LAPORAN
PRAKTIKUM BIOKIMIA
PROTEIN
PROTEIN
Oleh:
Nama : Rina
Aprilia
NIM :
D1E012054
LABORATORIUM ILMU MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
2013
I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar
belakang
Bagian
terpenting dari sel hidup adalah protein. Protein melalui reaksi hidrolisis
dapat diuraikan menjadi asam – asam amino. Asam – asam amino adalah kunci dari
struktur protein dan lebih dari 100 telah diisolasi, tetapi dalam molekul
protein hanya ada 20 asam amino yang berbeda. Macam posisi molekul dan jarak
kedudukan molekul asam – asam amino dalam protein, menentukan sifat – sifat
protein tersebut dan selanjutnya menentukan fungsi protein dalam tubuh.
Adapun fungsi
protein dalam tubuh secara umum yaitu untuk pertumbuhan, pemeliharaan jaringan,
pembentukan senyawa tubuh yang esensial. Protein juga mampu membentuk antibody,
sebagai transport nutrient dan regulasi keseimbangan air. Fungsi protein yang
tidak kalah penting yakni sebagai katalik (memepercepat laju reaksi).
Fungsi protein
sangat penting jika ditelusuri lebih lanjut, maka dalam praktikum kali ini akan
dilakukan suau uji protein. Percobaan yang dipakai yakni penetapan kadar protein
dengan menggunakan biuret dan mengisolasi kasein dari susu.
1.2
Tujuan
1.2.1 Mahasiswa dapat mengidentifikasikan
protein dengan reaksi biuret
1.2.2 Mahasiswa dapat mengisolasi kasein
dari air susu
1.3
Waktu dan Tempat
Praktikum uji protein dilaksanakan pada
hari Jumat tanggal 12 April 2013 pukul 14.30 – 16.00 WIB di Laboratorium Ilmu
Bahan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman,
Purwokerto.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Bagian
terpenting biokimia menyangkut studi menegnai struktur dan fungsi protein.
Protein merupakan molekul makro yang mengandung nitrogen dengan bobot molekuler
berkisar Antara 5.000 hingga 1.000.000 lebih. Protein merupakan suatu unsur
seluler utama, meliputi kira – kira 50 5 berat kering dari sel. Fungsi protein
berkisar dari katalik dalam enzim, hingga toksik dalam hal racun bakteri dan
ular (Page, 1989)
Molekul
protein adalah sebuag polimer dari asam – asam amino yang digabungkan dnegan
ikatan – ikatan peptide. Asam amino merupakan unit dasar dari struktur protein.
Semua asam – asam amino mempunyai sekurang – kurangnya satu gugus amino (-NH2)
pada posisi alfa dari rabtai karbon dari suatu gugusan karboksil (-COOH)
menurut Tilman, (1986).
Asam
– asam amino selalu mengandung sedikitnya satu gugus donor proton (asam) dan
sedikitnya satu gugus aseptor proton (basa). Hal tersebut dikarenakan adanya
zwiteron. Zwotteron disebabkan adanya baik gugus pemberian proton (asam) maupun
gugus penenrima proton (basa). Dengan adanya suatu gugus bermuatan dapat
mengakibatkan suatu perubahan pada struktur protein. Perubahan pH larutan
protein dapat mengubah keadaan ionisasi dari gugus – gugus rantai amping yang
terionisasi dari asam amino, yang mengakibatkan perubahan dramatic dan sering
irreversible dalam struktur protein. Misalnya penambahan sembarang asam apada
susu akan mengakibatkan pengendapan dari kasein protein susu (Page. 1989).
Menurut
Saleh (2004), susu segar mempunyai sifat amfoter artinya dapat bersifat asam
maupun bersifat basa. Jika diberi kertas lakmus biru akan berubah warna merah,
sedang jika diberi kertas lakmus merah akan berwarna biru. Potensial ion
hydrogen pH susu segar aantara 6,5 – 6,7.
Protein
susu terdiri atas dua kelompok proteib utama yaitu kasein dan whey. Susu sapi
mengandung protein yang terdiri atas 80 % kasein dan 20 % whey (Copriyadi,
2008). Didalam air susu juga terdapat glonulin dalam jumlah yang sedikit.
Protein didalam air susu juga merupakan penentu kulaitas air susu sebagai bahan
konsumsi (Saleh, 2004)
Protein
didalam tubu berguna sebgaia zat pembangun atau pertumbuhan karena protein
merupakan pembentuk jaringan baru dalam tubuh. Protein juga berfungsi sebagai
pengatur dalam metabolism tubuh. Selain itu juga protein merupakan komponen
pembentuk antibody untuk pertahanan daya tahan tubuh. Karena fungsi protein
bagi tubuh sangat penting, maka perlu adanya uji secara kualitatif. Salah
satunya dengan metode biuret. Dalam metode biuret disiapkan masing – masing
larutan sampel 2 % dalam air diambil 1 ml sampel ditambahkan 1 ml NaOH 10 %,
kemudian ditambahakn beberapa tetes larutan CuSO4 0.1 % dikotak. Reaksi positif
ditunjukkan dengan terbentuknya warna ungu ( Andayani, 2011).
III. MATERI DAN CARA KERJA
3.1
Materi
3.1.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum uji
protein dengan reaksi biuret Antara lain yaitu tabung reaksi, pipet, rak tabung
reaksi. Sedangkan bahanyang digunakan yaitu larutan protein 3 ml, larutan NaOh
2,5 N sebanyak 1 ml dan larutan CuSO4 0,01 N.
Bahan yang diperlukan dalam percobaan
isolasi kasein dari air susu adalah susu sebanyak 100 ml, asam asetat glasial,
etanol 95 %, campuran etanol : eter = 1 : 1. Untuk alat yang dibutuhakan
meliputi beccer glass, penangas air, corong buncher dan gelas arloji.
3.2
Cara Kerja
3.2.1 Uji Protein dengan Biuret
Sebanyak
3 ml larutan protein ditambah 1 ml NaOH 2,5 N
Diaduk
Ditambah
CuSO4 0,01 N hingga terbentu warna violet
3.2.2 Isolasi kasein dari Air Susu
Susu
100 ml dipanaskan pada sushu 40o C.
Kemudian
ditambahan 20 ml asam asetat glasial sambil diaduk
Diperas
dengan kain muslin
Endapan
kasein disuspensikan 50 ml etanol 95 %
Diulangi
lagi dengan menggunakan 50 ml larutan etanol : eter = 1 :1
Dicuci
dengan eter sebanyak 50 ml
Endapan
dipindahkan diatas gelas arloji.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
4.1.1 Uji Protein dengan Reaksi Biuret
|
Banyak tetes
CuSo4
|
Ayam
|
Itik
|
||
|
1 : 15
|
1 :25
|
1 : 15
|
1 : 25
|
|
|
1
|
√
|
√
|
√
|
√
|
|
2
|
√
|
√
|
√√
|
√
|
|
3
|
√
|
√√
|
√√√
|
√√
|
|
4
|
√√
|
√√√
|
|
|
Keterangan :
√ tidak ada
√√ sedikit warna
√√√ warna jelas
4.1.2
isolasi Kasein dari Susu
|
No
|
Perlakuan
|
Perubahan
yang Terjadi
|
|
1.
|
Susu
dipanaskan 40o C
|
Warna
putih, bau segar susu sapi
|
|
2.
|
Diberi
asam asetat
|
Warna
cream, bau asam, terjadi penggumpalan
|
|
3.
|
Dicuci
alcohol 25 ml
|
Gumpalan
terurai, warna lebih putih
|
|
4.
|
Diberi
etanol : eter = 1 :1
|
Gumpalan
lebih terurai, keras warna putih
|
|
5.
|
Diberi
eter 25 ml
|
Terurai
lebih kecil dank eras butirannya, warna semakin putih
|
|
6.
|
Diangin
- anginkan
|
Kering,
warna agak kuning
|
4.2
Pembahasan
Langkah
praktikum protein dengan uji biuret hal pertama yang dilakukan yakni empat buah
tabung reaksi berisi larutan protein putih telur ayam dan itik. Masing – masing
mempunyai perbandingan larutan 1 : 15 dan 1 : 25. Setelah itu ditambahakan 1 ml
larutan NaOH 2,5 N pada masing – masing larutan. Langkah terakhir yakni
menambahkan beberapa tetes larutan CuSO4 0,01 N sampai terbentuk
warna ungu atau violet pada masing – masing larutan tersebut. Langkah praktikum
ini telah sesuai dengan pendapat Andayani (2011), bahwa dalam reaksi biuret
suatu sampel ditambahkan larutan NaOH, kemudian CuSO4 beberapa tetes
hingga timbul warna ungu.
Perbandingan
1 : 15 dan 1 : 25 dimaksudkan bahwa
pengenceran pada putih telur sebanyak 1 ml, sedangkan aquadesnya 15 ml dan 25
ml. sedangkan penambahan NaOH pada protein telur agar bersifat basa. Menurut
Slamet (2011), bahwa jika protein didihkan dengan asam kuat atau basa kuat yang
pekat, molekulnya akan terhidrolisis menjadi molekul asam amino. Oleh sebab itu
kemungkinan penambahan NaOH agar protein terurai menjadi asam amino. Sedangkan
penambahan CuSO4 berfungsi sebagai uji positif terhadap ikatan peptide, jika
terbentuk warna ungu berarti sampel tersebut mengandung protein (Slamet, 2011).
Hasil
percobaan menunjukkan bahwa protein telur ayam baru menunjukkan perubahan warna
violet pada tetesan keempat CuSO4. Sedangkan pada protein telur itik
dengan penambahan tiga tetes saja warna violet usdah tampak. Hal tersebut
mengindikasikan bahwa kandungan protein pada telur itik lebih tinggi daripada
protein telur ayam. Secara umum telur mengandung kuning telur kira 0 kira 30 %,
putih telur atau albumin 60 %, kerabang 10 %. Albumin mengandung 88 % air, 11 %
protein, dan 1 % karbohidrat, sedangkan kuning telur yang bertindak sebagai
cadangan makanan mengandung 48 % air, 17 % protein, 33 % lemak, 1 % karbohidrat
dan abu (Tillman, 1986).
Menurut
Rahmawati (2006), sruktur telur itik dianggap sama dengan telur ayam, tetapi
kuning telur itik 7 % lebih banyak dan putih telur itik 5 % lebih sedikit dari
telur ayam. Komposisi kimia putih telur itik yaitu air 87, 9 %, protein 11, 5
%, lemak 0,03 %, karbohidrat 0,9 %. Sedangkan pada ayam mengandung air 86, 8 %,
protein 12,4 %, lemak 0,08 % dan karbohidrat 1,0 %.
Praktikum
isolasi kasein dari air susu pertama yang dilakukan yakni memanaskan susu pada
sushu 40 o C. Susu berwarna putih dan baunya masih segar. Setelah
itu susu ditambahkan 20 ml asam asetat glasial maka kasein dan whey akan
terpisah. Teknik tersebut sesuai dengan pendapat Copriyadi (2008), bahwa kasein
dapat dipisahkan dari whey dengan cara pengendpan pada pH 4,6 dan pemanasan
pada suhu 40 o C.
Menurut
Copriyadi (2008), susu sapi nengandung protein yang terdiri atas 80 % kasein
dan 20 % whey. Kasein adalah protein terbanyak yang terdapat dalam air susu
yaitu menyusun 78 % dari nitrogen air susu (Tillman, 1986). Teknik pemisahan
selanjutnya yakni gumpalan kasein dicuci dengan alcohol 25 ml, fungsi alkohol
ini sebagai pelarut lemak yang ada pada susu tersebut. Warna lebih putih dan
gumpalan terurai setelah dicuci dengan alcohol tersebut. Agar bahan – bahan
organic juga ikut terlarut maka gumpalan tadi diberi etanol : eter = 1 : 1
sehingga warnanya semakin putih, begitu pula gumpalannya keras dan terurai
kecil – kecil. Kemudian ditambahakn lagi sebanyak 25 ml eter agar sisa – sisa
bahan organic terangkat. Setelah itu di angin – anginkan agar bau eter hilang.
V. PENUTUP
5.1
Kesimpulan
5.1.1 Larutan protein putih telur itik dan ayam
setelah diuji biuret menunjukkan hasil positif mengandung protein dengan
terbentuknya warna violet setelah ditetesi dengan larutan CuSO4.
5.1.2 Isolasi kasein dari air susu memalui beberapa
tahapan untuk mendapatkan protein murni. Pertama yakni susu dipanaskan pada
suhu 40 O C, kemudian diberi larutan asam asetat glasial. Setelah itu
dicuci dengan alcohol 25 ml, etanol : eter = 1:1 dan eter, tahap terakhir baru
diangin – anginkan atau bias juga di oven.
5.2
Saran
5.2.1
Perlu ketelitian saat menambahkan CuSO4 kedalam tabung reaksi yang
berisi larutan protein agar larutan CuSO4 benar – benar menetas dan
bercampur pada larutan protein dan tidak menempel pada dinding tabung reaksi.
DAFTAR
PUSTAKA
Andayani, Regina.2011. “Pengaruh Lama
Penyimpanan pada Suhu Kamar dan Lemari Pendingin terhadap Kandungan Protein
pada Dadih Kerbau dengan Metode Kjeldahl”.Scientia
Vol.1No.1.
Copriyadi, Jimmi.2008.”IsolasinKarakterisasi
dan Pengaruh Kadar Laktoalbumin Susu Sapi Fries Holdstein dengan Metode Lowry”.Jurnal Natur Indonesia 13 (2).
Page, David S.1989.Prinsip – prinsip Biokimia.Jakarta :
Erlangga.
Rahmawati, Ana.2006.”Daya dan
kestabilan Buih Putih Telur Itik Tegal pada Umur Telur dan Taraf Penambahan
Asam Sitrat yang Berbeda”, Skripsi,
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Saleh, Eniza.2004.”Dasar Pengolahan
Susu dan Hasil Ikutan Ternak”.Digized by
USU digital Library.
Slamet.2011.Modul Kimia.Surakarta :Hayati Tumbuh
Subur.
Tillman, Allen D.1986.Ilmu Makanan TErnak Dasar.Yogyakarta :
Gadjah Mada University Press.
terimakasih sudah berkunjung, berikan komentarmu
semoga bermanfat ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar