Translate

Jumat, 27 Desember 2013

Taylor Swift - Back To December





Song Title: Back to December
Artist: Taylor Swift

I’m so glad you made time to see me
How’s life, tell me how’s your family
I haven’t seen them in a while
You’ve been good, busier then ever
We small talk, work and the weather
Your guard is up and I know why

‘Cause the last time you saw me
Is still burned in the back of your mind
You gave me roses and I left them there to die

(Chorus)
So this is me swallowing my pride standing in front of you saying I’m sorry for that night
And I’d go back to December all the time
It turns out freedom ain’t nothing but missing you Wishing I’d realized what I had when you were mine
I’d go back to December turn around and make it all right
I go back to December all the time

These days I haven’t been sleeping
Staying up playing back myself leaving
When your birthday passed and I didn’t call
And I think about summer, all the beautiful times
I watched you laughing from the passenger side and realized I loved you in the fall
And then the cold came, the dark days when fear crept into my mind
You gave me all your love and all I gave you was goodbye

(Chorus)
So this is me swallowing my pride standing in front of you saying I’m sorry for that night
And I’d go back to December all the time
It turns out freedom ain’t nothing but missing you Wishing I’d realized what I had when you were mine
I’d go back to December turn around and make it all right
I go back to December all the time

I miss your tan skin, your sweet smile, so good to me, so right
And how you held me in your arms that September night,
The first time you ever saw me cry
Maybe this is wishful thinking
Probably mindless dreaming
If we loved again I swear I’d love you right

I’d go back in time and change it but I can’t
So if the chain is on your door, I understand

(Chorus)
But this is me swallowing my pride standing in front of you saying I’m sorry for that night
And I’d go back to December all the time
It turns out freedom ain’t nothing but missing you Wishing I’d realized what I had when you were mine
I’d go back to December turn around and make it all right
I go back to December all the time

Taylor Swift - Love Story

"Love Story"

We were both young when I first saw you.
I close my eyes and the flashback starts:
I'm standing there on a balcony in summer air.

See the lights, see the party, the ball gowns.
See you make your way through the crowd
And say, "Hello,"
Little did I know...

That you were Romeo, you were throwing pebbles,
And my daddy said, "Stay away from Juliet"
And I was crying on the staircase
Begging you, "Please don't go"
And I said...

Romeo, take me somewhere we can be alone.
I'll be waiting; all that's left to do is run.
You'll be the prince and I'll be the princess,
It's a love story, baby, just say, "Yes."

So I sneak out to the garden to see you.
We keep quiet 'cause we're dead if they knew
So close your eyes... escape this town for a little while.
Oh, oh.

'Cause you were Romeo – I was a scarlet letter,
And my daddy said, "Stay away from Juliet."
But you were everything to me,
I was begging you, "Please don't go."
And I said...

Romeo, take me somewhere we can be alone.
I'll be waiting; all that's left to do is run.
You'll be the prince and I'll be the princess.
It's a love story, baby, just say, "Yes."

Romeo, save me, they're trying to tell me how to feel.
This love is difficult but it's real.
Don't be afraid, we'll make it out of this mess.
It's a love story, baby, just say, "Yes."

Oh, oh.

I got tired of waiting
Wondering if you were ever coming around.
My faith in you was fading
When I met you on the outskirts of town.
And I said...

"Romeo, save me, I've been feeling so alone.
I keep waiting for you but you never come.
Is this in my head? I don't know what to think."
He knelt to the ground and pulled out a ring and said...

"Marry me, Juliet, you'll never have to be alone.
I love you, and that's all I really know.
I talked to your dad – go pick out a white dress
It's a love story, baby, just say, "Yes."

Oh, oh, oh, oh, oh.

'Cause we were both young when I first saw you.

Sabtu, 14 Desember 2013

LAPORAN ILMU BAHAN PAKAN



LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
ILMU BAHAN PAKAN



                                                                
Oleh:
RINA APRILIA
D1E012054
KELOMPOK 50

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PETERNAKAN
LABORATORIUM ILMU BAHAN MAKANAN TERNAK
PURWOKERTO
2013

I. PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang
Alam telah menyediakan berbagai jenis tanaman yang melimpah dan berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan pakan ternak. Hijauan adalah seluruh macam tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan. Terdapat beberapa hijauan yakni gramineae, leguminosa, browse kelompok ramban dan limbah pertanian. Bahan pakan selain dari hijauan juga berasal dari konsentrat. Seiring perkembangan zaman yang semakin modern banyak produk sampingan dari bahan makanan manusia dapat digunakan untuk bahan pakan ternak. Sehingga apabila tidak diberikan pedoman dalam pemberian nama bahan pakan, maka dapat menimbulkan keraguan.
Nomenklatur atau pemberian nama bahan pakan mempunyai maksud untuk mengoreksi ketidaktepatan dalam pemberian nama bahan pakan, selain itu juga untuk menyatukan nama bahan pakan secara internasional karena diduga setiap daerah atau Negara mempunyai beragam sebutan untuk suatu bahan pakan yang sama. Nomenklatur juga perlu diketahui untuk mengidentifikasi suatu bahan pakan. Mengidentifikasi berarti dapat mengetahui secara rinci dari bahan pakan tersebut.
Mengidentifikasi bahan pakan sebelumnya bahan pakan tersebut harus dianalisis terlebih dahulu. Dalam menganalisis tentu membutuhkan alat yang menunjang. Oleh karena itu sebelum praktikum perlu dilakukan pengenalan alat yang ada di laboratorium, agar nantinya praktikan dapat mengetahui fungsi dari alat yang digunakan. Dengan mengetahui bentuk fisik dn fungsi dari masing – masing alat diharapkan dapat mengefisienkan acara praktikum.
Bahan pakan dikatakan mempunyai kualitas yang bagus apabila komponen yang terkandung didalamnya terdiri atas berbagai macam zat nutrisi lengkap. Nutrisi yang lengkap pada bahan pakan mempunyai kolerasi terhadap produktifitas ternak itu sendiri. Sebagai contoh bahan pakan yang bagus mempunyai kadar lemak, kadar protein, kadar serat kasar, mineral, vitamin, yang dibutuhkan oleh tubuh, terutama pada ternak untuk pertumbuhan, pertambahan bobot, produksi susu pada sapi perah, dan lain sebagainya.
Bahan pakan harus dianalisis secara kimia, hal ini diperlukan untuk mengetahui nutrisi penyusun bahan pakan. Menganalisis berarti mengurai dari satu kesatuan bahan pakan menjadi komponen – komponen penyusunnya. Oleh karena komponen penyusunnya adalah komponen kimia maka analisisnya disebut analisis kimia. Komponen yang dimaksud adalah nutria yang terdapat dalam bahan pakan. Apabila telah diketahui komponen penyusunnya, maka kita dapat menduga kualitas bahan pakan yang dimaksud.
Pengujian bahan pakan dapat dilakukan beberapa cara, dua diantaranya adalah analisis proksimat dan analisis Van_Soest. Analisis proksimat dilakukan untuk mengetahui kandungan bahan pakan, seperti kadar air, kadar abu, protein kasar, serat kasar, lemak kasar, kadar bahan organic dan BETN. Sedangkan analisis Van_Soest dilakukan untuk hijauan yaitu untuk mengetahui sejauh mana hijaun tersebut dapat dicerna oleh ternak karena analisis ini  menganalisis karbohidrat dan protein yang mudah dicerna. Analisis proksimat memiliki manfaat sebagai penilaian terhadap kualitas bahan pakan. Selain itu, sebagai analisis formula ransum yang baik. Kemudian kita bisa menyusun formula ransum baru dengan menambahkan zat pakan yang diperlukan.
Sifat fisik merupakan hal penting dalam industri pakan atau usaha ternak. Efisiensi proses penanganan, pengolahan dan penyimpanan dalam usaha atau industri pakan tidak hanya membutuhkan informasi tentang komposisi kimia bahan dan nutrisi saja tetapi juga meliputi sifat fisik sehingga kerugian selama pengolahan pakan dapat dihindari. Karakteristik fisik bahan dapat mencakup aspek yang sangat luas mulai dari sifat – sifat fisik itu sendiri seperti ukuran, bentuk, struktur, tekstur dan warna.
Pengetahuan sifat fisik dan termal butiran penting dalam masalah panas dan pemindahan massa bahan, termasuk penyimpanan butiran, pengeringan, aerasi, pendinginan dan pengolahan. Proses penggilingan dan pembakaran akan berpengaruh terhadap karakteristik produk, seperti ukuran dan bentuk partikel, berat jenis dan lainnya. Dengan menguji fisik dari bahan pakan dapat memberikan kemudahan yakni dapat memperkirakan waktu pencampuran ransum, mempermudah pengemasan, efisiensi tempat dan waktu maupun dalam penggudangan.
Asam lemak bebas bebas ditentukan sebagai kandungan asam lemak yang terdapat paling banyak dalan miyak tertentu. Asam lemak bebas atau free fatty acid terdapat dalam plasma. Asam lemak bebas mengandung gugus karboksil dan rantai tidak bercabang. Asam lemak terdiri atas lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Asam lemak bebas termasuk asam lemak tidak jenuh, karena memiliki rantai rangkap.
Mengetahui besarnya FFA pada suatu bahan pakan sangat penting untuk diketaui. Dengan mengetahui kadar asam lemak bebas bahan pakan, maka dapat diketahui waktu lamanya penyimpanan yang efektif. Karena kadar asam lemak bebas (FFA) yang tinggi untuk bahan pakan makan kualitasnya jelek, yakni mudah tengik. Mudah tengiknya disebabkan rantai rangkap dari asam lemak bebas mudah untuk berikatan dengan oksigen (O2).
Ternak tiap harinya memerlukan energi untuk beraktivitas setiap hari. Energi tersebut diperoleh dari pakan yang dimakannya. Energi yang dihasilkan dari sutau bahan pakan berasal dari tiga nutrient pakan, yaitu protein, lemak dan karbohidrat. Dari ketiga nutrient tersebut lemak mempunyai nutrient paling tinggi dalam menyumbang sumber energi. Pada hewan non ruminansia ternak kurang lebih memerlukan 2.800-3.200 kkal untuk memenuhi kebutuhan merombak lemak dijaringan adipose untuk dijadika energi.
Bila suatu nutrient organic dibakar semua hinga menghasilkan oksidasi (CO2, H2, gas dan oksidasi lain) maka panas yang dihasilkan disebut energi bruto. Untuk menentukan besarnya energi bruto atau gross energy dari suatu nutrient atau bahan pakan dapat digunakan bom kalorimeter. Besarnya nilai energi bruto dari bahan pakan tidaklah sama, tergantung komposisi yang terkandung dalam bahan pakan tersebut. Energi bruto digunakan untuk menghitung besarnya energi yang terpakai.


1.2.      Waktu dan Tempat
Praktikum Ilmu Bahan Pakan dilaksanakan pada hari Kamis - Sabtu, 21-23 November 2013 pukul 15.30 WIB s.d. selesai, di Laboratorium Ilmu Bahan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

II. TUJUAN DAN MANFAAT
2.1. Tujuan
1.    Mahasiswa dapat mengetahui jenis bahan pakan maupun hijauan dan konsentrat serta tata nama atau nomenklatur bahan pakan.
2.    Mahasiswa mengetahui bentuk alat dan fungsinya yang digunakan dalam analisis bahan pakan.
3.    Mahasiswa dapat mengetahui kandungan zat dalam bahan pakan yang akan diuji menggunakan analisis proksimat.
4.    Mahasiswa dapat mengetahui fungsi analisis fisik bahan pakan yang meliputi sudut tumpukan, daya ambang, berat jenis dan luas permukaan spesifik bahan pakan.
5.    Mahasiswa dapat mengetahui kandungan asam lemak bebas pada suatu bahan dan prosedur uji FFA.
6.    Mahasiswa dapat mengetahui besarnya energi bruto dari suatu bahan dan prosedur pengukuran  Gross Energy.
2.2. Manfaat
1.    Mengetahui nomenklatur bahan pakan akan lebih mudah dalam mengidentifikasi komposisi yang terkandung dalam bahan pakan.
2.    Menambah pengetahuan tentang alat-alat laboratorium dan mengetahui fungsi alat yang digunakan dalam analisis bahan pakan
3.    Mengetahui kandungan zat yang terdapat dalam bahan pakan sehingga dapat mengetahui kualitas bahan pakan yang dianalisis.
4.    Memberikan kemudahan dalam pengetahuan karakteristik fisik bahan pakan yang dapat digunakan sebagai indikator dalam pengelolaan pakan.
5.    Menambah pengetahuan kandungan lemak bebas pada suatu bahan dan mengetahui prosedur FFA
6.    Menambah pengetahuan tentang Gross Energy dan prosedur pengukurannya.


III.             TINJAUAN PUSTAKA

3.1.      Nomenklatur Bahan Pakan dan Pengenalan Alat
Pakan adalah bahan yang dimakan dan dicerna oleh seekor hewan yang mampu menyajikan hara atau nutrien yang penting untuk perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan, reproduksi (birahi, konsepsi, kebuntingan) serta laktasi (produksi susu). Bahan makanan ternak adalah suatu bahan yang dapat dimakan oleh hewan yang mengandung energi dan zat gizi (atau keduanya) didalam makan tersebut (Hartadi, 1990).  Sedangkan menurut Rahardjo (2002), bahan pakan yaitu segala sesuatu yang dapat dimakan hewan (ternak) yang mengandung unsur gizi dan atau energi, yang tercerna sebagian atau seluruhnya dengan tanpa mengganggu kesehatan hewan yang bersangkutan.
Bahan pakan dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu konsentrat dan bahan berserat. Konsentrat (produk bijian atau butiran) serta bahan berserat (jerami atau rumput) merupakan komponen atau penyusun ransum. Suatu kombinasi bahan pakan seperti yang tertera dalam mengandung unsur-unsur esensial (nutrien) untuk kebutuhan seekor hewan (Srigandono, 1985).
Hijauan adalah bahan makanan yang mengandung serat kasar 18% atau lebih. Angka batasan ini hanya sekedar patokan penolong, karena didalam praktek sering didapatkan hal-hal yang berada diluar batasan ini kualitas hijauan sangat bervariasi yang disebabkan oleh beberapa perbedaan dalam spesies, umur, kesuburan tanah, sumber-sumber air dan lain sebagainya (Parakkasi, 1983).
Seiring perkembangan zaman yang semakin modern banyak produk sampingan dari bahan makanan manusia dapat digunakan untuk bahan pakan ternak. Sehingga apabila tidak diberikan pedoman dalam pemberian nama bahan pakan, maka dapat menimbulkan keraguan. Nomenklatur berisi tentang peraturan untuk pencirian atau tatanama bahan pakan. Setiap ciri atau nama internasional dari suatu bahan pakan ditentukan dengan menggunakan pedoman pencirian dari satu atau lenih dari enam faset (Sutardi, 2012).
Pedoman perincian dari satu atau lebih dari enam faset dengan urutan sebagai berikut:
1.      Asal mula, yakni menjelaskan asal mula bahan pakan tersebut.
2.      Bagian yang dimakan ternak, menjelaskan bagian mananya dari bahan asal yang dimakan ternak.
3.      Proses, menjelaskan proses yang dialami bagian pakan sebelum diberikan pada ternak.
4.      Tingkat kedewasaan, menjelaskan tingkat umur bahan pakan yang diberikan kepada ternak.
5.       Defoliasi, hanya digunakan untuk bahan pakan hijauan dan biasanya berkaitan dengan perkiraan kandungan nutrient dari bahan pakan tersebut.
6.      Grade, yaitu tanggungan nutrient yang baik pada bahan pakan (Sutardi, 2012).
Alat laboratorium kimia merupakan benda yang dapat dipergunakan dalam kegiatan di laboratorium kimia yang dapat dipergunakan berulang-ulang. Contoh alat laboratorium kimia : pembakar spirtus, thermometer, tabung reaksi, gelas ukur dan lain sebagainya. Alat yang digunakan secara tidak langsung didalam praktikum merupakan alat bantu laboratorium, seperti pemadam kebakaran dan kotak pertolongan pertama.
Pengenalan alat bertujuan untuk menentukan tetapan hasil analisis kimia yang akurat. Pengunaan alat-alat laboratorium antara lain untuk penimbangan, penyaringan, pengukuran volume cairan, pemijaran dan pengabuan, dan pengeringan (Sudarmadji, 1997). Sedangkan menurut Hartati (2002), penggunaan alat-alat laboratorium antara lain sebagai alat penimbangan, pengukuran volume cairan, melarutkan zat padat, penyaringan, pemijaran dan pengabuan serta penyaringan. Penimbangan menggunakan timbangan, penyaringan menggunakan kertas saring, dan corong buncher, pengaturan volume cairan menggunakan gelas ukur, pipet ukur, pipet volume, labu ukur dan buret. Pemijaran menggunakan tanur dan cara sederhana pengeringan menggunakan oven.
Alat yang terbuat dari gelas salah satunya adalah labu erlenmeyer, digunakan untuk menganalisis bahan. Labu ini hendaknya berkapasitas 50, 100 dan 250 ml, dan yang mempunyai bentuk griffin sangatlah berguna dalam analisis kuantitatif. Bom kalorimeter merupakan alat untuk mengukur besarnya energi yang terdapat dalam bahan pakan, bom kalorimeter memiliki bagian-bagian seperti bom, statif, adigator, bucket, jucket dan lubang oksigen.
3.2.      Analisis Proksimat
Analisis proksimat kali pertama dikembangkan di Weende Experiment Station Jerman oleh Hennerberg dan Stokman, oleh karenanya analisis ini sering juga dikenal dengan Analisis Weende. Analisis proksimat menggolongkan komponen yang ada pada bahan pakan berdasarkan komposisi kimia dan fungsinya, yaitu: air (moisture), abu (ash), protein kasar (crude protein), lemak kasar (ether extract), serat kasar (crude fiber) dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (nitrogen free extract). Analisis proksimat menggolongkan vitamin berdasarkan kelarutannya. Vitamin yang larut di dalam air dimasukkan ke dalam fraksi air, sedang yang larut dalam lemak dimasukan ke dalam lemak kasar (Soejono, 2004).
Air yang dimaksud dalam analisis proksimat adalah semua cairan yang menguap pada pemanasan selama beberapa waktu pada suhu 1050 C dengan tekanan udara bebas sampai sisanya yang tidak menguap mempunyai bobot tetap. Kadar dalam bahan makanan terdapat dalam bentuk air terikat dan air bebas. Air terikat sangat sukar dihilangkan dngan cara penguapan atau pengeringan (Yuliastanti, 2001). Penghitungan kadar air yakni banyaknya air yang terkandung pada suatu bahan makanan dapat diketahui jika bahan tersebut dipanaskan atau dikeringkan pada temperatur tertentu. Ukuran berat sebelum dan setelah dipanaskan dicari selisihnya maka akan sama dengan berat air (Lubis, 1993).
Anggorodi (1991), menyatakan bahwa zat-zat mineral sebagai suatu golongan dalam pakan atau jaringan  hewan ditentukan dengan membakar zat organik dan kemudian menimbang ini disebut kadar abu. Abu hasil pembakaran dapat digunakan sebagai titik tolak untuk determinasi presentase zat tertentu yang terdapat pada bahan pakan. Kadar abu bahan pakan menunjukan kualitas dari bahan pakan tersebut karena semakin tinggi bahan organik pada pakan berarti bahan pakan tersebut banyak mengandung karbon. Sedangkan menurut Soejono (2004), meskipun abu terdiri dari komponen mineral, namun bervariasinya unsur mineral dalam pakan asal tanaman menyebabkan abu tidak dapat dipakai sebagai indeks untuk menentukan jumlah unsur mineral tertentu.
Istilah lemak kasar menggambarkan bahwa zat dimaksud bukan hanya mengandung senyawa yang tergolong ke dalam lemak tetapi termasuk senyawa lain. Lemak mempunyai konsentrasi energi paling tinggi dibanding nutrien pakan lainnyakarena mempunyai struktur intra molekuler karbon dan hidrogen yang lebih banyak sehingga lemak merupakan sumber kalori yang penting disamping berperan sebagai pelarut vitamin. Defisiensi lemak pada ransum akan mengakibatkan gangguan pencernaan, penurunan efisiensi pakan, gangguan reproduksi dan laktasi, kulit bersisik, bulu rontok, pertumbuhan suboptimal, dan kematian. Kelebihan lemak pada ransum akan mengakibatkan lemak tubuh menjadi lunak dan kualitas karkas menurun (Tillman, 1989).
Protein merupakan salah satu zat makanan yang berperan dalam penentuan produktivitas ternak. Jumlah protein dalam pakan ditentukan dengan kandungan nitrogen bahan pakan melalui metode kjeldahl yang kemudian dikali dengan faktor protein : 6,25. Angka 6,25 diperoleh dengan asumsi bahwa protein mengandung 16% nitrogen. Kelemahan analisis proksimat untuk protein kasar itu sendiri terletak pada asumsi dasar yang digunakan. Pertama, diasumsikan bahwa semua nitrogen bahan pakan merupakan protein padahal kenyataannya tidak semua nitrogen berasal dari protein dan kedua, bahwa kadar nitrogen protein 16%, tetapi kenyataannya kadar nitrogen protein tidak selalu 16% (Soejono, 2004).
Penentuan kadar protein melalui metode kjeldahl dilakukan melalui tahap sebagai berikut :
1. Proses destruksi (oksidasi), perubahan N protein menjadi amonium sulfat ((NH4­)2 SO4). Sampel dipanaskan dengan asam sulfat (H2SO4) pekat dan katalisator yang akan memecah semua ikatan N dalam bahan pakan menjadi amonium sulfat kecuali ikatan N=N, NO, dan N2. CO dan H2O terus menguap. SO2 yang terbentuk sebagai hasil reduksi dari sebagian asam sulfat juga menguap. Dalam reaksi ini digunakan katalisator selenium (Hg/Cu). Destruksi dihentikan jika larutan barwarna hijau jernih. Zat organik  + H2SO4              CO2 + H2O + (NH4)2 SO4 + SO2
2. Proses Destilasi (Penyulingan). Setelah larutan menjadi hijau jernih, labu destruksi didinginkan kemudian larutan dipindahkan ke labu destilasi dan diencerkan dengan aquades. Pengenceran dilakukan untuk mengurangi reaksi yang hebat jika larutan ditambah alkali. Penambahan alkali (NaOH) menyebabkan (NH4)2SO4 akan melepaskan amoniak (NH3). Hasil sulingan uap NH3 dan air ditangkap oleh larutan H2SO4 yang terdapat dalam labu erlenmeyer dan membentuk senyawa (NH4)2SO4 kembali. Penyulingan dihentikan bila semua N sudah tertangkap oleh asam sulfat dalam labu erlenmeyer. NH3 + H2SO4                                (NH4)2SO4 + H2SO4
3. Proses titrasi, kelebihan H2SO4 yang tidak digunakan untuk  menangkap N dititrasi dengan NaOH. Titrasi dihentikan jika larutan berubah dari biru ke hijau.Hasil praktikum kadar protein kasar didapat sebesar 3,053%.
Serat berisi selulosa, hemiselulosa dan lignin. Ini adalah komponen dalam dinding sel tanaman dan dapat dicerna oleh hewan-hewan. Sampel yamg sudah bebas lemak dan telah disaring dipakai untuk mendapatkan serat kasar. Sampel bila ditambah 1,25% larutan asam sulfat dan dipanaskan ± 30 menit, kemudian residu disaring. Endapan yang didapat ditambah 1,25% larutan NaOH dan dipanaskan 30 menit, disaring dan kemudian endapan yang dicuci, dikeringkan dan ditimbang, lalu dibakar dan abunya ditimbang. Perbedaan antara berat endapan sebelum dibakar dan berat abu disebut serat kasar (Musfiroh, 1999).
Kelemahan analisis proksimat adalah karena bersifat perkiraan, jadi tidak terlalu akurat. Analisis proksimat disempurnakan oleh analisis Van Soest mampu membedakan karbohidrat yang bermanfaat dari yang kurang bermanfaat. Mampu membedakan protein yang larut dalam pepsin (makin banyak kadar ADEK, semakin banyak protein bahan makanan yang tidak dapat dicerna oleh pepsin (Tillman, 1989).
3.3.      Uji Fisik Bahan Pakan
Sifat fisik merupakan hal penting dalam industri pakan atau usaha ternak. Efisiensi proses penanganan, pengolahan dan penyimpanan dalam usaha atau industri pakan tidak hanya membutuhkan informasi tentang komposisi kimia bahan dan nutrisi saja tetapi juga meliputi sifat fisik sehingga kerugian selama pengolahan pakan dapat dihindari (Yuliastanti, 2001). Contohnya seperti efisien dalam penggudangan pengemasan dalam suatu badan usaha, khususnya usaha dalam bidang pakan ternak.
Sifat fisik pakan adalah salah satu faktor yang sangat penting untuk diketahui. Karakteristik fisik bahan dapat mencakup aspek yang sangat luas mulai dari sifat-siat fisik itu sendiri seperti ukuran, bentuk, struktur, tekstur, warna, sifat-sifat optik dan penampakan. Kemudian sifat-sifat yang menyangkut dengan panas, seperti panas jenis, panas laten, konduktifitas dan difusi panas. Selain itu masih terdapat sifat-sifat yang berhubungan dengan kelistrikan seperti konduktifitas listrik, konstanta dielektrik dan sebagainya.
Karakteristik atau sifat bahan makanan ternak sangat berpengaruh dalam proses pengolahan bahan pakan. Banyak jenis pakan lokal yang ketersediaannya cukup potensial dan telah direkomendasikan oleh ahli nutrisi dalam bentuk formula ransum yang lebih ekonomis daripada formula yang menggunakan bahan baku impor, akan tetapi penggunaan bahan baku lokal ini sering menimbulkan kesulitan bagi pengelola pabrik pakan yang menangani dan memprosesnya karena adanya perbedaan fisik (Mujanisa, 2007).
Sifat fisik pakan adalah salah satu faktor yang sangat penting untuk diketahui. Keefisienan suatu proses penanganan, pengolahan dan penyimpanan dalam industri pakan tidak hanya membutuhkan informasi tentang komposisi kimia dan nilai nutrisi saja, tetapi juga menyangkut sifat fisik, sehingga ketinggian akibat kesalahan penanganan bahan pakan (Jaelani, 2007).
Keberhasilan teknologi pakan, homogenitas pengadukan ransum, laju aliran pakan dalam organ pencernaan, proses absorbsi dan deteksi kadar nutrien semuannya terkait dengan sifat fisik pakan. Sifat fisik dan tekstur menentukan parameter yang penting untuk merancang alat proses (pengolahan), memenuhi syarat pengemasan, serta kondisi penyimpanan (Ali, 2006).
Menurut Chuang dan Lee (1985) dalam Jaelani (2007) bahwa sifat fisik psksn adalah salah satu faktor yang sangat penting untuk diketahui. Pengetahuan sifat fisik dan thermal butiran penting dalam masalah panas dan pemindahan masa bahan, termasuk penyimpanan butiran, pengeringan, aerasi, pendinginan dan pengolahan. Proses penggilingan dan pembakaran akan berpengaruh terhadap karakteristik produk, seperti ukuran dan bentuk partikel, berat jenis dan lainnya.
3.4.      Free Fatty Acid (FFA)
Kandungan asam lemak bebas dalam biji-bijian berminyak atau dalam minyak yang dihasilkan dapat bervariasi. Oleh karena itu, pengukuran besarnya asam lemak bebas total maupun asam lemak bebas individual perlu dikerjakan untuk dapat menerangkan penyebab bervariasinya kandungan asm lemak tersebut (Adnan, 1989).
Asam lemak digolongkan sebagai asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh mempunyai dua atau lebih molekul yang hilang. Molekul-molekul hidrogen yang hilang tersebut dapat diisi melalui suatu proses yang disebut hidrogenisa. Asam lemak tidak jenuh mempunyai titik didih yang rendah dan lebih relatif dari pada asam lemak jenuh (Anggorodi, 1979).
Asam lemak jenuh mempunyai formula umum CnH2nO2 dan titik didihnya meninggi sesuai dengan atom karbon yang meninggi. Diantara asam-asam lemak, asam asetat mempunyai peranan penting sebagai zat antara dari cyclus dimana karbohidrat, lemak dan protein dapat saling diubah atau digunakan sebagai sumber energy dan akhirnya dirombak menjadi karbon dioksida (CO2 dan air). Sifat daripada asam lemak ditentukan oleh susunan asam lemaknya.
Asam lemak bebas menunjukkan sejumlah lemak bebas yang dikandung oleh minyak yang rusak, terutama karena peristiwa oksidasi dan hidrolisis. Reaksi hidrolisis disebabkan oleh kandungan air dalam bahan pangan yang digoreng. Disamping itu terdapat enzim lipase pada ternak atau minyak mampu menghidrolisis trigliserida, akan tetapi pengaruh hidrolisis enzim ini tidak efektif karena ada pemasakan. Reaksi lain yang menghasilkan asam lemak bebas adalah oksidasi yang dihasilkan dari pemecahan dan oksidasi ikatan rangkap.
3.5.      Gross Energy (GE)
Energi membuat hewan sanggup untuk melakukan suatu pekerjaan dan proses-proses produksi lainnya. Semua bentuk energi diubah ke dalam panas. Jadi, energi yang ada hubungannya dengan proses-proses tubuh dinyatakan dalam unit panas (kalori). Kilokalori ( Kkal) adalah jumlah panas yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu satu kilogram air derajat celcius dan sama dengan 100 kalori kecil (Anggorodi, 1979).
Bila hewan diberi makan protein dan energi yang dihasilkan melebihi kebutuhan hidup pokoknya, maka hewan tersebut untuk pertumbuhan dan produksi – produksi. Hewan muda menyimpan energi terutama untuk protein, sedangkan hewan dewasa dalam bentuk lemak (Tillman, 1989).
Energi yang dibutuhkan hampir dalam semua proses kehidupan terutama dalam proses metabolisme, misalnya untuk mengelola darah dan tenunan urat daging, denyut jantung. Pemindahan impuls, impuls syaraf, protein dan lemak, pembentukan air susu an lain sebagainya. Dalam praktek dapat terlihat bahwa komponen terbanyak dari suatu ransum normal adalah energy pada ternak babi sekitar 70% sedangkan pada ternak unggas sekitar 50%  (Parrakkasi, 1983).
Energi bruto adalah sisa energi dari suatu pembakaran senyawa kimia berupa pembakaran senyawa organik yang dapat diketahui banyaknya dengan analisis proksimat mengandung energi kimia. Energi bisa dibebaskan untuk menghasilkan energi dalam berbagai bentuk jika dioksidasi. Energi bahan pakan ditentukan dengan membakar jumlah bahan sehingga diperoleh hasil oksidasi yang berupa monodioksida air dan gas lainnya.
Energi pakan yang dikonsumsi ternak dapat digunakan dalam 3 cara; antara lain:
1.   Menyediakan energi untuk antivirus.
2.   Dapat dikonversi menjadi panas.
3. Dapat disimpan sehingga jaringan tubuh untuk kebutuhan normal dan metabolisme biasanya disimpan sebagai lemak kelebihan energi tersebut dapat dibuat (diekskresikan) oleh tubuh ternak (Parakkasi, 1983).
Energi bruto suatu bahan makanan dapat ditentukan dengan membakar sejumlah bahan tersebut sehingga diperoleh hasil-hasil oksidasi yang berupa karbondioksida, air dan gas-gas lainnya. Untuk tujuan ini digunakan suatu bom kalorimeter guna mengukur panas yang ditimbulkan oleh pembakaran tersebut. Bom kalorimeter terdiri dari suatu bejana yang tertutup dimana bahan makanan tersebut dibakar (Anggorodi, 1979).


IV.             MATERI DAN CARA KERJA

4.1.      Materi
4.1.1.   Nomenklatur Hijauan Bahan Pakan dan Pengenalan Alat
4.1.1.1. Nomenklatur Bahan Pakan Hijauan
1.        Rumput Raja
2.        Rumput Benggala
3.        Rumput Gajah
4.        Setaria Lampung
5.        Setaria Ancep
6.        Daun Pisang
7.        Jagung
8.        Daun pepaya
9.        Gamal
10.    Daun Nangka
11.    Daun Waru
12.    Daun Murbey
13.    Jerami Padi
14.    Daun Rami
15.    Daun Kaliandra
16.    Daun Lamtoro
17.    Daun Dadap

4.1.1.2. Nomenklatur Bahan Pakan Konsentrat
1.
Jagung Pipilan
10.
Kapur
2.
Onggok
11.
CuSO4
3.
Tepung Limbah Soun
12.
Phospat alam
4.
Millet
13.
Bekatul
5.
Dedak
14.
Tepung Udang
6.
Molases
14.
Bungkil Kedelai
7.
Tepung Ikan
15.
Tepung Kerabang Telur
8.
Tepung Kerang
16.
Feed Addictive
9.
Tepung Cangkang Keong



4.1.1.3. Pengenalan Alat
1.            Soxhlet                                                   16. Tabung reaksi
2.            Corong Buncher                                     17. Filler
3.            Labu didih                                              18. Pipet tetes
4.            Cawan porselin                                       19. Pipet Seukuran
5.            Labu Kjedhal                                         20. Pipet Ukur
6.            Gelas ukur                                              21. Becker Glass
7.            Corong                                                   22. Erlenmeyer
8.            Spatula                                                   23. Tang Penjepit
9.            Pompa Vacum                                        24. Tanur
10.        Oven                                                       25. Destruktor
11.        Seperangkat Alat Titrasi                         26. kondensor
12.        Kompor Listrik                                       27. Neraca Ohaus
13.        Timbangan Analitik                                28. Desikator
14.        Bom Kalorimeter                                    29. Water Bath
15.        Desilator                                                 30. Seker Water Bath

4.1.2.     Analisis  Proksimat
4.1.2.1.  Kadar Air
1. Bahan   : Corn Gluten Meal (CGM) 2 gram
2. Alat      : a.  Cawan Porselin
  b.  Oven
  c.  Desikator
  d.  Timbangan Analitik
  e.  Tang Penjepit

4.1.2.2.  Kadar Abu
        1. Bahan   : Corn Gluten Meal (CGM) 2 gram
 2. Alat       : a.  Cawan Porselin
b.  Tanur
c.  Desikator
d.  Timbangan Analitik
e.   Pembakar Bunsen


4.1.2.3.  Lemak Kasar
        1. Bahan    : a. Corn Gluten Meal (CGM) 1 gram
                            b.  Protelium Benzene
 2. Alat       : a.  Labu Penampung
    b.  Waterbath
    c.  Kertas Saring
d.  Oven
e.  Desikator
f.  Timbangan Analitik
g.  Alat ekstraksi soxhlet dan selongsongnya

4.1.2.4.  Serat Kasar
        1. Bahan   : a.  Corn Gluten Meal (CGM) 1 gram
b.  NaOH 1,5 N
c.  H2O
d.  H2SO4 0,3 N
e.  Aseton
2. Alat      : a.  Erlenmeyer 250 ml
                   b.  Kertas Saring Wathman
                   c.  Corong Tegak
  d.  Cawan Porselin
  e.  Oven
  f.  Desikator
  g.  Timbangan Analitik
  h.  Tanur
  i.   Pendingin Tegak
  j.   Kompor Listrik 

4.1.2.5.  Protein Kasar
1. Bahan   : a.  Corn Gluten Meal (CGM) 0,1 gram
b.  NaOH 40%
c.  Aquades
d.  Asam Borat
e.  Methyl Red
f.  HCl 0,1 N
g. H2SO4 pekat
2. Alat      : a.  Timbangan Analitik
                   b.  Labu Kjeldahl
                   c.  Katalisator
                   d.  Alat Penyuling
                   e.  Alat Destilasi
f.  Kompor Listrik
g.  Erlenmeyer 125 ml
h.  Alat Titrasi

4.1.3.     Uji Fisik Bahan Pakan
4.1.3.1. Sudut Tumpukan
1. Bahan  : Dedak 200 gram
2. Alat      : a. mistar siku – siku
                   b. corong
                   c. besi penyangga
                   d. timbangan analitik

4.1.3.2.  Berat Jenis/BJ (Density)
         1. Bahan   : Dedak 100 ml
         2. Alat      : a.  Gelas ukur 100 ml
                            b. Neraca Ohaus

4.1.3.3.  Daya Ambang
          1. Bahan  : Dedak 1 gram
          2. Alat     : a.  Stopwatch
                            b.  Nampan
                            c.  Timbangan Analitik

4.1.3.4.  Luas Permukaan Spesifik
         1. Bahan  :  Dedak 1 gram
         2. Alat      : a.  Ketas milimeter blok
                            b.  Spidol/bollpoint
    c.  Timbangan Analitik

4.1.4.   Free Fatty Acid (FFA)
       1.  Bahan   :  a.  Corn Gluten Meal (CGM) 7,05 gram
                            b.  Alkohol 96%
                            c.  Indikator PP
                            d.  NaOH 0,1 N
         2. Alat      : a.  Erlenmeyer
                            b.  Timbangan Analitik
                            c.  Buret
                            d.  Pipet Tetes
                            e.  Alat Titrasi

4.1.5.  Gross Energy (GE)
       1. Bahan    :  a.  Corn Gluten Meal 0.5 gram       c. Na2CO3  0,0725
                            b.  Aquadest                                   d. Indikator  methyl orange
       2. Alat        : a.  Bom Kalorimeter
                            b.  Ignition Wire
                            c.  Tabung Berisi Gas Oksigen
                            d.  Tangki Air
                            e.  Kawat Energi
                            f.  Tabung Gas
                            g.  Gelas Ukur
 
4.2.        Cara Kerja
4.2.1.     Nomenklatur Bahan Pakan dan Pengenalan Alat
4.2.1.1. Nomenklatur Bahan Pakan

Hijauan dan Konsentrat

digambar, ditulis keterangan

dibuat tabel



4.2.1.2. Pengenalan Alat

Alat

digambar, ditulis keterangan

dibuat tabel

4.2.2.     Analisis Proksimat
4.2.2.1. Analisis Kadar Air
Cawan porselin (X)

ditimbang  sampel 2 gr (Y)

dioven (1050C)

didesikator (1 jam)


ditimbang (Z)
4.2.2.2.  Analisis Kadar Abu

Cawan porselin berisi BK

ditanur 6000C (4-12 jam)

didinginkan


didesikator

sampel ditimbang  (Z)

4.2.2.3.  Lemak Kasar

Kertas saring whatman

dioven dan didesikator

sampel ditimbang 1 gr (X)

dibungkus  kertas dan ditali

dimasukan kedalam alat ekstraksi

diisi petrolium  benzen

diekstraksi (4-16 jam)

diangin-anginkan
dioven 1050 c (± 14 jam)

didesikator

ditimbang

4.2.2.4. Serat Kasar
Sampel ditimbang 1 gr

dimasukan ke erlemeyer

ditambahkan 50 ml H2SO4 0,3 N

didihkan (30 menit)

ditambahkan 25 ml NaOH 1,5 N

didihkan (30 menit)

disaring dengan kertas whatman

dilakukan pencucian : 50 ml H20 panas, 50 ml H2SO4 0,3N, 50 ml H20 panas, 25 ml aceton

saring + isinya masuk cawan oven 1050C

didesikator

timbang (Y)

ditanur 6000C

dioven

didesikator

ditimbang (Z)

4.2.3.   Uji Fisik Bahan Pakan
4.2.3.1. Sudut Tumpukan

disiapkan alat dan bahan

dipasang corong

bahan ditimbang 200 gr

bahan dituang

diukur diameter

diukur tinggi bahan
4.2.3.2. Berat Jenis

Ditimbang gelas ukur 100 ml 

sampel dimasukan

                        ditimbang

4.2.3.3. Daya Ambang
1 gram sampel

dijatuhkan dari jarak 1 m

 waktu dicatat
4.2.3.4.  Luas Permukaan Spesifik (LPS)

1 gram sampel 

diratakan pada milimeter blok 

diukur luasnya
4.2.4.   Free Fatty Acid (FFA)

timbang sampel 7,05 gr

ditambahkan 25 ml alkohol netral dan 2 ml indikator PP

dititrasi dengan larutan 0.1 N NaOH

dicapai warna merah jambu dan tidak hilang

4.2.5.  Gross Energy (GE)
ketas saring

di oven 1 jam

didesikator, ditimbang
ditambahkan sampel (0,5 gr)
dibungkus

diikat dengan kawat energi

dimasukkan bomb

ditutup, diisi O2

dimasukkan ke bucket

pasang kabel anoda dan katoda

bucket dimasukkan ke dalam bom kalorimeter

dilihat suhunya, dicombustion dan dibongkar

dihitung panjang sisa kawat

dicuci dengan akuades

air cucian diambil 10ml

dimasukkan dalam Erlenmeyer

ditetesi indikator methyl orange

orange tidak perlu dititrasi

 bila warna pink harus dititrasi

V.  HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1.      Hasil
5.1.1.   Nomenklatur Bahan Pakan dan Pengenalan Alat
5.1.1.1. Nomenklatur Bahan Pakan Hijauan
Tabel 1.    Nomenklatur Bahan Pakan Hijauan
No
Nama Hijauan
Bagian
Proses
T.Kedewa-saan
Defoliasi
Sumber
Grade
1.
Rumput raja
(Pennisetum purpureum)
Aerial
Segar
dewasa
40 -70 hari
energi
SK10-11%
PK7-9 %
2.
Rumput gajah (Pennisetum purpuroides)
Aerial
Segar
dewasa
40-70 hari
energi
PK11-14%
PK9-10%
3.
Setaria ancep
(Setaria spacelata)
Aerial
Segar
dewasa
-
energi
SK 14-19%
PK 10%
4.
Setaria lampung
(Setaria splendid)
Aerial
Segar
dewasa
-
energi
SK>18%
PK<18%
5.
Rumput benggala
(Penicium maximum)
Aerial
Segar
dewasa
40-60 hari
energi
SK 10-12%
6.
Jagung
(Zea mays)
Aerial
Segar
3 minggu
-
energi
SK>18%
PK<18%
7.
Jerami padi (Oryza sativa)
Aerial
Segar
tua
Diatas 100 hari
energi
SK 35,8%
PK3-5%
8.
Daun pepaya
(Carica papaya)
Daun
Dilayukan
dewasa
-
energi
SK 9-12%
PK 3-44%
9.
Daun rami
(Boehmeria nivea)
Daun dan batang muda
segar
dewasa
-
energi
SK>18%
PK<18%
10.
Daun pisang (Musa parasite)
Daun
Dilayukan
dewasa
-
energi
SK 9-12%
PK3-4%
11.
Daun nangka (Arthocarpus integra)
Daun, ranting
Dilayukan
dewasa
-
energi
SK 16-17%
PK 5%
12.
Daun waru
(Hibiscus ciliaceus)
Daun, ranting
Segar
dewasa
-
Energi
SK 16-17%
PK 5%
13.
Daun Murbei
(Morus indica l)
Daun, ranting
Segar
dewasa
-
Energi
SK 10-13%
14.
Lamtoro
(Leucaena glauca)
Daun, ranting
Segar
muda
-
Protein
SK 4,4%
PK 18 %
15.
Kaliandra
(Caliandra calotyrsus)
Daun, ranting
Segar
muda
-
Protein
SK13%
PK 22.4%
16.
Daun dadap
(Eritrina litospermae)

Daun, ranting

Segar


dewasa
-

Energi
SK 8-9%
PK 3-4%

17.
Daun Gamal
(Glirisida Maculata)
Daun dan batang muda
Segar
dewasa
-
Protein
SK 8-10 %
PK>20%

5.1.1.2. Nomenklatur Bahan Pakan Konsentrat
Tabel 2.    Nomenklatur Bahan Pakan Konsentrat
No.
Nama Bahan
Asal
Bagian
Proses
Sumber
Grade
1.
Tepung Limbah soun
Pati singkong
Soun
Dikeringkan, digiling
Energi
SK>18%
PK<18%
2.
Jagung Pipilan
Jagung
Biji jagung
Dipipil
Energi
SK>18%
PK<18%
3.
Bekatul
Padi
Kulit ari
Dikeringkan, digiling
Energi
SK 8.9 %
PK 8.2 %
4.
Dedak
Padi
Kulit ari
digiling
Energi
PK 6% SK 8.4%
5.
Millet
Biji milet
Biji millet
Dipipil
Energi
SK 11-15%
PK 10.6 %

6.
Molases
 Tebu
Endapan tebu tetes
Diambil tetesan
Energi
SK>18%
PK 8.5 %
7.
Onggok
Singkong
Limbah singkong
Dikeringkan, digiling
Energi
SK>18%
PK<18%
8.
Bungkil kedelai
Kedelai
Biji kedelai
Dikeringkan
Protein
SK 5.36 %
PK44.95%
9.
Tepung udang
Udang
Utuh
Dikeringkan, digiling
Protein
PK 60%
10.
Tepung ikan
Ikan
Ikan utuh
Dikeringkan, digiling
Protein
SK 5.7 %
PK 49 %
11.
Tepung kerang
Kerang
Cangkang
Dikeringkan, digiling, dihaluskan
Mineral
PK 2-3%
Ca 24-30%
12.
Tepung kerabang telur
telur
kerabang
Digiling dihaluskan
Mineral
Ca 18-20%
13.
Tepung cangkang keong
Keong
Cangkang keong
Dikeringkan, digiling
Mineral
Ca=27%
14.
Kapur
Batu alam
Batu alam
Dikeringkan, digiling
Mineral
Ca 40%
15.
CuSO4
Batu alam
Batu alam
Dihancurkan
Mineral
CU 18%
16.
Phospat alam
Batuan alam
Batuan
Digiling dihaluskan
Mineral
Phospat 60 %
17.
Feed addictive
pabrikan
-
-
-
Vitamin

5.1.1.3. Pengenalan Alat
Tabel 3.    Pengenalan Alat

No
Nama Alat
Fungsi
1
Oven
Mengurangi kadar air
2
Bom Kalorimeter
Pembakaran analisis GE
3.
Corong bunncher
Untuk menyaring pada analisis serat kasar
4
Destilator
Menguapkan ikatan N
5
Destruktor
Merenggangkan ikatan N
6
Kompor listrik
Memanaskan dan refluk
7
Kondensor
Pendingin
8
Waterbath
Ekstraksi lemak kasar
9
Timbangan analitik
Mengukur dengan ketelitian 0,01
10
Seperangkat alat titrasi (Statif dan biuret)
Untuk titrasi
11
Becker glass
Mengukur larutan
12
Gelas ukur
Mengukur larutan
13
Erlenmeyer
Untuk titrasi
14
Pipet tetes
Mengambil larutan
15
Desikator
Menetralkan suhu
16
Tang penjepit
Untuk penjepit
17
Labu kjeldhal
Untuk menaruh sampel (PK)
18
Sochlet
Ekstraksi
19
Cawan porselin
Meletakkan sampel
20
Timbangan ohaus
Menimbang sampel (BJ)
21
Pipet ukur
Mengambil larutan dg ukuran yang diinginkan
22


Pipet seukuran


Mengambil larutan dengan volume tertentu


23.


Labu didih


Untuk menampung larutan


24.

 Tanur     


Mengabukan bahan dan menurunkan kadar air
25.
Pompa vacum
Menyedot larutan secara otomatis
26.
Spatula
Mengambil sampel
27.
Desikator
Menetralkan suhu
28.
Seker water bath
Seperti rumen sapi (analisis invitro)
29.
Filler
Menyedot larutan
30.
Corong
Menaruh larutan

5.1.2.      Analisis  Proksimat
5.1.2.1.  Analisis Kadar Air
Berat cawan porselin               =  19.51 gram
Berat CGM                             =  2      gram
Berat setelah di Oven             =  21.36 gram

Rumus             :           KA      = X + Y - Z /Y x 100 %
Keterangan      :           X = berat cawan
                                    Y = berat sampel
                                    Z = berat sampel setelah oven

KA                  =19. 51 + 2 - 21.36/2x 100 %
= .5 %
BK      = 100% - KA
                = 100% - 7.5 %
            =  92.5 %
5.1.2.2.  Analisis Kadar Abu
Berat cawan porselin               = 19.51 gram
Berat CMG                             = 2 gram
Berat setelah di tahur              = 19.58 gram

Rumus             : Kadar Abu    =Z - X/Y    x 100 %
Keterangan      :           X = berat cawan
                                    Y = berat sampel
                                    Z = berat sampel setelah tanur
Kadar Abu      = 19.58 - 19.51 / 2x 100 %
                        = 3.5 %
BO                    = 100 % -3.5 %
                          = 96.5 %
5.1.2.3. Analisis Lemak Kasar
Berat setelah oven 1                = 1,3    gram
Berat setelah oven 2                = 1,28  gram
Berat CGM                             = 1       gram

Rumus             : LK = Y - Z / X x 100 %
Keterangan      :           X = berat sampel
                                    Y = berat setelah oven 1
                                    Z = berat setelah oven 2
LK                   =  1.3 - 1.28 / 1 x 100 %                     = 2 %

5.1.2.4. Analisis Serat Kasar
Berat CGM                 = 1 gram
Berat kertas saring      = 0.02 gram
Berat setelah di oven  = 19.94 gram
Berat setelah di tanur  = 19.25 gram

Rumus             : SK     =  Y - Z - a / X × 100 %

Keterangan      :           Y = berat setelah di oven
                                    Z = berat setelah di tanur
                                    a = berat kertas saring
                                    X = berat sampel
 SK                  = 19.94 - 19.25 - 0.02 / 1 × 100 %
=  6.7 %
5.1.2.5.  Analisis Protein Kasar
Berat CGM                 = 0,1 gram
Titran yang dipakai     =  2.3 ml
N. HCl                                    = 0.1 N
Rumus                         :           PK = ml titran x N titran x 0.014 x 6.25/ berat sampel x BK
                                                PK =2.3 x 0.1 x 0.014 x 6.25 / 0.1 x 0.925
                                                PK = 20%
5.1.3.     Uji Fisik Bahan Pakan
5.1.3.1.  Sudut Tumpukan
Tinggi (t) sampel         :           7.1  cm
Diameter (d) sampel     :           18.3  cm
Tan α               = 2t / d
Tan α   = 2 x 7.1 / 18.3                       
Tan α   =  0,77
              α = 37.80

5.1.3.2. Berat Jenis
Volume sampel                       : 100 ml
Berat gelas ukur                      : 126.3 gram
Berat gelas ukur + sampel       : 153.2 gram

Rumus :   BJ = massa / volume
BJ        = 153.2 - 126.3 / 100 = 0,269 gr/ml
5.1.3.3. Daya Ambang
Jarak    : 1 meter
Waktu : 7 detik

Rumus :     DA =  jarak / waktu
Daya Ambang = 1 / 7  = 0.142 m/s
5.1.3.4.  Luas Permukaan Spesifik
Luas area bahan pakan            : 39 cm2
Berat bahan pakan                  : 1 gram
Rumus :     LPS =luas area / berat bahan
LPS       = 39 / 1= 39 cm2/gr
5.1.4.  Free Fatty Acid (FFA)
Berat CGM     : 7.05 gram
Ml NaOH terpakai      : 8.52 ml
Normalitas NaOH       : 0.1 N
Berat m.a. lemak         : 278

Rumus                         : FFA= ml titran x N titran x b.m.a lemak/ berat sampelx 100 x100 %
Free Fatty acid (FFA) =   8.52 x 0.1 x 278/ 7.05 x 1000 x 100 %
                                    = 3.37 %
5.1.5.  Gross Energy (GE)
Berat kertas     : 0,21
Berat sampel   : 0,5 gram
Sisa kawat       : 3.3 cm
Air cucian        : 35 ml
Ml titrasi          : 0.94 ml
Tc                    : jumlah pembakaran x 0.5 = 10x 0.5 = 5
ta                            : 28.97
Ta                    : ketetapan (5)
Koreksi benzoat          : 0.985

E1                    = vol air cucian / 10 x ml titrasi
                        =35 / 10 x 0.94
            = 3.29
E2                    = berat kertas = 0.21
E3                    = (panjang kawat – sisa kawat) x 2.3
                        = (12 – 3.3) x 2.3
                        = 20.01
r1                      = Tc1 - ta/ 5    
                        =29.08 - 28.97 / 5
                        = 0.002
Tb                    = 0,6 x (Ta + Tc)
= 0,6 x ( 5 + 5 ) = 6
T          = (tc – ta) – r1 x | Ta – Tb |
= (29.08 – 28.97) – 0,002 x| 5 –6 |
= 0.61 – 0.002
= 0,588

Hg       =( 2423 x T) - E1 - E2 - E3/ BK x berat sampel
= (2423 x 0.588) - 3.29 - 0.21 - 20.01/ 0.925 x 0.5
= 3029. 65
GE       = Hg x Koreksi benzoat
   = 3029.65 x 0.985
   = 2984.20 Kkal

5.2.      Pembahasan

5.2.1.    Nomenklatur Bahan Pakan dan pengenalan Alat
5.2.1.1. Nomenklatur Bahan Pakan Hijauan
            Pemberian nama (nomenklatur) bahan pakan internasional untuk mengulangi ketidaktepatan dalam pemberian nama bahan pakan. Pemberian nama setiap bahan pakan setepat dan selengkap mungkin sehingga dihindari adanya duplikasi nama yang ditentukan oleh enam faset yaitu asal mula, bagian, proses, tingkat kedewasaan, defoliasi dan grade atau tanggungan (Sutardi, 2003). Hijauan pakan merupakan bahan pakan yang sangat mutlak diperlukan baik secara kuantitatif maupu kualitatif. Porsi hijauan pakan dalam ransum ruminansia mencapai 40 – 80 % dari total bahan kering ransum atau sekitar 1.5 – 3 % dari bobot hidup ternak (Abdullah, 2010).
            Menurut Sutardi (2003), sumber hijauan untuk pakan yaitu kelompok gramineae, kelompok cyperaceae, kelompok leguminosae, dan browse. Contoh bahan pakan hijauan antara lain rumput gajah, rumput raja, rumput benggala, setaria ancep, setaria lampung, jerami padi. Semua bahan pakan mempunyai nomeklaturnya sendiri – sendiri. Misalnya, Zea mays, biji. Digiling halus, KA maksimal 13 %. Pennisetum purpureum, aerial, segar, dewasa, 40 – 60 hari, SK 12- 13 %.
            Pakan yang dimanfaatkan sebagai sumber energy diantaranya jagung, gandum, bekatul, molasses (Bahri, 2008). Nomenklatur jagung yaitu Zea mays. Aerial, segar, dewasa, 3 minggu, SK 32 %. Artinya jagung yang diberikan pada ternak berupa daun segar tanpa adanya proses, dipotong pada usia dewasa yaitu setiap tiga minggu dan mempunyai kadar serat kasar 32 % yang merupakan sumber energy. Daun jagung muncul dari buku – buku batang sedang pelepah daun menyelubungi ruas batang untuk memperkuat (Marpaung, 2011).
Bahan pakan hijauan sebagai sumber protein antara lain kaliandra, lamtoro, dan gamal. Zat anti nutrisi pada lamtoro adalah myosin dan dapat menghambat pertumbuhan bagi ternak yang belum pernah terbiasa untuk mengkonsumsinya. Pemotongan pertama daun lamtoro dilakukan 6 sampai 9 bulan sesudah penyerbukan biji (Reksohadiprodjo, 1981).

5.2.1.2.Nomenklatur Bahan Pakan Konsentrat
            Konsentrat merupakan bahan pakan yang memiliki kandungan protein tinggi namun kandungan energinya rendah sehingga perlu ditambahkan agar kandungan nutrisinya lebih lengkap sebelum diberikan ke ternak (Sultoni, 2006).
Bahan pakan konsentrat yang merupakan sumber energi yaitu onggok, millet, molasses, dan jagung. Menurut Retnani (2010), onggok merupakan hasil sampingan tapioca yang berbentuk padat. Komponen pati onggok adalah sekitar 69.9 % dari setiap 100 gram umbi segar akan menghasilkan 3-10 kg onggok. Pembuatan onggok menggunakan metode fermentasi yang bertujuan untuk meningkatkan kadar protein dan menurunkan kadar serat kasar. Kandungan serat kasar dari bahan pakan yang berbeda pada tiap konsentrat mampu mempengaruhi konsumsi pakan. Semakin tinggi kandungan serat kasar maka konsumsi pakan semakin rendah. Hal ini disebabkan serat kasar banyak mengandung selulosa yaitu bagian yan tidak mudah dicerna (Sultoni, 2006).
            Sutardi (2003), menambahkan bahwa bahan pakan konsentrat adalah bahan pakan yang mengandung protei kasar (lebih dari 18 % / karbohidrat yang lebih tinggi. Bahan pakan sumber energy dari jenis konsentrat sebagian besar terdapat dalam bahan pakan asal tumbuhan atau nabati dengan limbahnya, diantaranya jagung kuning, sorghum, pollard, millet, bekatul, onggok, dan gandum. Bahan pakan sumber nabati ini umumnya mempunyai serat kasar yang cukup tinggi selain sumber vitamin.
            Sumber mineral makro banyak terdapat di alam. Mineral makro yang ditambahkan dalam pakan ternak adalah Ca, P, Na, dan Mg. contohnya yakni, phospat alam, CuSO4. Sedangkan dari asal hewan contohnya tepung tulang ikan, tepung kerabang telur, tepung kerang, tepung cangkang keong dan tepung udang. Selain sumber mineral, ternak juga membutuhkan vitamin. Menurut Rasyaf (1994), vitamin merupakan komponen organic dan dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit bagi ternak.

5.2.1.3. Pengenalan Alat
Praktikum pengenalan alat bertujuan untuk menentukan tetapan hasil analisis kimia yang akurat. Pengunaan alat-alat laboratorium antara lain untuk penimbangan, penyaringan, pengukuran volume cairan, pemijaran dan pengabuan, dan pengeringan (Sudarmadji, 1997). Sedangkan menurut Hartati (2002), penggunaan alat-alat laboratorium antara lain sebagai alat penimbangan, pengukuran volume cairan, melarutkan zat padat, penyaringan, pemijaran dan pengabuan serta penyaringan. Penimbangan menggunakan timbangan, penyaringan menggunakan kertas saring, dan corong bunche, pengaturan volume cairan menggunakan gelas ukur, pipet ukur, pipet volume, labu ukur dan buret. Pemijaran menggunakan tanur dan cara sederhana pengeringan menggunakan oven.
Pengeringan biasanya dipakai untuk menentukan kadar air atau dilakukan pada zat kimia padat yang akan ditimbang untuk standardisasi. Alat yang digunakan adalah oven yang dilengkapi dengan thermometer, thermostat dan pengatur waktu pengeringan yang dikehendaki. Alat yang digunakan untuk menyimpan bahan yang sudah dikeringkan adalak eksikator (dessicator) yang kedap udara, didalamnya terdapat zat yang bisa menyerap air (silica gel) sehingga pengaruh uap air selama penyimpanan bisa diabaikan (Sudarmadji, 1997).
Fungsi dari alat-alat laboratorium berbeda satu dan yang lainnya, begitu pula dengan cara penggunaannya harus sesuai dengan ketentuan agar hasil dari penggunaan itu baik. Seperti timbangan yang digunakan dalam laboratorium terdiri dari berbagai jenis dan merk, yang perlu diketahui adalah kapasitas dan ketelitian timbangan yang akan digunakan apakah timbangan halus atau kasar (Sudarmadji, 1997). Pengenalan alat yang digunakan meliputi bomb kalorimeter yang terdiri dari beberapa bagian (jaket, bucket,bomb) yang berfungsi untuk menguji total energi suatu bahan pakan. Selain itu ada alat yang digunakan untuk sterilisasi, memanaskan cairan dan menahan keluarnya uap (Timball, 1989).

5.2.2      Analisis Proksimat
5.2.2.1.  Analisis Kadar Air
            Air merupakan zat makanan yang paling banyak dan mudah didapat di alam. Bahan pakan mempunyai kandungan  air lebih banyak dibandingkan dengan kandungan nutrien lainnya. Yang dimaksud air dalam analisis proksimat adalah semua cairan yang menguap pada pemanasan selama beberapa waktu pada suhu 105-110ºC dengan tekanan udara bebas sampai sisanya yang tidak menguap mempunyai bobot tetap (Soejono, 2004). Penentuan kadar air dilakukan dengan dua metode yaitu penyulingan langsung dan tidak langsung (oven). Penentuan kadar air minimal 24 jam. Banyaknya air yang terkandung di dalam suatu bahan pakan dapat diketahui jika bahan pakan dipanaskan (Hartadi, 1992).
            Hasil analisis kadar air pada sampel CGM (Corn Gluten Meal) adalah 7.5 %. Menurut Pfost (1976) dalam Fadillah (2005), CGM adalah sisa dari penggilingan jagung dalam proses produksi pati dan sirup jagung, yang merupakan residu dari pemisahan pati dan lembaga jagung, dan dikeringkan. Kadar air CGM telah memenuhi syarat yakni 7.5 % yang artinya tidak terlau basah. Hal ini dikarenakan, menurut Indartono (2003) bila disimpan dalam jangka waktu terlalu lama, CGM akan mengeras dan berjamur, oleh karena itu CGM sebaiknya berkadar air dibawah 12 %.
            Sutardi (2003), menyatakan bahwa tinggi rendahnya kadar air dalam bahan pakan harus diatur. Kadar ini menentukan komposisi kandungan nutrien pakan. Faktor yang mempengaruhi kadar air salah satunya adalah metode pengeringan dan kandungan air dari suatu bahan pakan. Pakan dapat disimpan jika bahan pakan mempunyai kandungan air 14%, karena kandungan air yang terlalu tinggi akan merusak nutrien dari bahan pakan karena didegradasi oleh bakteri. Bahan pakan dengan kadar air tinggi akan lebih mudah berjamur, busuk, dan mengandung racun.
Penentuan kadar air yang secara langsung juga dapat menentukan kadar bahan kering. Kadar bahan kering CGM diperoleh dengan cara 100%- kadar air, sehingga diperoleh bahan kering sebesar 92.5 %. Mengetahui bahan kering merupakan prosedur yang umum dikerjakan, hal ini penting karena bobot bahan kering akan digunakan sebagai standar bobot untuk penentuan kadar fraksi lainnya. Banyaknya air yang terkandung dalam pakan dapat diketahui jika bahan tersebut dikeringkan pada temperatur 105ºC (Soejono, 2004).

5.2.2.2.Analisis Kadar Abu
            Kadar abu juga disebut kadar mineral yang terkandung, pada suatu bahan pakan. Komponen abu pada analisis proksimat kurang memberikan nilai penting bagi kandungan zat – zat organik yang terkandung dalam makanan pakan (Rahardjo, 2002). Hasil analisis kadar abu CGM adalah sebesar 2 %lebih kecil disbanding pernyataan Tangendjaja (2007), bahwa kadar abu CGM adalah 6.8 % yang bersumber dari Loy dan Wright (2003).
Kadar  abu  suatu bahan pakan ditentukan dengan pembakaran bahan pada suhu tinggi (500-600 ºC). Pada suhu  tinggi bahan  organik yang ada akan terbakar sempurna menjadi CO2, H2O, dan gas lain yang menguap, sedang sisanya merupakan abu atau campuran dari berbagai oksida mineral. Kadar abu yang didapat pada saat praktikum adalah 3.5 % dan kandungan bahan organik sebesar 96.5 %.
Anggorodi (1991), menyatakan bahwa zat-zat mineral sebagai suatu golongan dalam pakan atau jaringan  hewan ditentukan dengan membakar zat organik dan kemudian menimbang ini disebut kadar abu. Abu hasil pembakaran dapat digunakan sebagai titik tolak untuk determinasi presentase zat tertentu yang terdapat pada bahan pakan. Kadar abu bahan pakan menunjukan kualitas dari bahan pakan tersebut karena semakin tinggi bahan organik pada pakan berarti bahan pakan tersebut banyak mengandung karbon. Sedangkan menurut Soejono (2004), meskipun abu terdiri dari komponen mineral, namun bervariasinya unsur mineral dalam pakan asal tanaman menyebabkan abu tidak dapat dipakai sebagai indeks untuk menentukan jumlah unsur mineral tertentu.

5.2.2.3.Analisis Lemak Kasar
            Analisis lemak kasar dapat dilakukan dengan metode langsung yang berprinsip bahwa lemak dapat diekstraksi dengan eter atau pelarut lemak lainnya, sedangkan meode tidak langsung berprinsip lemak tidak dapat diekstrasi oleh eter atau pelarut lainnya (Tillman, 1989). Lemak kasar adalah campuran senyawa yang larut didalam pelarut lemak (eter, pretolium benzene, pretolium eter dan lain sebagainya). Oleh karena itu lemak kasar lebih tepat disebut ekstraksi eter. Disebut lemak kasar karena merupakan campuran dari beberapa senyawa yang larut dalam pelarut lemak.
Hasil analisis lemak kasar pada CGM diperoleh kandungan lemak kasarnya adalah 2 %. Tinggi rendahnya kadar lemak pada tanaman dipengaruhi oleh spesies, umur dan perbedaan bagian yang digunakan untuk sampel. Lemak pada tanaman terutama terdapat pada biji-bijian sebangsa legum. Hasil samping yang berupa bungkil jelas lebih rendah daripada bijinya, sebab bungkil merupakan hasil samping dari pembuatan minyak bji tanaman (Kamal, 1998).
Lemak mempunyai konsentrasi energi paling tinggi dibanding nutrien pakan lainnyakarena mempunyai struktur intra molekuler karbon dan hidrogen yang lebih banyak sehingga lemak merupakan sumber kalori yang penting disamping berperan sebagai pelarut vitamin. Kandungan lemak CGM pada analisis bersumber Loy dan Wright (2003) yang dikutip oleh Tangendjaja (2007) lebih tinggi yakni 3.5 % sedangkan hasil praktikum adalah 2 %. Hal ini disebabkan karena penghitungan atau pada saat penimbangan sampel terjadi kesalahan.

5.2.2.4.Analisis Serat Kasar
   Serat kasar berisi selulosa, hemiselulosa dan lignin. Selulosa dan hemiselulosa adalah komponen dalam dinding sel tanaman dan tidak dapat dicerna oleh hewan. Serat kasar juga mempunyai energi total yang besar tetapi akan dicerna sangat lambat dan sedikit bila dibandingkan BETN (Tillman, 1989).
            Serat kasar adalah semua zat-zat organik yang tidak larut dalam H2SO4 0,3 N dan dalam NaOH 1,5 N yang berturut-turut dimasak selama 30 menit. Analisis bahan makanan terhadap kadar serat kasarnya dilakukan sebagai berikut : bahan makanan dimasak dengan asam lemah hingga mendidih untuk dihidrolisis karbohidrat dan protein didalamnya. Pemasakan lebih lanjut dengan alkali menyebakan terjadinya penyabunan dari zat-zat lemak yang ada didalam bahan makanan. Zat-zat yang tidak larut dalam pemasakan tadi terdiri terutama dari serat kasar dan zat-zat mineral yang kemudian terus disaring, dikeringkan dan ditimabang. Kemudian pijarkan lalu dinginkan dan ditimbang lagi. Perbedaan dari kedua berat tadi menunjukan berat serat kasar yang ada dalam bahan makanan (Anggorodi, 1991).
            Hasil pengamatan yang terlihat setelah pencucian sebanyak 4 kali pada wadah/tabung erlenmeyer yaitu terjadi atau terbentuk 3 lapisan, yang pertama (paling bawah) lapisan yang terbentuk setelah pencucian H2SO4 0,3 N dimana fungsinya untuk melarutkan zat organik. Lapisan kedua (setelah lapisan zat organik) yaitu lapisan yang terbentuk akibat pencucian H2O panas, fungsinya melarutkan gel dan yang ketiga (paling atas), fungsinya untuk melarutkan lemak. Serat kasar dapat diketahui setelah melakukan 4 kali pencucian, kemudian dihitung. Hasil yang didapat adalah 6.7%. Sedangkan menurut Fadillah (2005), kandungan serat CGM adalah 2 %. Berbeda dengan Tangendjaja, (2007) serat kasar dari CGM adalah 8.9 %. Hal ini dapat berbeda – beda karena tergantung jenis spesies, umur yang digunakan sebagai bahan pembuatan CGM.
 5.2.2.5.Analisis Protein Kasar
Protein merupakan salah satu zat makanan yang berperan dalam penentuan produktivitas ternak. Jumlah protein dalam pakan ditentukan dengan kandungan nitrogen bahan pakan melalui metode kjeldahl yang kemudian dikali dengan faktor protein : 6,25. Angka 6,25 diperoleh dengan asumsi bahwa protein mengandung 16% nitrogen. Kelemahan analisis proksimat untuk protein kasar itu sendiri terletak pada asumsi dasar yang digunakan. Pertama, diasumsikan bahwa semua nitrogen bahan pakan merupakan protein padahal kenyataannya tidak semua nitrogen berasal dari protein dan kedua, bahwa kadar nitrogen protein 16%, tetapi kenyataannya kadar nitrogen protein tidak selalu 16% (Soejono, 2004).
Proses analisis kadar protein kasar fungsi penambahan katalisator itu sendiri adalah agar mempercepat reaksi, tanpa ikut bereaksi pada saat proses destruksi. Proses destruksi (oksidasi), perubahan N protein menjadi ammonium sulfat (NH4)2SO4. Destruksi dihentikan jika larutan berwarna hijau jernih. Setelah itu proses destilasi yakni dicuci dengan aquadest, agar mengurangi reaksi hebat jika ditambahkan alkali. Penambahan alkali (NaOH) menyebabkan (NH4)2SO4 akan melepaskan ammonia (NH3). Hasil sulingan uap NH3 dan air ditangkap oleh larutan H2SO4 yang terdapat dalam Erlenmeyer dan membentuk senyawa (NH4)2SO4 kembali. Penyulingan dihentikan bila semua N sudah tertangkap oleh asam sulfat dalam labu Erlenmeyer.
Proses titrasi menggunakan HCl 0.1 N hingga warna larutan menjadi merah muda. Hasil praktikum kadar protein kasar dari CGM adalah sebesar 20 %. Hasil tersebut mendekati hasil analisis proksimat Loy dan Wright (2003) dalam Tangendjaja (2007), bahwa kandungan protein kasar CGM (Corn Gluten Meal) adalah 23.8 %. Namun berbeda dengan pendapat Fadillah (2005) bahwa kandungan protein kasar CGM lebih tinggi disbanding dengan tepung ikan yaitu sebesar 62 %.
5.2.3    Uji Fisik Bahan Pakan
5.2.3.1 Sudut Tumpukan
Sudut tumpukan merupakan sudut antara bidang dengan kemiringan tumpukan yang terbentuk jika bahan dicurahkan serta menunjukkan kriteria kebebasan bergerak partikel dari suatu tumpukan bahan. Semakin besar suatu partikel bergerak, maka sudut tumpukan yang terbentuk juga semakin kecil. Pergerakan partikel yang ideal ditunjukkan oleh ransum bentuk cair dengan sudut tumpukan berkisar 200-500 (Qomariyah, 2004).
Hasil yang diperoleh pada sudut tumpukan dalam praktikum kali ini adalah 37,80. Caranya yaitu dengan menjatuhkan sampel 200 gr dari ketinggian 7 cm. Sampel yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah dedak. Hal tersebut sesuai dengan Jaelani (2007) bahwa, Pengukuran sudut tumpukan dengan cara menjatuhkan bahan pakan pada ketinggian 15 cm melalui corong. Untuk mengurangi pengaruh tekanan dan kecepatan laju aliran bahan, pengukuran bahan dilakukan dengan volume tertentu dan dicurahkan perlahan-lahan pada dinding corong tetap sehingga diusahakan jatuhnya bahan selalu konstan.
Sudut tumpukan bahan ditentukan dengan mengukur diameter dasar (d) dan tinggi tumpukan (t). Menurut Khalil (1997), Pengukuran sudut tumpukan sangant penting karena dpat diketahui bahwa semakin tinggi sudut tumpukan berarti diameter semakin kecil, jadi memungkinkan menghemat tempat untuk menyimpan. Susust tumpukan yang relatif besar sehinnga pakan ternak yang dapat menghemat tempat penyimpanan.

5.2.3.2.Berat Jenis
            Berat jenis merupakan perbandingan antara bahan pakan dengan volume ruang yang ditempati dimana peranan berat jenis adalah berpengaruh terhadap besarnya kerapatan tumpukan (Khalil, 1997). Berat jenis memberikan pengaruh berat terhadap daya ambang dari partikel. Selain itu, berat jenis merupakan faktor penentu dari densitas curah. Berat jenis dan ukuran partikel bertanggung jawab terhadap homogenitas pencampuran partikel dan stabilitasnya dalam pencampuran pakan.
Hasil praktikum diperoleh berat jenis  dedak adalah 0.269 gr/ml. dilihat dari nilai berat jenisnya menunjukkan nilai kurang dari satu, yang berarti lebih kecil dari volume. Besarnya berat jenis (density) bahan pakan penting diketahui karena apabila suatu bahan pakan mempunyai nilai densitas yang rendah yaitu perbandingan antara berat bahan pakan dengan volume lebih besar berarti intake untuk ternak hanya sedikit dan sebaliknya. Pakan yang baik adalah nilai densitasnya lebih besar sehingga intake pakan meningkat (Sudarmadji, 1997).
Perbedaan nilai berat jenis selain dipengaruhi oleh perbedaan karakteristik permukaan, juga dipengaruhi oleh kandungan nutrisi bahan. Hal ini sesuai pendapat Khalil (1999) yang menyatakan bahwa adanya variasi dalam nilai BJ dipengaruhi oleh kandungan nutrisi bahan, distribusi ukuran partikel, dan karakteristik permukaan partikel. Bahan pakan yang memiliki perbedaan BJ cukup besar, akan menghasikan campuran tidak stabil dan mudah terpisah kembali. Oleh karena itu berat jenis sangat mempengaruhi ketelitian dalam proses penakaran secara otomatis pada pabrikan pakan, seperti dalam proses pengemasan dan pengeluaran.

5.2.3.3.Daya Ambang
            Daya ambang adalah jarak yang ditempuh oleh suatu partikel bahan jika dijatuhkan dari atas ke bawah selama jangka waktu tertentu dengan satuan m/s. hasil daya ambang pada sampel diperoleh 0.142 m/s. hal ini termasuk kurang akurat, karena terjadi kesalahaan pada saat menjatuhkan sampel. Selain itu juga pengaruh udara atau angina, sehingga memperlama sampel jatuh ke bawah.
Daya ambang yang terlalu lama akan menyulitkan dalam proses pencurahan bahan karena dibutuhkan waktu yang lebih lama (Jaelani, 2007). Daya ambang juga berkaitan dengan BJ, berat jenis lebih tinggi akan berakibat pada nilai daya ambang yang lebih tinggi pula. Hal ini berarti apabila terjadi proses pencurahaan bahan dengan ketinggian tertentu maka waktu bahan tersebut mencapai dasarnya lebih cepat.
Daya ambang juga berkaitan dengan ukuran partikel dari bahan pakan, partikel yang yang kecil tentu daya ambangnya akan semakin kecil pula. Perhitungan daya ambang bertujuan untuk efisiensi pemindahan atau pengangkutan yang menggunakan alat penghisap, pengisian silo yang menggunakan gaya gravitasi dan daya ambang berbeda akan terjadi pemisahan partikel (Sutardi, 2003).
5.2.3.4.Luas Permukaan Spesifik
            Sutardi (2003) menyatakan bahwa LPS merupakan luas permukaan bahan pakan pada suatu berat tertentu, LPS digunakan untuk mengetahui tingkat kehalusan bahan pakan tanpa diketahui distribusi ukuran partikel secara keseluruhan. Begitu juga sebaliknya, jika nilai LPSnya kecil dalam tiap gramnya, maka sampel tersebut berbentuk butiran – butiran kasar atau kristal (Rahardjo, 2002), semakin halus kadar sampel, maka semakin baik daya cernanya bagi ternak.
            Luas permukaan spesifik sampel hasil praktikum adalah 39 cm2/gram, hal ini karena sampel yang digunakan adalah dedak yang utirannya agak kecil. Luas permukaan spesifik digunakan dalam system penggudangan, pengemasan. Apabila semakin besar luas permukaan spesifik suatu bahan maka mempunyai daya ambang yang semakin kecil pula. Sutardi (2003), menambahkan luas pernukaan spesifik berperan untuk mengetahui tingkat kehalusan dari bahan pakan tanpa diketahui distribusi, ukuran komposisi partikel secara keseluruhan.

5.2.4.   Free Fatty Acid (FFA)
Asam lemak bebas yaitu nilai yang menunjukkan jumlah asam lemak bebas yang ada di dalam lemak atau jumlah yang menunjukkan berapa banyak asam lemak bebas yang terdapat dalam lemak setelah lemak tersebut di hidrolisa. Analisis kimia untuk mengetahui asam lemak bebas pada bahan pakan dilakukan dengan proses AOAC (1990), praktikum analisis dimulai dengan menimbang sampel sebanyak 7,050 gram kemudian dimasukan ke dalam erlenmeyer lalu ditambahkan 50 ml alkohol netral (96%) kemudian direfluks 15 menit,selanjutnya disaring dengan kertas whatman dan 2 tetes indikator PP. Setelah sampel dididihkan kemudian disaring dan hasil saringan berupa cairan dititrasi dengan NaOH 0,1%. Titrasi dihentikan setelah cairan sampel berwarna merah jambu. Hal ini sesuai dengan hasil praktikum dan di dapat volume NaOH sebesar 8.52 ml sehingga setelah dihitung % FFA sebesar 3.35%.
Asam lemak digolongkan sebagai asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh mempunyai dua atau lebih molekul yang hilang. Molekul-molekul hidrogen yang hilang tersebut dapat diisi melalui suatu proses yang disebut hidrogenisa. Asam lemak tidak jenuh mempunyai titik didih yang rendah dan lebih relatif dari pada asam lemak jenuh (Anggorodi, 1979).
Asam lemak bebas termasuk kelompok asam lemak tidak jenuh. Asam lemak bebas menunjukkan sejumlah lemak bebas yang dikandung oleh minyak yang rusak, terutama karena peristiwa oksidasi dan hidrolisis. Reaksi hidrolisis disebabkan oleh kandungan air dari bahan pangan yang digoreng. Reaksi lain yang menghasilkan asam lemak bebas adalah oksidasi yang dihasilkan dari pemecahan dan oksidasi ikatan rangkap.
Reaksi hidrolisis akan dihasilkan gliserida dan asam lemak bebas dengan rantai pendek C4 – C12 yang menyebabka terjadinya perubahan baud an rasa dari minyak dan lemak (Apendi, 2013). Kadar FFA didapatkan hasil 3.35 % ditimbulkan kareana adanya kerusakan. Menurut Budiyanto (2008) kandungan asam lemak bebas selama pemanasan menunjukkan asam lemak bebas lebih sedikit daripada asam lemak lain yang diteliti.

5.2.5.   Gross Energy (GE)
Gross Energy didefinisikan sebagai energi yang dinyatakan dalam panas bila suatu zat dioksider secara sempurna menjadi CO2 dan air. Tentu saja CO2 dan air ini masih mengandung energi, akan tetapi dianggap mempunyai tingkat nol karena hewan sudah tidak bisa memecah zat-zat melebihi CO2 dan air. Gross Energy diukur dengan alat bomb kalorimeter. Apabila N dan S terdapat dalam senyawa sampingan karbon H dan O (C, H dan O). Unsur-unsur tersebut akan timbul sebagai oksida nitrogen dan sulfur pada waktu senyawa itu dioksider dalam bomb kalorimeter. Analisis kimia untuk mendapatkan energi bruto bahan pakan dengan prosedur AOAC (1990).
Energi bruto suatu bahan makanan dapat ditentukan dengan membakar sejumlah bahan tersebut sehingga diperoleh hasil-hasil oksidasi yang berupa karbondioksida, air dan gas-gas lainnya. Untuk tujuan ini digunakan suatu bom kalorimeter guna mengukur panas yang ditimbulkan oleh pembakaran tersebut. Bom kalorimeter terdiri dari suatu bejana yang tertutup dimana bahan makanan tersebut dibakar (Anggorodi, 1979). Energi total yang dihasilkan dalam praktikum adalah 2984.20 kkal.
Tinggi rendahnya energi dipengaruhi oleh kandungan protein, karena protein berperan sekali terhadap pertumbuhan sehingga mempengaruhi jumlah ransum yang masuk ke dalam tubuh (Rasyaf, 1994). Nilai energi bruto dari suatu bahan pakan tergantung dari proporsi karbohidrat, lemak dan protein yang dikandung bahan pakan tersebut. Air dan mineral tidak menyumbang energi pakan tersebut. Nilai energi bruto tidak menunjukan energi tersebut tersedia untuk ternak atau tidak tersedia, tergantung dari kecernaan bahan pakan tersebut. Penambahan DL-Methionin mampu menurunkan jumlah energi bruto yang dibuang melalui sekreta sehingga energi bruto yang diserap atau dicerna meningkat.
            Nilai energi bruto dari suatu bahan pakan tergantung dari proporsi karbohidrat, lemak dan protein yang terkandung dalam bahan pakan tersebut. Air dsn mineral tidak menyumbang enrgi dalam pakan. Nilai energy bruto tidak menunjukkan apakah energy tersebut untuk dapat tersedia untuk ternak, tergantung dari kecernaan bahan pakan tersebut. Hal ini sesuai pendapat Widodo (1981), bahwa tidak semua GE bahan pakan dapt dicerna.


VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1.      Kesimpulan
1.       Bahan pakan hijauan terdiri dari gramineae (sumber serat atau karbohidrat), leguminosa (sumber protein), browse atau ramban (sumber serat dan protein), dan limbah pertanian (sumber serat). Bahan pakan konsentrat terdiri atas sumber energi (jagung, millet, bekatul, dedak, onggok), sumber protein (bungkil-bungkilan, tepung udang, tepung ikan, dsb), sumber mineral (phospat alam, tepung cangkang keong, kapur, tepung kerang), dan sumber zat additives.
2.       Nomenklatur bahan pakan diberikan berdasarkan tatanama internasional yang berdasarkan enam faset, yaitu : Asal mula (Origin); Bagian (Part) yang diberikan kepada ternak; Proses yang dialami oleh bagian tadi; Tingkat kedewasaan; Pemotongan (hijauan); Grade (Garansi pabrik).
3.       Fungsi alat-alat laboratorium berbeda satu dan yang lainnya, demikian pula dengan cara penggunaannya harus sesuai dengan ketentuan agar didapatkan hasil yang benar.
4.       Analisis proksimat menggolongkan komponen yang ada pada bahan pakan berdasarkan komposisi kimia dan fungsinya, yaitu: air (moisture), abu (ash), protein kasar (crude protein), lemak kasar (ether extract), serat kasar (crude fiber) dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (nitrogen free extract). Hasil analisis proksimat CGM antara lain KA 7.5 % ; K.Abu 3.5 % ; LK 2 %; SK 6.7 % dan PK sebesar 20 %.
5.       uji FFA adalah untuk mengetahui jumlah kandungan asam lemak suatu bahan. Hasil yang diperoleh dalam menguji sampel CGM mengandung asam lemak bebas sebesar 3.35 %.
6.       Gross Energy didefinisikan sebagai energi yang dinyatakan dalam panas bila suatu zat dioksider secara sempurna menjadi CO2 dan air. Hasil yang diperoleh dari analisis GE pada sampel Corn Gluten Meal adalah 2984.20 Kkal.

6.2.      Saran
1.       Harus lebih memahami berbagai macam hijauan dan konsentrat bahan pakan melalui nomenklaturnya, sehingga lebih memahami fungsi atau keunggulan masing – masing bahan pakan
2.       Praktikan harus lebih teliti dalam menimbang berat sampel ataupun alat, agar perhitungan yang dianalisis pada pakan lebih akurat.
3.       Praktikan harus lebih hati – hati pada saat mentitrasi larutan agar tidak kelebihan atau kekurangan larutan sebagai titran, agar sesuai dalam titik equivalen titrasi.
4.       Praktikan harus lebih berhati – hati dalam pengukuran, terutama pada uji fisk daya ambang, sampel harus dijatuhkan dengan kecepatan konstan dan dikondisikan lingkungan yang sesuai tanpa pengaruh angin, dsb.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Luki.2010.”Reposisi Tanaman Pakan dalam Kurikulum Fakultas Peternakan.”Lokakarya Nasional Tanaman Pakan ternak. Fakultas Peternakan Institut pertanian Bogor, Bogor.

Adnan, Muhammad. 1989. Teknik Kromatografi Untuk Analisis Bahan Makanan. ANDI. Yogyakarta.

Ali, Ahmad Ja’far. 2006.“Karakteristik Sifat Fisik Bungkil Kedelai, Bungkil Kelapa dan Bungkil Sawit”,Skripsi,Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Anggorodi.1979.Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia.Jakarta.

Anggorodi.1991.Ilmu Bahan Pakan Ternak Umum. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

AOAC. 1990. Official Methods of Analisis. Asosiaion  of Official Analitic Chemist. Washington DC. USA.

Apendi.2013.”Evaluasi Kadar Asam Lemak Bebas dan Sifat Organoleptik pada Telur Asin Asap dengan Lama Pengasapan yang berbeda.”Jurnal Ilmu Peternakan.Vol (1) : 142 – 150.

Bahri, Syaiful.2008.”Evaluasi Energi Metabolisme Pakan Lokal pada Ayam Petelur.”Jurnal Agroland.Vol (15) : 75 – 78.

Budiyanto, Devi.2008.”Perubahan Kandungan β_karoten dalam Kandungan Asam Lemak Bebas Minyak Sawit Merah selama Pemanasan.”Seminar Nasional Sains dan teknologi.Universitas Lampung, Lampung.

Fadillah, Muhammad.2005.”Substitusi Tepung Ikan dengan Corn Gluten Meal terhadap Efisiensi Pergerakan Bahan pada system Produksi Kontinu Pellet Broiler Finisher,”Skripsi, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Hartadi, Hari. 1992. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.

Hartadi, H., Soedomo R., dan A. D. Tilman. 1990. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Hartati, Sri. 2002.  Nutrisi Ternak Dasar. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

Indartono, S.A.2003.”Corn Gluten Meal sebagai sumber energy dan protein Pakan.”Poultry Indonesia.No (280) :30 – 31.

Jaelani, Achmad. 2007. “Kualitas Fisik dan Kandungan Nutrisi Bungkil Inti Sawit dari Berbagai Proses Pengolahan Crude Palm Oil”. A’ulum. Volume 33. Nomor 33: 1-7.

Kamal, M. 1998. Bahan Pakan dan Ransum Ternak. Laboratorium Makanan Ternak Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Khalil. 1997. Pengolahan Sumber Daya Bahan Makanan Ternak. Bahan Kuliah Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Khalil. 1999. “Pengaruh Kandungan Air dan Ukuran Partikel terhadapSifat Fisik Pakan Lokal : Sudut Tumpukan, Kerapatan Tumpukan, Kerapatan Pemadatan Tumpukan, Berat Jenis, Daya Ambang, dan Faktor Higroskopis”. Media Peternakan. Vol 22 (1) : 1 – 11.

Lubis, D. A. 1993. Ilmu Makanan Ternak. PT Pembangunan. Bogor.

Marpaung, Corry adelina.2011.”Uji Fisik dan Evaluasi Kecernaan Biskuit Berbasis Rumput Lapang dan Limbah Tanman Jagung pada Domba,” Skripsi, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Mujanisa, A. 2007.“Uji Fisik Jagung Giling pada Berbagai Ukuran Partikel”.Bulletin Nutrisi dan Makanan Ternak. Volume 6 (1).

Musfiroh, ida.1999. Analisis Proksimat dan Penetapan Kadar β-Karoten dalam Selai Lembaran Terung Belanda (Cyphomandra betacea Sendtn) dengan Metode Spektrofotometri Sinar Tampak. Fakultas Farmasi Universitas Padjajaran.

Parakkasi, Aminuddin. 1983. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak. Angkasa. Bandung.

Qomariyah, Novia. 2004. “Uji Derajat Keasaman (PH), Kelarutan, Kerapatan dan Sudut Tumpukan untuk Mengetahui Kualitas Bahan Pakan Sumber Protein”, Skripsi, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Rahardjo, T. 2002. Ilmu Teknologi Bahan Pakan . Fakultas Peternakan. Universitas Jendral Soedirman. Purwokerto.

Reksohadiprojo. 1981. Produksi Thaman Hijauan Ternak Tropik. Badan Penerbit Fakultas Ekonomi. Yogyakarta.

Retnani, Yuli.2010.”Uji Daya Simpan dan Polabilitas Wafer Ransum Komplit Pucuk dan Ampas Tebu Untuk Sapi Pedet.” Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Soejono, M. 2004. Petunjuk Laboratorium Analisis dan Evaluasi Pakan. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Srigandono, Bambang. 1985. Ilmu Peternakan. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Sudarmadji, S. 1997. Prosedur untuk Analisa Bahan Pakan dan Pertanian. Liberty. Yogyakarta.

Sultoni, Aziz.2006.”Pengaruh Penggunaan Berbagai Konsentrat Pabrikan terhadap Optimalisasi Konsumsi Pakan, Hen Day Production dan Konversi Pakan.” Jurnal Protein.Vol 14(2).

Sutardi, T. R. Dan S. Rahayu. 2003. Bahan Pakan dan Formulasi Ransum. Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

Sutardi, Tri Raharjo.2012.Ilmu Bahan pakan.Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Tangendjaja, Budi dan Elizabeth.2007.”Limbah Tanaman dan Produk Samping Industri Jagung untuk Pakan.” Balai Penelitian Ternak, Bogor.

Tillman, Allen D. 1989. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Widodo.1981.Nutrisi dan Pakan Unggas Konstektual.Gadjah Mada University Press.Yogyakarta.

Yuliastanti, Anna. 2001. Uji Sifat Fisik Ransum Ayam Broiler Starter Bentuk Mash, Pallet dan Crumble Selama Penyimpanan Enam Minggu.