Pakan Konsentrat
Tabel 2.
Nomenklatur Bahan Pakan Konsentrat
|
No.
|
Nama Bahan
|
Asal
|
Bagian
|
Proses
|
Sumber
|
Grade
|
|
1.
|
Tepung Limbah soun
|
Pati singkong
|
Soun
|
Dikeringkan, digiling
|
Energi
|
SK>18%
PK<18%
|
|
2.
|
Jagung Pipilan
|
Jagung
|
Biji jagung
|
Dipipil
|
Energi
|
SK>18%
PK<18%
|
|
3.
|
Bekatul
|
Padi
|
Kulit ari
|
Dikeringkan, digiling
|
Energi
|
SK 8.9 %
PK 8.2 %
|
|
4.
|
Dedak
|
Padi
|
Kulit
ari
|
digiling
|
Energi
|
PK 6% SK 8.4%
|
|
5.
|
Millet
|
Biji milet
|
Biji millet
|
Dipipil
|
Energi
|
SK 11-15%
PK 10.6 %
|
|
6.
|
Molases
|
Tebu
|
Endapan tebu tetes
|
Diambil tetesan
|
Energi
|
SK>18%
PK 8.5 %
|
|
7.
|
Onggok
|
Singkong
|
Limbah singkong
|
Dikeringkan, digiling
|
Energi
|
SK>18%
PK<18%
|
|
8.
|
Bungkil
kedelai
|
Kedelai
|
Biji kedelai
|
Dikeringkan
|
Protein
|
SK 5.36 %
PK44.95%
|
|
9.
|
Tepung udang
|
Udang
|
Utuh
|
Dikeringkan, digiling
|
Protein
|
PK 60%
|
|
10.
|
Tepung ikan
|
Ikan
|
Ikan utuh
|
Dikeringkan, digiling
|
Protein
|
SK 5.7 %
PK 49 %
|
|
11.
|
Tepung kerang
|
Kerang
|
Cangkang
|
Dikeringkan, digiling, dihaluskan
|
Mineral
|
PK 2-3%
Ca 24-30%
|
|
12.
|
Tepung kerabang telur
|
telur
|
kerabang
|
Digiling
dihaluskan
|
Mineral
|
Ca 18-20%
|
|
13.
|
Tepung
cangkang keong
|
Keong
|
Cangkang
keong
|
Dikeringkan, digiling
|
Mineral
|
Ca=27%
|
|
14.
|
Kapur
|
Batu alam
|
Batu alam
|
Dikeringkan, digiling
|
Mineral
|
Ca 40%
|
|
15.
|
CuSO4
|
Batu alam
|
Batu alam
|
Dihancurkan
|
Mineral
|
CU 18%
|
|
16.
|
Phospat alam
|
Batuan alam
|
Batuan
|
Digiling dihaluskan
|
Mineral
|
Phospat 60 %
|
|
17.
|
Feed
addictive
|
pabrikan
|
-
|
-
|
-
|
Vitamin
|
5.1.1.3. Pengenalan Alat
Tabel 3. Pengenalan
Alat
|
No
|
Nama
Alat
|
Fungsi
|
|
1
|
Oven
|
Mengurangi
kadar air
|
|
2
|
Bom
Kalorimeter
|
Pembakaran
analisis GE
|
|
3.
|
Corong
bunncher
|
Untuk
menyaring pada analisis serat kasar
|
|
4
|
Destilator
|
Menguapkan ikatan N
|
|
5
|
Destruktor
|
Merenggangkan
ikatan N
|
|
6
|
Kompor
listrik
|
Memanaskan
dan refluk
|
|
7
|
Kondensor
|
Pendingin
|
|
8
|
Waterbath
|
Ekstraksi
lemak kasar
|
|
9
|
Timbangan
analitik
|
Mengukur
dengan ketelitian 0,01
|
|
10
|
Seperangkat
alat titrasi (Statif dan biuret)
|
Untuk titrasi
|
|
11
|
Becker
glass
|
Mengukur
larutan
|
|
12
|
Gelas
ukur
|
Mengukur
larutan
|
|
13
|
Erlenmeyer
|
Untuk
titrasi
|
|
14
|
Pipet
tetes
|
Mengambil
larutan
|
|
15
|
Desikator
|
Menetralkan
suhu
|
|
16
|
Tang
penjepit
|
Untuk
penjepit
|
|
17
|
Labu
kjeldhal
|
Untuk
menaruh sampel (PK)
|
|
18
|
Sochlet
|
Ekstraksi
|
|
19
|
Cawan
porselin
|
Meletakkan
sampel
|
|
20
|
Timbangan ohaus
|
Menimbang sampel (BJ)
|
|
21
|
Pipet ukur
|
Mengambil larutan dg ukuran yang diinginkan
|
|
22
|
Pipet seukuran
|
Mengambil larutan dengan volume tertentu
|
|
23.
|
Labu didih
|
Untuk menampung larutan
|
|
24.
|
Tanur
|
Mengabukan bahan dan menurunkan kadar
air
|
|
25.
|
Pompa vacum
|
Menyedot larutan secara otomatis
|
|
26.
|
Spatula
|
Mengambil sampel
|
|
27.
|
Desikator
|
Menetralkan suhu
|
|
28.
|
Seker water bath
|
Seperti rumen sapi (analisis invitro)
|
|
29.
|
Filler
|
Menyedot larutan
|
|
30.
|
Corong
|
Menaruh larutan
|
5.1.2.
Analisis Proksimat
5.1.2.1.
Analisis Kadar Air
Berat cawan porselin = 19.51 gram
Berat CGM = 2 gram
Berat setelah di Oven = 21.36 gram
Rumus : KA = X + Y - Z /Y x 100 %
Keterangan : X = berat cawan
Y = berat
sampel
Z = berat
sampel setelah oven
KA =19. 51 + 2 - 21.36/2x
100 %
= .5 %
BK = 100% - KA
= 100% - 7.5 %
= 92.5 %
5.1.2.2.
Analisis Kadar Abu
Berat cawan porselin = 19.51 gram
Berat CMG =
2 gram
Berat setelah di tahur = 19.58 gram
Rumus : Kadar Abu =Z - X/Y x 100 %
Keterangan : X = berat
cawan
Y = berat
sampel
Z = berat
sampel setelah tanur
Kadar
Abu = 19.58 - 19.51 / 2x
100 %
= 3.5 %
BO = 100 % -3.5 %
= 96.5 %
5.1.2.3. Analisis Lemak
Kasar
Berat setelah oven 1 = 1,3 gram
Berat setelah oven 2 = 1,28 gram
Berat CGM = 1 gram
Rumus : LK = Y - Z
/ X x 100 %
Keterangan : X = berat sampel
Y
= berat setelah oven 1
Z
= berat setelah oven 2
LK = 1.3 - 1.28 / 1 x 100 % = 2 %
5.1.2.4.
Analisis Serat Kasar
Berat CGM =
1 gram
Berat kertas saring = 0.02 gram
Berat setelah di oven = 19.94 gram
Berat setelah di tanur = 19.25 gram
Rumus :
SK =
Y - Z - a / X × 100 %
Keterangan : Y = berat
setelah di oven
Z
= berat setelah di tanur
a
= berat kertas saring
X
= berat sampel
SK = 19.94 - 19.25
- 0.02 / 1 × 100 %
= 6.7
%
5.1.2.5. Analisis Protein Kasar
Berat CGM =
0,1 gram
Titran yang dipakai = 2.3
ml
N. HCl =
0.1 N
Rumus : PK = ml titran x N titran x 0.014 x 6.25/ berat sampel x BK
PK =2.3 x 0.1 x 0.014 x 6.25 / 0.1 x 0.925
PK = 20%
5.1.3. Uji Fisik Bahan Pakan
5.1.3.1.
Sudut Tumpukan
|
Tinggi (t) sampel : 7.1 cm
Diameter (d) sampel : 18.3 cm
Tan α =
2t / d
Tan α = 2 x 7.1
/ 18.3
Tan α = 0,77
α = 37.80
|
|
5.1.3.2. Berat Jenis
Volume
sampel : 100 ml
Berat
gelas ukur : 126.3
gram
Berat
gelas ukur + sampel : 153.2 gram
Rumus
: BJ = massa / volume
BJ = 153.2 - 126.3 / 100 =
0,269 gr/ml
5.1.3.3. Daya Ambang
Jarak : 1 meter
Waktu : 7 detik
Rumus
: DA = jarak / waktu
Daya
Ambang = 1 / 7 = 0.142 m/s
5.1.3.4. Luas Permukaan Spesifik
Luas area bahan pakan : 39 cm2
Berat bahan pakan : 1 gram
Rumus
: LPS =luas area / berat bahan
LPS = 39 / 1= 39 cm2/gr
5.1.4. Free
Fatty Acid (FFA)
Berat CGM :
7.05 gram
Ml NaOH terpakai : 8.52 ml
Normalitas NaOH : 0.1 N
Berat m.a. lemak : 278
Rumus : FFA= ml
titran x N titran x b.m.a lemak/ berat sampelx 100 x100
%
Free Fatty acid (FFA) = 8.52 x 0.1 x 278/ 7.05 x 1000 x 100 %
=
3.37 %
5.1.5. Gross
Energy (GE)
Berat kertas : 0,21
Berat sampel : 0,5 gram
Sisa kawat : 3.3 cm
Air cucian : 35 ml
Ml titrasi : 0.94 ml
Tc :
jumlah pembakaran x 0.5 = 10x 0.5 = 5
ta :
28.97
Ta : ketetapan (5)
Koreksi benzoat : 0.985
E1 =
vol air cucian / 10 x ml titrasi
=35 / 10 x 0.94
= 3.29
E2 =
berat kertas = 0.21
E3 =
(panjang kawat – sisa kawat) x 2.3
=
(12 – 3.3) x 2.3
=
20.01
r1 = Tc1 - ta/ 5
=29.08 - 28.97 / 5
= 0.002
Tb = 0,6 x (Ta + Tc)
= 0,6 x ( 5 + 5 ) = 6
T = (tc – ta) – r1 x | Ta – Tb |
= (29.08 – 28.97) – 0,002 x| 5
–6 |
= 0.61 –
0.002
= 0,588
Hg =( 2423 x T) - E1 - E2 - E3/ BK x berat
sampel
= (2423 x 0.588) - 3.29 - 0.21 - 20.01/ 0.925 x 0.5
= 3029. 65
GE = Hg x Koreksi benzoat
=
3029.65 x 0.985
= 2984.20 Kkal
5.2.
Pembahasan
5.2.1. Nomenklatur Bahan Pakan dan
pengenalan Alat
5.2.1.1. Nomenklatur Bahan Pakan
Hijauan
Pemberian nama (nomenklatur) bahan
pakan internasional untuk mengulangi ketidaktepatan dalam pemberian nama bahan
pakan. Pemberian nama setiap bahan pakan setepat dan selengkap mungkin sehingga
dihindari adanya duplikasi nama yang ditentukan oleh enam faset yaitu asal
mula, bagian, proses, tingkat kedewasaan, defoliasi dan grade atau tanggungan
(Sutardi, 2003). Hijauan pakan merupakan bahan pakan yang sangat mutlak
diperlukan baik secara kuantitatif maupu kualitatif. Porsi hijauan pakan dalam
ransum ruminansia mencapai 40 – 80 % dari total bahan kering ransum atau
sekitar 1.5 – 3 % dari bobot hidup ternak (Abdullah, 2010).
Menurut Sutardi (2003), sumber
hijauan untuk pakan yaitu kelompok gramineae,
kelompok cyperaceae, kelompok leguminosae, dan browse. Contoh bahan pakan hijauan antara lain rumput gajah, rumput
raja, rumput benggala, setaria ancep, setaria lampung, jerami padi. Semua bahan
pakan mempunyai nomeklaturnya sendiri – sendiri. Misalnya, Zea mays, biji. Digiling halus, KA maksimal 13 %. Pennisetum purpureum, aerial, segar,
dewasa, 40 – 60 hari, SK 12- 13 %.
Pakan yang dimanfaatkan
sebagai sumber energy diantaranya jagung, gandum, bekatul, molasses (Bahri,
2008). Nomenklatur jagung yaitu Zea mays.
Aerial, segar, dewasa, 3 minggu, SK 32 %. Artinya jagung yang diberikan pada
ternak berupa daun segar tanpa adanya proses, dipotong pada usia dewasa yaitu
setiap tiga minggu dan mempunyai kadar serat kasar 32 % yang merupakan sumber
energy. Daun jagung muncul dari buku – buku batang sedang pelepah daun
menyelubungi ruas batang untuk memperkuat (Marpaung, 2011).
Bahan pakan hijauan
sebagai sumber protein antara lain kaliandra, lamtoro, dan gamal. Zat anti
nutrisi pada lamtoro adalah myosin dan dapat menghambat pertumbuhan bagi ternak
yang belum pernah terbiasa untuk mengkonsumsinya. Pemotongan pertama daun
lamtoro dilakukan 6 sampai 9 bulan sesudah penyerbukan biji (Reksohadiprodjo,
1981).
5.2.1.2.Nomenklatur Bahan Pakan
Konsentrat
Konsentrat merupakan bahan pakan
yang memiliki kandungan protein tinggi namun kandungan energinya rendah
sehingga perlu ditambahkan agar kandungan nutrisinya lebih lengkap sebelum
diberikan ke ternak (Sultoni, 2006).
Bahan
pakan konsentrat yang merupakan sumber energi yaitu onggok, millet, molasses,
dan jagung. Menurut Retnani (2010), onggok merupakan hasil sampingan tapioca
yang berbentuk padat. Komponen pati onggok adalah sekitar 69.9 % dari setiap
100 gram umbi segar akan menghasilkan 3-10 kg onggok. Pembuatan onggok
menggunakan metode fermentasi yang bertujuan untuk meningkatkan kadar protein
dan menurunkan kadar serat kasar. Kandungan serat kasar dari bahan pakan yang
berbeda pada tiap konsentrat mampu mempengaruhi konsumsi pakan. Semakin tinggi
kandungan serat kasar maka konsumsi pakan semakin rendah. Hal ini disebabkan
serat kasar banyak mengandung selulosa yaitu bagian yan tidak mudah dicerna (Sultoni,
2006).
Sutardi (2003), menambahkan bahwa
bahan pakan konsentrat adalah bahan pakan yang mengandung protei kasar (lebih
dari 18 % / karbohidrat yang lebih tinggi. Bahan pakan sumber energy dari jenis
konsentrat sebagian besar terdapat dalam bahan pakan asal tumbuhan atau nabati
dengan limbahnya, diantaranya jagung kuning, sorghum, pollard, millet, bekatul,
onggok, dan gandum. Bahan pakan sumber nabati ini umumnya mempunyai serat kasar
yang cukup tinggi selain sumber vitamin.
Sumber mineral makro banyak terdapat
di alam. Mineral makro yang ditambahkan dalam pakan ternak adalah Ca, P, Na,
dan Mg. contohnya yakni, phospat alam, CuSO4. Sedangkan dari asal
hewan contohnya tepung tulang ikan, tepung kerabang telur, tepung kerang,
tepung cangkang keong dan tepung udang. Selain sumber mineral, ternak juga
membutuhkan vitamin. Menurut Rasyaf (1994), vitamin merupakan komponen organic
dan dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit bagi ternak.
5.2.1.3. Pengenalan Alat
Praktikum
pengenalan alat bertujuan untuk menentukan tetapan hasil analisis kimia yang
akurat. Pengunaan alat-alat laboratorium antara lain untuk penimbangan,
penyaringan, pengukuran volume cairan, pemijaran dan pengabuan, dan pengeringan
(Sudarmadji, 1997). Sedangkan menurut Hartati (2002), penggunaan alat-alat
laboratorium antara lain sebagai alat penimbangan, pengukuran volume cairan,
melarutkan zat padat, penyaringan, pemijaran dan pengabuan serta penyaringan.
Penimbangan menggunakan timbangan, penyaringan menggunakan kertas saring, dan
corong bunche, pengaturan volume cairan menggunakan gelas ukur, pipet ukur,
pipet volume, labu ukur dan buret. Pemijaran menggunakan tanur dan cara
sederhana pengeringan menggunakan oven.
Pengeringan
biasanya dipakai untuk menentukan kadar air atau dilakukan pada zat kimia padat
yang akan ditimbang untuk standardisasi. Alat yang digunakan adalah oven yang
dilengkapi dengan thermometer, thermostat dan pengatur waktu pengeringan yang
dikehendaki. Alat yang digunakan untuk menyimpan bahan yang sudah dikeringkan
adalak eksikator (dessicator) yang
kedap udara, didalamnya terdapat zat yang bisa menyerap air (silica gel)
sehingga pengaruh uap air selama penyimpanan bisa diabaikan (Sudarmadji, 1997).
Fungsi dari
alat-alat laboratorium berbeda satu dan yang lainnya, begitu pula dengan cara
penggunaannya harus sesuai dengan ketentuan agar hasil dari penggunaan itu
baik. Seperti timbangan yang digunakan dalam laboratorium terdiri dari berbagai
jenis dan merk, yang perlu diketahui adalah kapasitas dan ketelitian timbangan
yang akan digunakan apakah timbangan halus atau kasar (Sudarmadji, 1997). Pengenalan alat
yang digunakan meliputi bomb kalorimeter yang terdiri dari beberapa bagian
(jaket, bucket,bomb) yang berfungsi untuk menguji total energi suatu bahan
pakan. Selain itu ada alat yang digunakan untuk sterilisasi, memanaskan cairan
dan menahan keluarnya uap (Timball, 1989).
5.2.2 Analisis
Proksimat
5.2.2.1. Analisis Kadar Air
Air merupakan
zat makanan yang paling banyak dan mudah didapat di alam. Bahan pakan mempunyai
kandungan air lebih banyak dibandingkan
dengan kandungan nutrien lainnya. Yang dimaksud air dalam analisis proksimat
adalah semua cairan yang menguap pada pemanasan selama beberapa waktu pada suhu
105-110ºC dengan tekanan udara bebas sampai sisanya yang tidak menguap
mempunyai bobot tetap (Soejono, 2004). Penentuan kadar air dilakukan dengan dua
metode yaitu penyulingan langsung dan tidak langsung (oven). Penentuan kadar
air minimal 24 jam. Banyaknya air yang terkandung di dalam suatu bahan pakan
dapat diketahui jika bahan pakan dipanaskan (Hartadi, 1992).
Hasil analisis kadar air pada sampel
CGM (Corn Gluten Meal) adalah 7.5 %.
Menurut Pfost (1976) dalam Fadillah (2005), CGM adalah sisa dari penggilingan
jagung dalam proses produksi pati dan sirup jagung, yang merupakan residu dari
pemisahan pati dan lembaga jagung, dan dikeringkan. Kadar air CGM telah
memenuhi syarat yakni 7.5 % yang artinya tidak terlau basah. Hal ini
dikarenakan, menurut Indartono (2003) bila disimpan dalam jangka waktu terlalu
lama, CGM akan mengeras dan berjamur, oleh karena itu CGM sebaiknya berkadar
air dibawah 12 %.
Sutardi (2003),
menyatakan bahwa tinggi rendahnya kadar air dalam bahan pakan harus diatur.
Kadar ini menentukan komposisi kandungan nutrien pakan. Faktor yang
mempengaruhi kadar air salah satunya adalah metode pengeringan dan kandungan
air dari suatu bahan pakan. Pakan dapat disimpan jika bahan pakan mempunyai
kandungan air 14%, karena kandungan air yang terlalu tinggi akan merusak
nutrien dari bahan pakan karena didegradasi oleh bakteri. Bahan pakan
dengan kadar air tinggi akan lebih mudah berjamur, busuk, dan mengandung racun.
Penentuan kadar
air yang secara langsung juga dapat menentukan kadar bahan kering. Kadar bahan kering CGM diperoleh
dengan cara 100%- kadar air, sehingga diperoleh bahan kering sebesar 92.5 %.
Mengetahui bahan kering merupakan prosedur yang umum
dikerjakan, hal ini penting karena bobot bahan kering akan digunakan sebagai
standar bobot untuk penentuan kadar fraksi lainnya. Banyaknya air yang
terkandung dalam pakan dapat diketahui jika bahan tersebut dikeringkan pada
temperatur 105ºC (Soejono, 2004).
5.2.2.2.Analisis Kadar Abu
Kadar abu juga
disebut kadar mineral yang terkandung, pada suatu bahan pakan. Komponen abu
pada analisis proksimat kurang memberikan nilai penting bagi kandungan zat –
zat organik yang terkandung dalam makanan pakan (Rahardjo, 2002). Hasil analisis kadar abu CGM adalah
sebesar 2 %lebih kecil disbanding pernyataan Tangendjaja (2007), bahwa kadar
abu CGM adalah 6.8 % yang bersumber dari Loy dan Wright (2003).
Kadar abu
suatu bahan pakan ditentukan dengan pembakaran bahan pada suhu tinggi
(500-600 ºC). Pada suhu tinggi bahan organik yang ada akan terbakar sempurna
menjadi CO2, H2O, dan gas lain yang menguap, sedang
sisanya merupakan abu atau campuran dari berbagai oksida mineral. Kadar abu
yang didapat pada saat praktikum adalah 3.5 % dan kandungan bahan organik sebesar 96.5 %.
Anggorodi
(1991), menyatakan bahwa zat-zat mineral sebagai suatu golongan dalam pakan
atau jaringan hewan ditentukan dengan
membakar zat organik dan kemudian menimbang ini disebut kadar abu. Abu hasil
pembakaran dapat digunakan sebagai titik tolak untuk determinasi presentase zat
tertentu yang terdapat pada bahan pakan. Kadar abu bahan pakan menunjukan kualitas
dari bahan pakan tersebut karena semakin tinggi bahan organik pada pakan
berarti bahan pakan tersebut banyak mengandung karbon. Sedangkan menurut
Soejono (2004), meskipun abu terdiri dari komponen mineral, namun bervariasinya
unsur mineral dalam pakan asal tanaman menyebabkan abu tidak dapat dipakai
sebagai indeks untuk menentukan jumlah unsur mineral tertentu.
5.2.2.3.Analisis Lemak Kasar
Analisis lemak kasar dapat dilakukan
dengan metode langsung yang berprinsip bahwa lemak dapat diekstraksi dengan
eter atau pelarut lemak lainnya, sedangkan meode tidak langsung berprinsip
lemak tidak dapat diekstrasi oleh eter atau pelarut lainnya (Tillman, 1989).
Lemak kasar adalah campuran senyawa yang larut didalam pelarut lemak (eter,
pretolium benzene, pretolium eter dan lain sebagainya). Oleh karena itu lemak
kasar lebih tepat disebut ekstraksi eter. Disebut lemak kasar karena merupakan
campuran dari beberapa senyawa yang larut dalam pelarut lemak.
Hasil analisis lemak kasar pada CGM diperoleh kandungan
lemak kasarnya adalah 2 %. Tinggi rendahnya kadar lemak pada
tanaman dipengaruhi oleh spesies, umur dan perbedaan bagian yang digunakan
untuk sampel. Lemak pada tanaman terutama terdapat pada biji-bijian sebangsa
legum. Hasil samping yang berupa bungkil jelas lebih rendah daripada bijinya,
sebab bungkil merupakan hasil samping dari pembuatan minyak bji tanaman (Kamal,
1998).
Lemak mempunyai
konsentrasi energi paling tinggi dibanding nutrien pakan lainnyakarena
mempunyai struktur intra molekuler karbon dan hidrogen yang lebih banyak
sehingga lemak merupakan sumber kalori yang penting disamping berperan sebagai
pelarut vitamin.
Kandungan lemak CGM pada analisis bersumber Loy dan Wright (2003) yang dikutip
oleh Tangendjaja (2007) lebih tinggi yakni 3.5 % sedangkan hasil praktikum
adalah 2 %. Hal ini disebabkan karena penghitungan atau pada saat penimbangan
sampel terjadi kesalahan.
5.2.2.4.Analisis Serat Kasar
Serat
kasar berisi selulosa, hemiselulosa dan lignin. Selulosa dan hemiselulosa
adalah komponen dalam dinding sel tanaman dan tidak dapat dicerna oleh hewan.
Serat kasar juga mempunyai energi total yang besar tetapi akan dicerna sangat
lambat dan sedikit bila dibandingkan BETN (Tillman, 1989).
Serat kasar adalah semua zat-zat
organik yang tidak larut dalam H2SO4 0,3 N dan dalam NaOH
1,5 N yang berturut-turut dimasak selama 30 menit. Analisis bahan makanan
terhadap kadar serat kasarnya dilakukan sebagai berikut : bahan makanan dimasak
dengan asam lemah hingga mendidih untuk dihidrolisis karbohidrat dan protein
didalamnya. Pemasakan lebih lanjut dengan alkali menyebakan terjadinya
penyabunan dari zat-zat lemak yang ada didalam bahan makanan. Zat-zat yang
tidak larut dalam pemasakan tadi terdiri terutama dari serat kasar dan zat-zat
mineral yang kemudian terus disaring, dikeringkan dan ditimabang. Kemudian
pijarkan lalu dinginkan dan ditimbang lagi. Perbedaan dari kedua berat tadi
menunjukan berat serat kasar yang ada dalam bahan makanan (Anggorodi, 1991).
Hasil pengamatan yang terlihat
setelah pencucian sebanyak 4 kali pada wadah/tabung erlenmeyer yaitu terjadi
atau terbentuk 3 lapisan, yang pertama (paling bawah) lapisan yang terbentuk
setelah pencucian H2SO4 0,3 N dimana fungsinya untuk
melarutkan zat organik. Lapisan kedua (setelah lapisan zat organik) yaitu lapisan
yang terbentuk akibat pencucian H2O panas, fungsinya melarutkan gel
dan yang ketiga (paling atas), fungsinya untuk melarutkan lemak. Serat kasar
dapat diketahui setelah melakukan 4 kali pencucian, kemudian dihitung. Hasil
yang didapat adalah 6.7%. Sedangkan menurut Fadillah (2005), kandungan serat
CGM adalah 2 %. Berbeda dengan Tangendjaja, (2007) serat kasar dari CGM adalah
8.9 %. Hal ini dapat berbeda – beda karena tergantung jenis spesies, umur yang
digunakan sebagai bahan pembuatan CGM.
5.2.2.5.Analisis
Protein Kasar
Protein
merupakan salah satu zat makanan yang berperan dalam penentuan produktivitas
ternak. Jumlah protein dalam pakan ditentukan dengan kandungan nitrogen bahan
pakan melalui metode kjeldahl yang kemudian dikali dengan faktor protein :
6,25. Angka 6,25 diperoleh dengan asumsi bahwa protein mengandung 16% nitrogen.
Kelemahan analisis proksimat untuk protein kasar itu sendiri terletak pada
asumsi dasar yang digunakan. Pertama, diasumsikan bahwa semua nitrogen bahan
pakan merupakan protein padahal kenyataannya tidak semua nitrogen berasal dari
protein dan kedua, bahwa kadar nitrogen protein 16%, tetapi kenyataannya kadar
nitrogen protein tidak selalu 16% (Soejono, 2004).
Proses analisis kadar protein kasar fungsi penambahan
katalisator itu sendiri adalah agar mempercepat reaksi, tanpa ikut bereaksi
pada saat proses destruksi. Proses destruksi (oksidasi), perubahan N protein
menjadi ammonium sulfat (NH4)2SO4. Destruksi
dihentikan jika larutan berwarna hijau jernih. Setelah itu proses destilasi
yakni dicuci dengan aquadest, agar mengurangi reaksi hebat jika ditambahkan
alkali. Penambahan alkali (NaOH) menyebabkan (NH4)2SO4
akan melepaskan ammonia (NH3). Hasil sulingan uap NH3 dan
air ditangkap oleh larutan H2SO4 yang terdapat dalam
Erlenmeyer dan membentuk senyawa (NH4)2SO4
kembali. Penyulingan dihentikan bila semua N sudah tertangkap oleh asam sulfat
dalam labu Erlenmeyer.
Proses titrasi menggunakan HCl 0.1 N hingga warna larutan
menjadi merah muda. Hasil praktikum kadar protein kasar dari CGM adalah sebesar
20 %. Hasil tersebut mendekati hasil analisis proksimat Loy dan Wright (2003)
dalam Tangendjaja (2007), bahwa kandungan protein kasar CGM (Corn Gluten Meal) adalah 23.8 %. Namun
berbeda dengan pendapat Fadillah (2005) bahwa kandungan protein kasar CGM lebih
tinggi disbanding dengan tepung ikan yaitu sebesar 62 %.
5.2.3 Uji Fisik Bahan Pakan
5.2.3.1 Sudut Tumpukan
Sudut tumpukan merupakan sudut antara bidang dengan
kemiringan tumpukan yang terbentuk jika bahan dicurahkan serta menunjukkan kriteria
kebebasan bergerak partikel dari suatu tumpukan bahan. Semakin besar suatu
partikel bergerak, maka sudut tumpukan yang terbentuk juga semakin kecil.
Pergerakan partikel yang ideal ditunjukkan oleh ransum bentuk cair dengan sudut
tumpukan berkisar 200-500 (Qomariyah, 2004).
Hasil yang diperoleh pada sudut tumpukan dalam praktikum
kali ini adalah 37,80. Caranya yaitu dengan menjatuhkan sampel 200
gr dari ketinggian 7 cm. Sampel yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah
dedak. Hal tersebut sesuai dengan Jaelani (2007) bahwa, Pengukuran sudut
tumpukan dengan cara menjatuhkan bahan pakan pada ketinggian 15 cm melalui
corong. Untuk mengurangi pengaruh tekanan dan kecepatan laju aliran bahan,
pengukuran bahan dilakukan dengan volume tertentu dan dicurahkan perlahan-lahan
pada dinding corong tetap sehingga diusahakan jatuhnya bahan selalu konstan.
Sudut tumpukan bahan ditentukan dengan mengukur diameter
dasar (d) dan tinggi tumpukan (t). Menurut Khalil (1997), Pengukuran sudut
tumpukan sangant penting karena dpat diketahui bahwa semakin tinggi sudut
tumpukan berarti diameter semakin kecil, jadi memungkinkan menghemat tempat
untuk menyimpan. Susust tumpukan yang relatif besar sehinnga pakan ternak yang
dapat menghemat tempat penyimpanan.
5.2.3.2.Berat Jenis
Berat jenis merupakan perbandingan
antara bahan pakan dengan volume ruang yang ditempati dimana peranan berat
jenis adalah berpengaruh terhadap besarnya kerapatan tumpukan (Khalil, 1997).
Berat jenis memberikan pengaruh berat terhadap daya ambang dari partikel.
Selain itu, berat jenis merupakan faktor penentu dari densitas curah. Berat
jenis dan ukuran partikel bertanggung jawab terhadap homogenitas pencampuran
partikel dan stabilitasnya dalam pencampuran pakan.
Hasil praktikum diperoleh berat jenis dedak adalah 0.269 gr/ml. dilihat dari nilai
berat jenisnya menunjukkan nilai kurang dari satu, yang berarti lebih kecil
dari volume. Besarnya berat jenis (density)
bahan pakan penting diketahui karena apabila suatu bahan pakan mempunyai
nilai densitas yang rendah yaitu perbandingan antara berat bahan pakan dengan
volume lebih besar berarti intake untuk ternak hanya sedikit dan sebaliknya.
Pakan yang baik adalah nilai densitasnya lebih besar sehingga intake pakan
meningkat (Sudarmadji, 1997).
Perbedaan nilai
berat jenis selain dipengaruhi oleh perbedaan karakteristik permukaan, juga
dipengaruhi oleh kandungan nutrisi bahan. Hal ini sesuai pendapat Khalil (1999)
yang menyatakan bahwa adanya variasi dalam nilai BJ dipengaruhi oleh kandungan
nutrisi bahan, distribusi ukuran partikel, dan karakteristik permukaan
partikel. Bahan pakan yang memiliki perbedaan BJ cukup besar, akan menghasikan
campuran tidak stabil dan mudah terpisah kembali. Oleh karena itu berat jenis sangat mempengaruhi
ketelitian dalam proses penakaran secara otomatis pada pabrikan pakan, seperti
dalam proses pengemasan dan pengeluaran.
5.2.3.3.Daya Ambang
Daya ambang adalah jarak yang
ditempuh oleh suatu partikel bahan jika dijatuhkan dari atas ke bawah selama
jangka waktu tertentu dengan satuan m/s. hasil daya ambang pada sampel
diperoleh 0.142 m/s. hal ini termasuk kurang akurat, karena terjadi kesalahaan
pada saat menjatuhkan sampel. Selain itu juga pengaruh udara atau angina,
sehingga memperlama sampel jatuh ke bawah.
Daya ambang
yang terlalu lama akan menyulitkan dalam proses pencurahan bahan karena
dibutuhkan waktu yang lebih lama (Jaelani, 2007). Daya ambang juga berkaitan dengan BJ, berat jenis lebih
tinggi akan berakibat pada nilai daya ambang yang lebih tinggi pula. Hal ini
berarti apabila terjadi proses pencurahaan bahan dengan ketinggian tertentu
maka waktu bahan tersebut mencapai dasarnya lebih cepat.
Daya ambang juga berkaitan dengan ukuran partikel dari bahan
pakan, partikel yang yang kecil tentu daya ambangnya akan semakin kecil pula.
Perhitungan daya ambang bertujuan untuk efisiensi pemindahan atau pengangkutan
yang menggunakan alat penghisap, pengisian silo yang menggunakan gaya gravitasi
dan daya ambang berbeda akan terjadi pemisahan partikel (Sutardi, 2003).
5.2.3.4.Luas Permukaan Spesifik
Sutardi (2003) menyatakan
bahwa LPS merupakan luas permukaan bahan pakan pada suatu berat tertentu, LPS
digunakan untuk mengetahui tingkat kehalusan bahan pakan tanpa diketahui
distribusi ukuran partikel secara keseluruhan. Begitu juga sebaliknya, jika
nilai LPSnya kecil dalam tiap gramnya, maka sampel tersebut berbentuk butiran –
butiran kasar atau kristal (Rahardjo, 2002), semakin
halus kadar sampel, maka semakin baik daya cernanya bagi ternak.
Luas permukaan spesifik sampel hasil
praktikum adalah 39 cm2/gram, hal ini karena sampel yang digunakan
adalah dedak yang utirannya agak kecil. Luas permukaan spesifik digunakan dalam
system penggudangan, pengemasan. Apabila semakin besar luas permukaan spesifik
suatu bahan maka mempunyai daya ambang yang semakin kecil pula. Sutardi (2003), menambahkan luas pernukaan
spesifik berperan untuk mengetahui tingkat kehalusan dari bahan pakan tanpa
diketahui distribusi, ukuran komposisi partikel secara keseluruhan.
5.2.4. Free Fatty Acid (FFA)
Asam lemak bebas yaitu
nilai yang menunjukkan jumlah asam lemak bebas yang ada di dalam lemak atau
jumlah yang menunjukkan berapa banyak asam lemak bebas yang terdapat dalam
lemak setelah lemak tersebut di hidrolisa. Analisis kimia untuk mengetahui asam
lemak bebas pada bahan pakan dilakukan dengan proses AOAC (1990), praktikum
analisis dimulai dengan menimbang sampel sebanyak 7,050 gram kemudian dimasukan
ke dalam erlenmeyer lalu ditambahkan 50 ml alkohol netral (96%) kemudian direfluks 15
menit,selanjutnya disaring dengan kertas whatman dan 2 tetes indikator PP. Setelah sampel dididihkan
kemudian disaring dan hasil saringan berupa cairan dititrasi dengan NaOH 0,1%.
Titrasi dihentikan setelah cairan sampel berwarna merah jambu. Hal ini sesuai
dengan hasil praktikum dan di dapat volume NaOH sebesar 8.52 ml sehingga setelah dihitung % FFA sebesar 3.35%.
Asam lemak digolongkan sebagai asam
lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh mempunyai dua
atau lebih molekul yang hilang. Molekul-molekul hidrogen yang hilang tersebut
dapat diisi melalui suatu proses yang disebut hidrogenisa. Asam lemak tidak
jenuh mempunyai titik didih yang rendah dan lebih relatif dari pada asam lemak
jenuh (Anggorodi, 1979).
Asam lemak bebas termasuk kelompok
asam lemak tidak jenuh. Asam lemak bebas menunjukkan sejumlah lemak bebas yang
dikandung oleh minyak yang rusak, terutama karena peristiwa oksidasi dan
hidrolisis. Reaksi hidrolisis disebabkan oleh kandungan air dari bahan pangan
yang digoreng. Reaksi lain yang
menghasilkan asam lemak bebas adalah oksidasi yang dihasilkan dari pemecahan
dan oksidasi ikatan rangkap.
Reaksi hidrolisis akan dihasilkan
gliserida dan asam lemak bebas dengan rantai pendek C4 – C12
yang menyebabka terjadinya perubahan baud an rasa dari minyak dan lemak
(Apendi, 2013). Kadar FFA didapatkan hasil 3.35 % ditimbulkan kareana adanya
kerusakan. Menurut Budiyanto (2008) kandungan asam lemak bebas selama pemanasan
menunjukkan asam lemak bebas lebih sedikit daripada asam lemak lain yang
diteliti.
5.2.5. Gross Energy (GE)
Gross Energy didefinisikan sebagai energi yang dinyatakan dalam panas
bila suatu zat dioksider secara sempurna menjadi CO2 dan air. Tentu
saja CO2 dan air ini masih mengandung energi, akan tetapi dianggap
mempunyai tingkat nol karena hewan sudah tidak bisa memecah zat-zat melebihi CO2
dan air. Gross Energy diukur dengan
alat bomb kalorimeter. Apabila N dan S terdapat dalam senyawa sampingan karbon
H dan O (C, H dan O). Unsur-unsur tersebut akan timbul sebagai oksida nitrogen
dan sulfur pada waktu senyawa itu dioksider dalam bomb kalorimeter. Analisis
kimia untuk mendapatkan energi bruto bahan pakan dengan prosedur AOAC (1990).
Energi bruto suatu bahan makanan
dapat ditentukan dengan membakar sejumlah bahan tersebut sehingga diperoleh
hasil-hasil oksidasi yang berupa karbondioksida, air dan gas-gas lainnya. Untuk
tujuan ini digunakan suatu bom kalorimeter guna mengukur panas yang ditimbulkan
oleh pembakaran tersebut. Bom kalorimeter terdiri dari suatu bejana yang
tertutup dimana bahan makanan tersebut dibakar (Anggorodi, 1979). Energi total
yang dihasilkan dalam praktikum adalah 2984.20 kkal.
Tinggi
rendahnya energi dipengaruhi oleh kandungan protein, karena protein berperan
sekali terhadap pertumbuhan sehingga mempengaruhi jumlah ransum yang masuk ke
dalam tubuh (Rasyaf, 1994). Nilai
energi bruto dari suatu bahan pakan tergantung dari proporsi karbohidrat, lemak
dan protein yang dikandung bahan pakan tersebut. Air dan mineral tidak
menyumbang energi pakan tersebut. Nilai energi bruto tidak menunjukan energi tersebut tersedia untuk
ternak atau tidak tersedia, tergantung dari kecernaan bahan pakan tersebut. Penambahan
DL-Methionin mampu menurunkan jumlah energi bruto yang dibuang melalui sekreta
sehingga energi bruto yang diserap atau dicerna meningkat.
Nilai energi bruto dari suatu bahan
pakan tergantung dari proporsi karbohidrat, lemak dan protein yang terkandung
dalam bahan pakan tersebut. Air dsn mineral tidak menyumbang enrgi dalam pakan.
Nilai energy bruto tidak menunjukkan apakah energy tersebut untuk dapat
tersedia untuk ternak, tergantung dari kecernaan bahan pakan tersebut. Hal ini
sesuai pendapat Widodo (1981), bahwa tidak semua GE bahan pakan dapt dicerna.
VI.
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
1. Bahan pakan
hijauan terdiri dari gramineae (sumber
serat atau karbohidrat), leguminosa (sumber
protein), browse atau ramban (sumber
serat dan protein), dan limbah pertanian (sumber serat). Bahan pakan konsentrat
terdiri atas sumber energi (jagung, millet, bekatul, dedak, onggok), sumber protein
(bungkil-bungkilan, tepung udang, tepung ikan,
dsb), sumber mineral (phospat alam,
tepung cangkang keong, kapur, tepung
kerang), dan sumber
zat additives.
2. Nomenklatur bahan pakan diberikan
berdasarkan tatanama internasional yang berdasarkan enam faset, yaitu : Asal
mula (Origin); Bagian (Part) yang diberikan kepada ternak; Proses yang dialami
oleh bagian tadi; Tingkat kedewasaan; Pemotongan (hijauan); Grade (Garansi
pabrik).
3. Fungsi
alat-alat laboratorium berbeda satu dan yang lainnya, demikian pula dengan cara
penggunaannya harus sesuai dengan ketentuan agar didapatkan hasil yang benar.
4. Analisis
proksimat menggolongkan komponen yang ada pada bahan pakan berdasarkan
komposisi kimia dan fungsinya, yaitu: air (moisture),
abu (ash), protein kasar (crude protein), lemak kasar (ether extract), serat kasar (crude fiber) dan bahan ekstrak tanpa
nitrogen (nitrogen free extract). Hasil analisis proksimat CGM antara
lain KA 7.5 % ; K.Abu 3.5 % ; LK 2 %; SK 6.7 % dan PK sebesar 20 %.
5. uji
FFA adalah untuk mengetahui jumlah kandungan asam lemak suatu bahan. Hasil yang
diperoleh dalam menguji sampel CGM mengandung asam lemak bebas sebesar 3.35 %.
6. Gross Energy didefinisikan
sebagai energi yang dinyatakan dalam panas bila suatu zat dioksider secara
sempurna menjadi CO2 dan air. Hasil yang diperoleh dari analisis GE pada sampel Corn
Gluten Meal adalah 2984.20 Kkal.
6.2. Saran
1. Harus
lebih memahami berbagai macam hijauan dan konsentrat bahan pakan melalui
nomenklaturnya, sehingga lebih memahami fungsi atau keunggulan masing – masing
bahan pakan
2. Praktikan
harus lebih teliti dalam menimbang berat sampel ataupun alat, agar perhitungan
yang dianalisis pada pakan lebih akurat.
3. Praktikan
harus lebih hati – hati pada saat mentitrasi larutan agar tidak kelebihan atau
kekurangan larutan sebagai titran, agar sesuai dalam titik equivalen titrasi.
4. Praktikan
harus lebih berhati – hati dalam pengukuran, terutama pada uji fisk daya
ambang, sampel harus dijatuhkan dengan kecepatan konstan dan dikondisikan
lingkungan yang sesuai tanpa pengaruh angin, dsb.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdullah, Luki.2010.”Reposisi
Tanaman Pakan dalam Kurikulum Fakultas Peternakan.”Lokakarya Nasional Tanaman Pakan ternak. Fakultas Peternakan
Institut pertanian Bogor, Bogor.
Adnan, Muhammad. 1989. Teknik Kromatografi Untuk Analisis Bahan
Makanan. ANDI. Yogyakarta.
Ali, Ahmad Ja’far.
2006.“Karakteristik Sifat Fisik Bungkil Kedelai, Bungkil Kelapa dan Bungkil
Sawit”,Skripsi,Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Anggorodi.1979.Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia.Jakarta.
Anggorodi.1991.Ilmu Bahan Pakan Ternak Umum. Gramedia
Pustaka Utama. Jakarta.
AOAC. 1990. Official Methods of Analisis. Asosiaion of Official Analitic Chemist. Washington DC.
USA.
Apendi.2013.”Evaluasi Kadar Asam
Lemak Bebas dan Sifat Organoleptik pada Telur Asin Asap dengan Lama Pengasapan
yang berbeda.”Jurnal Ilmu Peternakan.Vol
(1) : 142 – 150.
Bahri, Syaiful.2008.”Evaluasi Energi
Metabolisme Pakan Lokal pada Ayam Petelur.”Jurnal
Agroland.Vol (15) : 75 – 78.
Budiyanto, Devi.2008.”Perubahan
Kandungan β_karoten dalam Kandungan Asam Lemak Bebas Minyak Sawit Merah selama
Pemanasan.”Seminar Nasional Sains dan
teknologi.Universitas Lampung, Lampung.
Fadillah, Muhammad.2005.”Substitusi
Tepung Ikan dengan Corn Gluten Meal terhadap Efisiensi Pergerakan Bahan pada
system Produksi Kontinu Pellet Broiler Finisher,”Skripsi, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Hartadi, Hari. 1992. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Fakultas
Peternakan UGM. Yogyakarta.
Hartadi, H., Soedomo R., dan A. D.
Tilman. 1990. Tabel Komposisi Pakan untuk
Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Hartati, Sri. 2002. Nutrisi Ternak Dasar. Universitas Jenderal
Soedirman. Purwokerto.
Indartono, S.A.2003.”Corn Gluten
Meal sebagai sumber energy dan protein Pakan.”Poultry Indonesia.No (280) :30 – 31.
Jaelani, Achmad. 2007. “Kualitas
Fisik dan Kandungan Nutrisi Bungkil Inti Sawit dari Berbagai Proses Pengolahan
Crude Palm Oil”. A’ulum. Volume 33.
Nomor 33: 1-7.
Kamal, M. 1998. Bahan Pakan dan Ransum Ternak. Laboratorium Makanan Ternak Jurusan
Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.
Khalil. 1997. Pengolahan Sumber Daya Bahan Makanan Ternak.
Bahan Kuliah Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Khalil. 1999. “Pengaruh
Kandungan Air dan Ukuran Partikel terhadapSifat Fisik Pakan Lokal : Sudut
Tumpukan, Kerapatan Tumpukan, Kerapatan Pemadatan Tumpukan, Berat Jenis, Daya
Ambang, dan Faktor Higroskopis”. Media
Peternakan. Vol 22 (1) : 1 – 11.
Lubis, D. A. 1993. Ilmu Makanan Ternak. PT Pembangunan.
Bogor.
Marpaung, Corry adelina.2011.”Uji Fisik dan
Evaluasi Kecernaan Biskuit Berbasis Rumput Lapang dan Limbah Tanman Jagung pada
Domba,” Skripsi, Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Mujanisa, A. 2007.“Uji Fisik Jagung
Giling pada Berbagai Ukuran Partikel”.Bulletin
Nutrisi dan Makanan Ternak. Volume 6 (1).
Musfiroh, ida.1999. Analisis Proksimat dan Penetapan Kadar
β-Karoten dalam Selai Lembaran Terung Belanda (Cyphomandra betacea Sendtn)
dengan Metode Spektrofotometri Sinar Tampak. Fakultas Farmasi Universitas
Padjajaran.
Parakkasi,
Aminuddin. 1983. Ilmu Gizi dan Makanan
Ternak. Angkasa. Bandung.
Qomariyah, Novia. 2004. “Uji Derajat
Keasaman (PH), Kelarutan, Kerapatan dan Sudut Tumpukan untuk Mengetahui
Kualitas Bahan Pakan Sumber Protein”, Skripsi,
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Rahardjo, T. 2002. Ilmu
Teknologi Bahan Pakan . Fakultas Peternakan. Universitas Jendral Soedirman.
Purwokerto.
Reksohadiprojo. 1981. Produksi
Thaman Hijauan Ternak Tropik. Badan Penerbit Fakultas Ekonomi. Yogyakarta.
Retnani, Yuli.2010.”Uji Daya Simpan dan
Polabilitas Wafer Ransum Komplit Pucuk dan Ampas Tebu Untuk Sapi Pedet.” Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan.
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Soejono, M. 2004. Petunjuk Laboratorium Analisis dan Evaluasi Pakan. Fakultas
Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Srigandono, Bambang. 1985. Ilmu
Peternakan. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Sudarmadji, S. 1997. Prosedur untuk Analisa Bahan Pakan dan
Pertanian. Liberty. Yogyakarta.
Sultoni, Aziz.2006.”Pengaruh
Penggunaan Berbagai Konsentrat Pabrikan terhadap Optimalisasi Konsumsi Pakan,
Hen Day Production dan Konversi Pakan.” Jurnal
Protein.Vol 14(2).
Sutardi, T. R. Dan S. Rahayu. 2003. Bahan Pakan dan Formulasi Ransum. Fakultas
Peternakan Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.
Sutardi, Tri Raharjo.2012.Ilmu Bahan pakan.Fakultas Peternakan
Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Tangendjaja, Budi dan
Elizabeth.2007.”Limbah Tanaman dan Produk Samping Industri Jagung untuk Pakan.”
Balai Penelitian Ternak, Bogor.
Tillman, Allen D. 1989. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Widodo.1981.Nutrisi dan Pakan Unggas Konstektual.Gadjah Mada University
Press.Yogyakarta.
Yuliastanti, Anna. 2001. Uji Sifat Fisik
Ransum Ayam Broiler Starter Bentuk Mash, Pallet dan Crumble Selama Penyimpanan
Enam Minggu.
Langganan:
Postingan (Atom)
